
Zee langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan Ken. Bisa-bisanya daddynya itu mengatakan hal seperti itu. Zee kan jadi semakin kepikiran, eh.
"Apaan sih, Dad." Zee mencebikkan bibir sambil mengambil alih bola basket yang sempat dimainkan sebentar oleh daddynya itu.
"Aku hanya ngomong kenyataan, Zee. Coba deh, nanti kamu pikir-pikir dulu. Bicarakan juga sama Kia. Pikirkan baik-baik konsekuensi apapun dari keputusan yang kalian sepakati nanti."
"Iya, Dad."
Zee menyetujui saran sang daddy. Setidaknya, dia perlu memikirkan baik-baik keputusannya itu. Zee kembali berpikir, akan sangat tidak adil bagi Kiara jika dia akan langsung lanjut S2. Kiara pasti akan memilih untuk menunda kuliahnya karena berpikir jika Gen akan kurang memiliki waktu dengan orang tuanya.
Setelah itu, Zee dan Ken kembali melanjutkan permainan. Olahraga basket yang memang sering mereka lakukan setiap weekend tersebut, cukup efektif untuk tetap menjaga tubuh mereka agar tetap aktif bergerak.
Saat keduanya tengah bermain, tiba-tiba terdengar sebuah sapaan dari seseorang. Sontak saja Zee dan juga Ken menghentikan permainan mereka dan berbalik ke arah sumber suara.
Kening Ken berkerut saat melihat seorang perempuan berdiri tak jauh dari mereka sambil membawa tempat makanan. Zee yang melihat kedatangan perempuan tersebut, hanya bisa mendengus kesal.
__ADS_1
"Siapa ya?" tanya Ken. Pasalnya, dia merasa belum pernah bertemu dengan perempuan tersebut.
"Oh, perkenalkan. Saya Rachel, Om. Tetangga baru," ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Ken.
Ya, perempuan yang baru saja menyapa mereka adalah Rachel, tetangga baru Zee yang beberapa hari lalu sempat berkunjung ke rumah mereka.
Tanpa curiga, Ken langsung membalas uluran tangan Rachel. Zee yang melihat hal itu, hanya diam tanpa ekspresi. Dia justru kembali melakukan jump shoot. Ken yang memperhatikan tingkah Zee, langsung mengerti. Tanpa diberitahu pun, Ken sudah bisa mengerti jika Rachel adalah sejenis 'ngket-ngket' yang bisa juga mengancam eksistensinya di dalam kamar.
"Ada perlu apa, ya?" tanya Ken dengan malas. Meskipun dia tidak terlalu menanggapi kedatangan Rachel, namun tidak mungkin jika Ken tetap diam tanpa memberikan respons.
"Oh, ini, Om. Saya membawakan makanan untuk Zee," jawab Rachel dengan semangat empat lima. Dia menunjukkan box makanan yang dibawanya dengan cara mengangkatnya. Tak lupa juga, sebuah senyuman ditebarkannya dengan maksud dua laki-laki di depannya tersebut akan klepek-klepek. 🙄
Rachel mengangguk-anggukkan kepala dengan antusias.Â
"Iya, Om. Aku sudah menyiapkan makanan ini untuk Zee. Kalau Om mau, Om juga bisa mencicipinya. Makanan ini dijamin lezat. Aku yakin Om dan Zee pasti belum pernah mencoba makanan seperti ini." Rachel semakin bersemangat.
__ADS_1
"Eh, memangnya itu makanan apa yang belum pernah kami makan?" Ken mengerutkan kening sambil menatap box makanan yang dibawa Rachel.
"Silahkan dicicipi, Om. Aku yakin, kalian pasti belum pernah mencobanya. Kalian juga pasti akan menyukainya nanti." Lagi-lagi Rachel semakin bersemangat.
"Ada sih, makanan yang belum pernah kami makan. Itu makanan yang tidak dihalalkan dalam agama kami. Apa kamu memberi kami makanan yang tidak halal?"
"Hhee?"
\=\=\=
Yang belum mampir ke cerita othor, cuss kepoin ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di semua cerita othor. 🤗
"Tetangga Kamar"
Bagaimana jadinya, hubungan yang semula adalah sebagai sekretaris dan atasan, harus berubah status menjadi suami dan istri?
__ADS_1
Hal itulah yang terjadi antara Nayra Anindita dan Rainer Reksa Hutama. Nayra yang merupakan seorang sekretaris yang merangkap sebagai asisten pribadi Rainer, dipaksa menandatangani kontrak yang ditawarkan oleh sang atasan.
Tawaran apa yang diberikan Rainer kepada Nayra? Akankah Nayra menyetujui tawaran yang diberikan oleh Rainer? Keseruan apa yang akan mereka hadapi kedepannya?