Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 274 - Surabaya


__ADS_3

Ketiga orang yang tengah mengobrol tersebut langsung menoleh saat mendengar sebuah suara benda jatuh. Mereka mendapati Kiara tengah berjongkok sambil mengambil nampan kosong yang sempat dibawanya tadi.


"Ada apa, Ki?" tanya mama Retta.


Kiara langsung salah tingkah mendapati pertanyaan sang nenek mertua. "Ehm, tidak apa-apa, Ma. Tadi tangan Kia licin. Ini nampannya masih basah bekas dicuci belum dikeringkan," jawab Kiara sambil tersenyum nyengir. Dia terpaksa berbohong kepada mama Retta. Tidak mungkin Kiara menjawab jika dia mendengar ucapan absurd papa Vanno.


"Yasudah. Lain kali hati-hati."


"Iya, Ma."


Setelah itu, Kiara langsung beranjak menuju dapur. Dia kembali membantu para asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam.


Malam itu, Zee dan Kiara bersiap-siap untuk pergi ke Jawa Timur esok hari. Mereka akan melakukan ziarah sebelum datangnya bulan Ramadhan. Tentu saja Gen akan ikut dengan orang tuanya.


Keesokan hari, Zee, Kiara serta Gen sudah bertolak ke Surabaya dengan penerbangan pagi. Meskipun masih mengantuk, Gen terlihat sangat antusias saat akan naik pesawat. 


Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Zee beserta anak dan istrinya sudah mendarat dengan selamat di bandara Juanda. Mereka langsung dijemput oleh sopir keluarga yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Mi, au mimim cikit," ucap Gen yang sudah mulai menarik-narik baju Kiara. Gen yang sudah sejak tadi duduk dipangkuan Kiara, langsung berbalik dan mulai mencari sumber nutrisinya tersebut.

__ADS_1


Kiara dan Zee langsung panik. Bukan apa-apa, saat itu mereka tengah berada di dalam mobil dengan Pak Agus sebagai sopirnya.


"Eh, mimi Gen masih lho tadi. Pakai botol ya," bujuk Kiara.


"Indak au. Au mimim enting." Zee tetap kekeh tidak mau.


Zee yang duduk di samping Pak Agus, langsung memberikan selimut kepada Kiara. Beruntung selimut Zee ada di atas pangkuan Zee. Hingga beberapa saat kemudian, Kiara segera memberikan asupan nutrisi untuk Gen dengan ditutupi oleh selimut tersebut.


Tak sampai satu jam kemudian, mobil yang membawa Zee beserta anak dan istrinya sudah sampai di rumah keluarga Geraldy. Biasanya, rumah itu akan mereka gunakan jika ada yang berkunjung ke Surabaya.


Zee membantu Kiara untuk turun dari mobil. Gen yang saat itu sudah kembali terlelap, langsung diambil alih oleh Zee dan dibawa masuk menuju rumah. Sementara barang-barang bawaan mereka, masih dikeluarkan oleh Pak Agus.


"Dilihat saja kondisinya nanti. Takutnya Gen kecapekan."


Kiara hanya bisa menganggukkan kepala. Dia kembali berjalan mengikuti Zee menuju kamar. Siang itu, Gen sudah terlihat bangun dari tidurnya. Dia juga sudah berganti baju dengan baju santai. Gen bermain-main dengan mbak Fitri dan Bu Yah, sang asisten rumah tangga yang memang ditugaskan untuk menjaga rumah tersebut.


"Mas, sepertinya nanti bakalan hujan. Di luar sudah mendung begitu," ucap Kiara sambil meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Zee.


Zee yang saat itu sedang memainkan ponselnya, langsung menoleh ke arah jendela. "Sepertinya benar, Yang. Kita berangkat besok pagi saja, ya."

__ADS_1


"Iya. Lebih baik begitu daripada kehujanan di jalan. Kasihan Gen."


Malam itu, mereka menginap di rumah keluarga Geraldy yang berada di Surabaya. Zee memutuskan untuk berziarah ke makam keluarga Kiara esok hari.


Saat ini, Gen sedang bermain-main di atas perut Zee sambil tertawa-tawa. Kiara yang melihat hal itu hanya bisa mendesahkan napas berat.


"Gen, Sayang, ayo bobok dulu. Sudah jam delapan lewat nih, bobok dulu, yuk." Kiara sudah membujuk Gen untuk tidur sejak tadi. Namun, balita tersebut masih asyik bermain.


Dan, lagi-lagi Gen tidak menggubris ucapan sang mommy. Tidak ada pilihan lain yang dapat Kiara lakukan selain senjata andalannya. Kiara segera melepaskan kancing bajunya dan menunjukkan pabrik nutrisi alami Gen.


Setelah itu, Kiara memanggil sang putra yang tengah tertawa-tawa di atas perut Zee tersebut.


"Gen, nyen-nyen."


Seketika dua orang laki-laki yang berbeda generasi tersebut langsung menoleh. Sebuah senyuman terbit pada bibir keduanya. 


Eh, Zee ngapain ikut senyum?


Adakah kelakuan para bapak yang begini? 🤧

__ADS_1


__ADS_2