Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 45


__ADS_3

Menjelang siang, Ken dan Dino sudah sampai di kantor dinas pariwisata. Mereka langsung disambut oleh Pak Wisnu, petugas yang menghubungi Dino beberapa hari yang lalu.


"Selamat datang Pak Keenan Alexander," ucap Pak Wisnu sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat siang, Pak Wisnu." Ken membalas jabat tangan pak Wisnu. 


Hal yang sama juga dilakukan oleh Dino. Mereka saling berjabat tangan dan menanyakan kabar.


"Pertemuannya dijadwalkan setelah makan siang. Apakah tidak apa-apa jika harus menunggu, Pak?" tanya Pak Wisnu sambil mengiringi langkah kaki Ken.


Ken melirik jam tangannya sebentar. Saat ini, sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Berarti, masih sekitar dua jam lagi mereka akan mulai. Ken menoleh menatap ke arah Dino.


"Henry sudah datang?"


"Sudah, Pak. Sekarang sudah ada di dalam."

__ADS_1


"Mereka sudah makan siang?" Kali ini Ken menoleh ke arah Pak Wisnu.


"Belum, Pak. Tapi, kami sudah menyiapkan makan siang untuk seluruh tamu hari ini."


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Terima kasih, Pak. Tapi sebaiknya kami makan siang di luar saja dulu. Kami akan kembali sebelum rapat dimulai."


Pak Wisnu tidak bisa menahan keinginan Ken. Dia segera mengangguk mengiyakan perkataan Ken. Setelah itu, Ken meminta Dino untuk memberitahu seluruh team pengacaranya menuju sebuah restoran, yang letaknya tak jauh dari kantor dinas pariwisata tersebut.


Tak berapa lama kemudian, Henry dan timnya yang terdiri dari empat orang lainnya, sudah berada di restoran yang dimaksud Ken. Mereka makan siang bersama sambil membahas apa yang harus dilakukan.


Setelah acara pembukaan, dimulailah diskusi tersebut. Ken dan timnya masih mendengarkan beberapa argumen yang disampaikan oleh pihak yang bersengketa dengan GC tersebut.


"Pak Ilham, Anda kan orang mengerti. Mengapa membiarkan pembangunan resort di daerah kami. Apa pemerintah tidak memikirkan dampaknya pada penduduk sekitar? Mereka akan bekerja apa jika tanah yang biasa mereka garap dijadikan tempat wisata?" kata seorang laki-laki dengan menggebu-gebu.


Pak Ilham, selaku petugas yang menjadi mediator pertemuan tersebut tampak menatap ke arah Ken. Terlihat dia sedikit merasa kikuk saat itu.

__ADS_1


"Pak Ilham, jangan mentang-mentang mereka ini orang kaya, bisa seenaknya membuat tempat wisata di daerah kami. Kami keberatan, Pak. Kami juga tidak mau jalanan di daerah kami menjadi semakin rusak dengan banyaknya para wisatawan yang datang berkunjung," ucap laki-laki yang lainnya. Mereka terlihat sekali seperti sudah menghafalkan skenario yang sudah dipersiapkan.


Kini, Pak Ilham pun bersuara. "Sebentar Bapak-bapak sekalian, mohon jangan langsung menuduh dulu. Kita bicarakan ini baik-baik. Dari awalnya, sebenarnya permasalahannya seperti apa, kami akan mendengarkan semua keluh kesah Bapak-bapak sekalian. Setelah itu, kami akan memberikan kesempatan kepada Pak Keenan dan tim untuk menjelaskan bagian mereka."


"Jadi, mohon kita tenang dulu dan mulai dari awal lagi, nggih? Mosok langsung jujug an ndak enek awale ngene, aku rakyo ndak ngerti, hehehe. (Masa iya langsung tiba-tiba tidak ada permulaan seperti ini, aku kan tidak paham)" ucap laki-laki paruh baya tersebut diselingi dengan gurauannya.


Tampak para bapak yang berada di sana saling pandang. Mereka terlihat memainkan mata untuk menentukan siapa yang berbicara terlebih dahulu. Hingga sebuah suara membuka pembicaraan tersebut.


"Baiklah, saya akan berbicara terlebih dahulu."


Semua pasang mata menatap ke arah laki-laki tersebut. Hingga saat itu, Ken baru menyadari siapa laki-laki yang tengah berbicara tersebut.


"Kena kau," gumam Ken.


\=\=\=\=

__ADS_1


Satu-satu dulu ya, bantu kasih komen dan like juga dong buat Zee. 🤧


__ADS_2