
Mohon maaf, bagi yang merasa cerita ini sudah ada di sebelah, othor minta maaf. Kembali lagi, di sebelah memang hanya spoiler. Untuk versi lengkapnya ya di sini ini. Masa iya dipotong? Nanti kalau nggak nyambung, othor diprotes lagi.
Mengsyedih nih jadinya 🤧🤧
Jika kurang berkenan, bisa di skip ya.
***
Hari itu, Mommy Retta dan Daddy Vanno pergi makan siang bersama. Sesekali, Zee tampak bertanya tentang ini itu saat melihat sesuatu yang menurutnya masih asing. Seperti saat ini, Zee tengah berada di dalam gendongan daddy Vanno. Sementara mommy Retta berjalan disamping daddy.
"Obin bang?" celoteh Zee sambil bergerak-gerak bahagia. Pandangan matanya menatap sebuah baliho besar dengan gambar mobil di dalamnya.
"Eh, kok Bang, sih. Panggil Papa." Daddy Vanno yang belum mengerti maksud Zee langsung protes.
"Obin bang!" Zee semakin berteriak histeris.
"Papa, Zee. Bukan abang."
Mommy Retta yang sudah paham dengan maksud sang cucu pun langsung menghentikan langkah daddy Vanno. Dia memutar kepala daddy Vanno hingga menghadap baliho besar tersebut.
"Bukan Abang, Mas. Tapi terbang." Mommy Retta menjelaskan kepada daddy Vanno.
Daddy Vanno yang mengetahui hal tersebut langsung mengangguk-anggukkan kepala. Dia menoleh ke arah Zee. "Zee mau mobil?"
"Jaaa!" Teriak Zee penuh semangat.
"Baiklah. Ayo kita cari mobil. Let's go!"
"Tooooo!" jawab Zee sambil mengepalkan tangannya ke atas.
Mommy Retta hanya bisa pasrah dengan tingkah laku kedua laki-laki beda generasi tersebut. Namun, mommy Retta langsung mengerutkan kening saat menyadari daddy Vanno memasuki sebuah showroom mobil. Dan, jangan kaget jika itu adalah showroom mobil milik GC.
__ADS_1
"Eh, ngapain kesini, Mas?" Mommy Retta masih mengekori daddy Vanno.
"Cari mobil buat Zee."
Sontak saja mommy Retta membulatkan kedua mata dan mulutnya. Dia benar-benar geram dengan tingkah sang suami. "Astaga, Mas. Jika Zee mau mobil, dia juga maunya mobil mainan. Bukan mobil beneran, Mas."
"Zee sudah bosan dengan main-main, Yang. Maunya yang seriusan." Daddy Vanno masih sempat-sempatnya menoleh ke arah mommy Retta sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Cckk, kamu ini ngomong apa sih, Mas. Nggak usah macam-macam, deh."
"Iya, iya, Yang. Kamu kan tau mauku hanya satu macam." Daddy Vanno masih melanjutkan langkahnya menuju ruangan manager tersebut.
Mommy Retta hanya bisa pasrah melihat tingkah sang suami. Hingga beberapa saat kemudian, mobil baru Zee sedang disiapkan. Mommy Retta tidak bisa menahan sang suami untuk memberikan sang cucu mobil seharga setengah milyar tersebut. Bagi daddy Vanno, uang dan harta tidak jadi masalah. Asalkan sang cucu bahagia.
"Itu mobil mau buat apa, Mas?" Mommy Retta masih menggerutu meskipun mereka sudah berada di dalam mobil untuk pergi ke rumah orang tua daddy Vanno. Zee juga sudah terlelap di dalam pangkuannya.
Daddy Vanno hanya bisa menghembuskan napas berat saat mendengar sang istri masih menggerutu. "Ya buat Zee lah, Yang. Buat aktivitasnya juga."
"Iya, iya, Yang. Maaf. Nanti biar dibawa Khanza saja."
"Mana mau anak kamu itu. Dia saja sudah punya dua mobil."
Daddy Vanno hanya bisa mengiyakan apapun perkataan sang istri.
***
Sementara di rumah, Ken dan Gitta terlibat baru saja tiba dari kampus. Ken langsung menjemput Gitta setelah pulang dari kantor tadi. Saat hendak memasuki rumah, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan rumah Ken. Ken dan Gitta langsung saling pandang.
"Selamat sore Mas Ken," sapa seorang laki-laki paruh baya.
"Lho, Pak Din? Selamat sore. Tumben kemari, ada apa?" Ken berjalan menghampiri Pak Din.
__ADS_1
"Oh, ini saya mengantarkan pesanan, Pak Vanno."
"Daddy? Pesanan apa?" Ken terlihat bingung.
"Mobil, Mas."
"Mobil? Papa ambil mobil?"
"Iya, Mas. Sebenarnya, bukan Pak Vanno. Tapi putra Anda tadi yang minta." Pak Din tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Zee?"
"Iya, Mas."
Ken dan Gitta saling pandang. Mereka masih belum mempercayai apa yang baru saja di dengarnya. "Yang, sepertinya kita harus siap-siap, deh."
"Maksudnya, Mas?" Gitta masih bingung.
"Zee pasti melihat mobil seperti ini dan jadi ingin punya juga. Jangan-jangan nanti jika dia melihat anak kecil, dia juga akan minta adik." Ken berkata dengan entengnya.
Gitta hanya bisa melongo mendengar perkataan sang suami. "Alah embuh, Mas. Gae o dewe ae. (Buat saja sendiri)" jawab Gitta sambil beranjak memasuki rumah.
"Eh, mana bisa, Yang. Di adu karo opo? (Lawannya apa?)" Ken sedikit berteriak.
"Bikang."
"Emoh, Yang. Nyleprok."
Pak Din yang mendengar hal itu hanya bisa mengelus dada. Bisa-bisanya dia mendengar percakapan absurd pasangan suami-istri ajaib ini.
\=\=\=
__ADS_1
Bisa di skip ya jika kurang berkenan 🙏