
"Dia cakep bukan hanya karena Mommynya, tapi juga karena Daddynya tak kalah cakep." Ken tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
Gitta, Zee dan laki-laki tersebut serentak menoleh ke arah Ken. Zee yang melihat kedatangan sang daddy pun langsung menyunggingkan senyumannya. Dia buru-buru berjalan ke arah sang daddy dan merentangkan kedua tangannya untuk minta gendong. Ken yang sudah paham pun langsung meraup Zee ke dalam gendongannya.
Hap.
"Tedi tenapa yama? (Daddy kenapa lama?)" tanya Zee sambil memeluk leher sang daddy.
"Maaf, Sayang. Tadi jalanan macet." Ken masih menciumi pipi gembul sang putra.
Laki-laki yang tadi sempat menghampiri Zee dan juga Gitta, tampak mengerutkan keningnya saat menatap wajah Ken. Namun, sesaat kemudian, dia mendekat dan menyapa Ken.
"Apakah kamu Keenan Alexander?" tanya laki-laki tersebut saat sudah berada di depan Ken yang tengah menggendong Zee.
Ken menghentikan aktivitasnya menciumi pipi gembul sang putra. Dia menoleh ke arah laki-laki yang tengah berada di depannya tersebut.
"Iya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Laki-laki tersebut menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Tidak. Kita belum pernah bertemu sebelum ini. Tapi, aku pernah melihatmu beberapa kali."
Kening Ken berkerut. "Benarkah?"
Laki-laki itu menganggukkan kepala sekilas sebelum menoleh ke arah Gitta sambil tersenyum. "Aku permisi dulu," ujarnya laki-laki tersebut sambil berbalik. Dia sempat menatap Ken sekilas dan menganggukkan kepala. Setelah itu, dia benar-benar pergi dan berbelok di antara beberapa rak bahan makanan.
Ken menoleh ke arah Gitta dengan tataoan tajamnya. Menyadari jika sang suami pasti akan berceramah, Gitta buru-buru menyela.
__ADS_1
"Aku tidak kenal laki-laki itu, Mas. Dia tadi hanya kebetulan berada di sini dan menghampiri kami."
Ken masih tidak percaya dengan jawaban sang istri. Tatapan matanya masih tajam menatap ke arah Gitta.
Gitta hanya bisa mendesahkan napas ke udara melihat tingkah bayi besarnya tersebut. Gitta mengambil alih Zee dan mengajaknya melanjutkan belanja tanpa mempedulikan Ken yang tengah berada pada mode 'anyel' on.
"Ayo, Sayang kita belanja lagi. Setelah ini, kita beli ikan. Okay?"
"Ote!"
Zee tampak bersemangat mengekori sang mommy. Sementara Ken yang merasa diabaikan oleh Gitta, lagi-lagi hanya bisa mengekori Gitta dan juga Zee.
Tak berapa lama kemudian, Gitta sudah menyelesaikan belanjanya. Dia segera beranjak menuju kasir sementara Zee tengah berada di dalam gendongan Ken. Setelah membayar barang belanjaannya, Gitta, Ken dan Zee segera beranjak menuju toko ikan. Mereka akan membeli ikan untuk Zee seperti yang sudah dijanjikan tadi.
Gitta yang melihat sang suami masih kesal pun hanya bisa mendesahkan napas ke udara.
"Masih ngambek?" tanya Gitta sambil menyusui sang putra yang sudah mulai terlelap tersebut.
Ken melirik Gitta sekilas sebelum kembali menatap ke arah depan. Dia tidak menjawab pertanyaan Gitta. Ken hanya mencebikkan bibir sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.
Jika sudah seperti itu, Gitta harus segera bertindak. Beruntung saat itu mobil mereka berhenti pada lampu merah. Zee juga sudah terlelap di pangkuannya. Gitta mencondongkan tubuhnya ke samping dan menarik wajah Ken agar menghadap ke arahnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gitta langsung memberikan penawar kesal untuk sang suami. Dia yakin jika sang suami akan langsung luluh setelah mendapatkan penawarnya.
Cup. Cup. Cup.
__ADS_1
Gitta meninggalkan beberapa kali kecupan pada bibir sang suami. Tidak lama, karena setelah itu, Gitta menjauhkan wajahnya sedikit dari wajah Ken.
"Jangan ngambek lagi. Aku benar-benar tidak mengenal laki-laki itu. Lagian, aku juga tidak berbicara dengannya."
Wajah Ken yang masih berada di dekat wajah Gitta tersebut seolah tidak rela jika Gitta hanya memberikan sedikit penawar rasa kesalnya.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain. Aku cemburu."
Gitta tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Diusapnya pipi kiri Ken dengan lembut. "Tidak ada yang perlu kamu cemburui, Mas. Semua yang ada pada diriku ini, sudah menjadi tawananmu. Kecuali satu, tentunya."
Kedua bola mata Ken langsung membulat. Dia seolah tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh sang istri.
"Apa maksud kamu?"
Gitta menjauhkan tubuhnya dan menunjukkan maksud perkataannya.
"Nih, yang ini masih jadi tawanan putramu," Gitta menunjukkan bibir Zee tengah mengenyot pabrik nutrisinya meski sedang terlelap.
Ken mencebikkan bibirnya. "Kalau itu gampang. Nanti juga berproduksi lagi. Selain itu, aku bisa membuatnya tetap beroperasi meskipun sedang tidak disabotase."
Hhhhh
\=\=\=
Kalau urusan itu mah langsung hilang mode 'anyel' e 🤧
__ADS_1