Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 172


__ADS_3

Gitta hanya bisa mendengus kesal saat mendengar ucapan sang suami. Dia langsung mendelik tajam dan diikuti oleh cengiran khas Ken.


"Hehehe, bercanda, Sayang. Jika keberatan tidak usah juga nggak apa-apa, kok," Ken langsung nyengir sambil tersenyum hangat.


Gitta mencebikkan bibir sambil masih menatap wajah Ken.


"Kamu ini jika sedang sakit, kenapa ada-ada saja sih maunya, Mas?"


"Bukan mengada-ada, Yang. Tuh, lihat sendiri. Dia sudah mulai besar kepala saat kamu pegang-pegang sampingnya. Dia sudah ngarep jika mau diajak duet."


"Alasan saja. Kenapa mulut kamu semakin lama semakin lihai saja jawabnya, Mas?"


"Hehehe, sudah dua puluh tahun dijejali dua mulut jadi licin begini, Yang." Ken benar-benar menguji kesabaran Gitta.


Gitta hanya bisa melongo sambil menggerutu tidak jelas. Malam itu, lagi-lagi Ken kembali berulah. Saat hendak tidur, dia masih saja minta di puk-puk oleh Gitta. Mau tidak mau, Gitta menuruti permintaan sang suami.


"Kamu nggak malu apa bertingkah seperti ini, Mas? Mana sebentar lagi punya cucu lagi. Malu sama cucu juga, Mas." Gitta masih mengomel sambil menepuk-nepuk punggung Ken. Saat ini, Gitta tengah tidur berbaring berhadap-hadapan dengan Ken di atas brankar.


"Cucu juga belum launching, Yang. Lagian, ini juga nggak ada yang lihat. Jadi, aku bisa 'usek-usek' balon tiup kamu," ucap Ken sambil menenggelamkan wajahnya di antara balon tiup sang istri.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Gitta? Tentu saja dia hanya bisa pasrah. Gitta bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun karena belitan tangan Ken. Hingga beberapa saat kemudian, Ken benar-benar terlelap setelah mulutnya lelah karena berusaha dengan keras menggemboskan balon tiup Gitta.


Tak berapa lama kemudian, Gitta ikut terlelap. Mereka baru terbangun menjelang pukul tiga dini hari saat ada perawat yang mengetuk pintu untuk mengganti cairan infus Ken.


Sementara itu, Zee yang memang sudah menyelesaikan meeting dengan beberapa orang pun memilih langsung kembali ke Jakarta. Meeting yang diperkirakan selesai sore tersebut, ternyata harus berakhir pukul sembilan malam. Beruntung semua permasalahan dapat didiskusikan dan diselesaikan dengan baik.


Malam itu juga, Zee dan Johan langsung bergegas ke bandara. Selama meeting tadi, Kiara juga sempat beberapa kali melakukan panggilan video. Tentu saja Zee menerima panggilan tersebut. Kiara merasa sangat bahagia meski hanya melihat wajah Zee tanpa berbicara dengannya.


Zee tiba di rumah menjelang pukul satu dini hari. Tentu saja Kiara sudah terlelap. Dia segera membersihkan diri dan langsung bergabung dengan sang istri untuk beristirahat. 


Kiara bahkan tidak bangun saat Zee menciuminya dan memeluknya dalam tidur. Entah apa yang dilakukannya seharian tadi hingga tidurnya benar-benar sangat nyenyak.


Kiara yang tidak tahu jika Zee di rumah pun langsung menoleh saat melihat sang suami tengah membuka laptop dengan hanya memakai kolor dan kaosnya sejak semalam. Zee bahkan enggan mandi pagi itu.


"Kok belum siap-siap, Mas? Ini sudah jam tujuh, lho." Kiara berjalan mendekati Zee.


"Aku nggak ke kantor, Yang. Aku di rumah hari ini." Zee langsung menarik tubuh Kiara dan menenggelamkan wajahnya pada perut Kiara. Uyel-uyel seperti biasa.


"Kok tumben? Apa tidak apa-apa, Mas?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Yang. Semua sudah berjalan lancar. Kata Daddy, jika semua sudah fix, aku hanya tinggal mengawasi saja." Zee masih uyel-uyel peruk Kiara. Bahkan kini, tangannya sudah mulai memainkan 'boba-boba' alami Kiara yang ditemukannya setelah tangan kanan Zee menelusup masuk ke dalam baju Kiara.


"Eehmmm, Masss. Ada Bi Ani, ih." Kiara berusaha untuk menghindari tangan Zee.


Belum sempat Zee menjawab ucapan Kiara, terdengar suara ponselnya berbunyi. Mau tidak mau, Zee segera menghubungkan panggilan video tersebut setelah mengetahui sang mommy yang menghubunginya.


Begitu panggilan video terhubung, kedua mata Zee langsung membulat dengan sempurna saat melihat sang daddy berada di seberang sana dan tengah berada di atas brankar rumah sakit.


"Dad?"


\=\=\=


Ada yang DM othor, kemarin tanya TCP. Kenapa bab TCP banyak sekali? Kenapa tidak dipisah seperti Mendadak Istri?


Mohon maaf sebelumnya, kenapa bab banyak di TCP karena othor jadikan satu semuanya. Mulai dari kakek hingga cucu. Bahkan, ada dua keluarga juga yang diceritakan.


Jika dipisah, nanti terlalu banyak judul akan membuat othor pusiang. Bagi yang masih belum mampir, cus silahkan kepoin TCP sambil nunggu up Zee. 🤗


__ADS_1


__ADS_2