
Mama Retta benar-benar terkejut saat melihat seorang laki-laki yang berdiri di depannya tersebut. Pasalnya, mereka sudah jarang sekali bertemu. Mungkin, pertemuan terakhir keduanya terjadi sekitar lima tahun yang lalu.
"Pak Andre?" Gumam Mama Retta. Ya, laki-laki tersebut adalah Andre, kakak kelas Retta yang dulu memiliki perasaan terhadapnya sejak duduk di bangku SMA.
Papa Vanno langsung mendorong trolley mendekat ke arah mereka. Meskipun peristiwa tersebut sudah lama, namun dia masih saja merasakan cemburu saat mengingat peristiwa di masa lalu.
"Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Andre sambil mengulas senyuman. Dia menoleh ke arah Papa Vanno sambil mengulurkan tangan. "Apa kabar Pak Vanno?" tanya Andre.
Papa Vanno menjabat tangan tersebut sambil mendesahkan napas kesal. Meskipun begitu, dia masih tetap membalas sapaan laki-laki yang berada di depannya tersebut.
"Baik. Ada urusan apa Anda kembali lagi ke Indonesia?" tanya Papa Vanno sambil melepaskan genggaman tangannya.
Mendengar pertanyaan aneh sang suami, Mama Retta langsung mencubit pinggang suaminya tersebut. Dia benar-benar gemas dengan mulut lemes suaminya.
"Pertanyaan apa itu, Mas? Pak Andre kan asli Indonesia, jadi wajar kan jika dia kembali ke sini?"
__ADS_1
Papa Vanno langsung mencebikkan bibirnya. "Iya, tapi selama ini dia kan menetap di Australia, Yang."
"Ya, meskipun menetap disana, bukan berarti dia tidak bisa kembali ke Indonesia, Mas."
Belum sempat Papa Vanno membalas ucapan sang istri, terdengar suara menengahi perdebatan mereka.
"Sudah, sudah," ucap Andre sambil mengulas senyuman. Dia sudah sangat hafal dengan reaksi Papa Vanno. "Meskipun saya menetap di sana, tapi saya juga masih menjadi warga negara Indonesia. Pekerjaan saya memang di sana, jadi saya lebih memilih menetap di sana daripada harus bolak balik ke Indonesia."
Mama Retta menjadi semakin tidak enak kepada Andre. Dia selalu dibuat kesal karena tingkah suaminya yang kekanak-kanakan.
Andre hanya bisa tersenyum sambil mengulas senyuman.
"Tidak apa-apa. Pak Vanno memang sudah biasa seperti itu jika sedang cemburu, kan?" Andre meledek Vanno yang tengah kesal.
Merasa tersindir, Vanno langsung bersuara. "Sembarangan. Aku tidak cemburu."
__ADS_1
Terdengar kekehan tawa tertahan dari bibir Andre. "Iya, iya. Tidak cemburu, tapi sangat cemburu yang benar."
Papa Vanno semakin kesal karena mendapat ejekan dari Andre. Meskipun benar apa yang dikatakannya, namun Vanno seolah tidak terima. Benar memang usianya sudah menginjak enam puluh satu tahun. Namun, sifat cemburuannya benar-benar enggan pergi.
"Dengar Pak Vanno, aku memang pernah mempunyai perasaan kepada Retta. Tapi, itu dulu sebelum aku mengetahui jika dia sudah menikah. Dan, aku sangat menghormati pernikahan kalian."
"Kita juga sudah mengenal lama. Bahkan, kita juga sudah beberapa kali bekerja sama. Tapi, kenapa Anda masih saja cemburu kepada saya? Apa Anda kurang percaya diri dengan kemampuan Anda?" Andre masih sempat meledek Papa Vanno.
Tentu saja ucapan Andre tersebut membuat Papa Vanno kesal. "Sembarangan. Siapa yang tidak percaya diri? Aku sangat percaya diri. Bahkan, aku yakin bisa melebihi Anda," jawab Papa Vanno pongah.
Andre tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Jika seperti itu, lalu kenapa Anda selalu cemburu kepada saya?"
Lagi-lagi Papa Vanno mendengus kesal mendengar pertanyaan Andre. "Itu karena kamu sudah memmperawani squishy istri saya!"
"Apa?!"
__ADS_1
Tuh kan, tua-tua suka ngadi-ngadi. 🤧