
Hampir semua orang yang berada di ruang persalinan tersebut, tidak menanggapi ucapan Zee. Mereka tengah fokus pada proses persalinan Kiara.
"Ayo, Mbak Kia, dicoba lagi. Atur napas baik-baik. Dan, pada hitungan ketiga aba-aba saya, langsung mengejan."
"Tarik napas, hembuskan. Saya mulai ya, Mbak. Satu, dua, tiga, sekarang!"
"Eughhhh eegghhhhh, Masssss." Kiara mengejan sekuat tenaga sambil mencengkram lengan Zee dengan kuat.
Zee yang juga perintah Dokter Andara untuk menarik napas dan mengejan. Lagi-lagi, Zee harus meringis, saat mendapati cengkraman tangan Kiara terasa sangat kuat pada lengannya.
"Eeuughhh, aduuhhh. Perutku semakin sakit ini." Zee masih terus meringis saat Kiara semakin erat mencengkeramnya.
"Ayo Mbak Kia, sudah hampir kelihatan. Sebentar lagi, Mbak Kia bisa bertemu dengan Dedek. Atur napas, dan ikuti aba-aba saya." Dokter Andara masih terus fokus pada Kiara.
"Dok, sa-saya sudah nggak kuat." Kiara semakin erat mencengkram lengan Zee. Napasnya juga sudah mulai pendek-pendek.
Mendengar ucapan Kiara, Zee langsung panik. Wajahnya semakin pucat dan perutnya semakin mulas.
"Sayang, Sayang. Jangan ngomong seperti itu. Ayo, bertahanlah. Aku yakin kamu bisa."
__ADS_1
Zee tampak semakin panik saat melihat kedua kelopak mata Kiara sudah terpejam. Cengkraman tangan Kiara pada lengan Zee juga semakin mengendur dan tak lama kemudian dia terlepas.
"Dok, bayinya sudah mulai kelihatan," kata seorang perawat yang sedang membantu Dokter Andara.
Mendengar hal itu, Zee langsung beranjak dan berdiri di dekat Dokter Andara. Seketika kedua bola mata dan mulutnya langsung terbuka saat melihat sesuatu yang ada di depannya tersebut. Zee benar-benar tak sanggup melihat hal itu. Kepalanya mendadak pusing. Dan, brukkk. Zee terjatuh dengan posisi terduduk karena lemas.
Dokter Andara yang kaget tiba-tiba langsung berteriak memanggil nama Zee.
"Mas Zee!"
Teriakan Dokter Andara tersebut berhasil membuat kesadaran Kiara kembali. Dia langsung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil mengatur napas kembali. Melihat hal itu, Dokter Andara berusaha memulai lagi instruksinya.
"Sus, bantu Mas Zee berdiri. Mbak Kia, ayo kita mulai kembali. Dedek sudah kelihatan. Ayi sedikit lagi."
Mendengar suara sang istri, Zee buru-buru berpegangan pada tepian brankar dan berusaha berdiri dengan bantuan seorang perawat.
"Sayang, aku disini." Zee langsung menggenggam tangan Kiara dan menghujamnya dengan beberapa kecupan pada kening sang istri.
Entah dapat kekuatan dari mana, Kiara bisa mengikuti instruksi dari Dokter Andara.
__ADS_1
"Sekali lagi, Mbak Kia. Dedek sudah kelihatan. Atur napas, satu, dua, tiga, sekarang!"
"Eeeuughhhhh."
Kiara mengejan sekuat tenaga, hingga suaranya tersebut terkalahkan dengan suara tangis bayi laki-laki yang langsung terdengar.
Melihat sang putra sudah lahir, tubuh Zee terasa lemas. Dia bahkan harus berpegangan pada ujung brankar agar tidak ambruk. Napasnya juga ikut memburu seolah-olah dia juga ikut melahirkan. Rasa sakit dan mulas pada perut Zee langsung hilang setelah putranya berhasil lahir dengan selamat.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah berjuang sejauh ini." Zee tak henti-hentinya memberikan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala Kiara setelahnya.
Kiara yang masih merasa lemas, hanya bisa tersenyum dan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Dia masih berusaha mengatur napas.
Zee tidak mendengar suara-suara yang ada di sekitarnya. Dia sendiri sedang berusaha menjaga kesadaran agar tidak jatuh pingsan setelah melihat sesuatu yang seumur hidup baru dilihatnya pertama kali. Hingga sebuah suara membuat pertahanan Zee langsung gagal.
"Mas Zee, mau memotong tali pusarnya?"
Bruukkk.
\=\=\=
__ADS_1
Mohon maaf, beberapa hari ini kemarin tidak bisa up. 🙏
Diusahakan setelah ini, bisa up normal seperti biasanya. 🙏