
Hari yang ditunggu-tunggu Zee pun tiba. Dia sudah bersiap-siap ke sekolah sejak pagi. Daddy Vanno dan mommy Retta sudah sejak pagi berada di rumah Ken untuk memberikan semangat kepada sang cucu.
"Waahh, cucu Mama sudah cakep mau berangkat sekolah. Sini, Mama cium dulu." Mommy Retta langsung berjongkok untuk memeluk Zee yang sudah siap dengan seragam dan tas sekolah di punggungnya.
Cup. Cup. Cup.
Ciuman bertubi-tubi diberikan mommy Retta pada pipi sang cucu. Sontak saja wajah Zee langsung cemberut. Sejak tadi dia menjadi sasaran kecup-kecup dari orang-orang dewasa.
"Zee sudah besar, Ma. Malu di cium-cium terus," ucap Zee sambil memanyunkan bibirnya.
Tingkah Zee benar-benar membuat keluarganya gemas. Mereka langsung tergelak saat melihat reaksi Zee. Setelah itu, Zee langsung berpamitan kepada kakek dan neneknya. Pagi itu, Zee berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Ken dan Gitta.
"Nanti siapa yang jemput, Mom?" tanya Zee yang saat ini sedang berada di dalam mobil bersama dengan Ken dan Gitta.
"Mommy nanti yang jemput, Sayang. Ada apa?" Gitta yang saat itu berada di samping Ken langsung menoleh ke belakang.
"Nggak ada apa-apa. Zee kan baru pertama kali masuk sekolah, Mom. Jadi masih agak takut." Zee tampak memilin-milin ujung tasnya sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Gitta menoleh ke arah Ken bersamaan. "Kamu mau Mommy temani nanti, Sayang?" tawar Gitta.
Zee menggelengkan kepala dengan cepat. "Nggak mau. Zee malu."
Gitta mengulas senyumannya. "Kenapa harus malu, Sayang? Nggak apa-apa kok jika mau Mommy temani."
Zee menggelengkan kepala. "Nggak mau, Mom."
"Ya sudah jika nggak mau ditemani, Mommy. Nanti Zee tetap akan ditemani Om Kala seperti biasa, kok. Nanti nunggunya di luar sekolah." Ken menjelaskan kepada Zee tentang keberadaan bodyguardnya. Ya, Ken memang mencarikan bodyguard untuk keluarganya. Mereka bekerja tidak secara terang-terangan. Jadi, mereka mengawasi secara ketat dari jauh agar tidak mengganggu privasi.
Zee yang sudah mengenal Kalandra, atau lebih sering dipanggil Kala, merasa sedikit lega. Dia langsung menganggukkan kepala dengan cepat.
Zee berpamitan kepada Ken di dalam mobil sebelum beranjak turun bersama dengan Gitta.
"Belajar yang rajin ya, Boy. Jadilah pemberani, jangan takut lagi. Okay?" Ken mengusak rambut Zee dengan gemas sambil meninggalkan kecupan di pipi Zee dengan cepat.
Zee lagi-lagi cemberut dengan ulah sang daddy. Meskipun begitu, Zee tetap meraih tangan sang daddy dan segera beranjak turun.
Gitta mengantar Zee hingga ke dalam kelas. Dia juga memperkenalkan diri dan menitipkan Zee kepada wali kelasnya. Zee memilih tempat duduk tepat di depan meja guru. Gitta membantu sang putra untuk meletakkan tas sekolahnya. Di sekolah Zee, tidak ada teman sebangku karena meja dan kursinya hanya satu-satu untuk setiap siswa.
__ADS_1
"Sayang, yakin tidak mau Mommy tungguin?" Gitta masih berjongkok di samping Zee.
"No, Mom." Zee menggelengkan kepala dengan cepat.
Gitta tersenyum melihatnya. "Baiklah kalau begitu. Mommy tinggal dulu, ya. Nanti siang Mommy yang akan jemput Zee. Okay?"
"Okay, Mom." Zee langsung menganggukkan kepala. Namun, dia langsung menggeleng saat melihat wajah mommynya mendekat. "Tidak ada cium-cium, Mom. Aku malu."
Gitta langsung tergelak mendengar penolakan sang putra. Dia benar-benar merasa gemas setelah melihat wajah frustasi Zee. Gitta mengurungkan niatnya untuk memberikan ciuman kepada Zee. Dia hanya mengusak rambut Zee sekilas sebelum beranjak pergi.
Pagi itu, dia cukup tenang meninggalkan Zee di sekolah. Gitta segera berangkat menuju butik bersama dengan Ken.
"Mas, ehmm, sepertinya Ken sudah seharusnya punya adik, nih." Gitta masih berusaha untuk membujuk Ken.
Ken yang sedang menyetir pun menoleh ke arah Gitta. Bisa langsung dipastikan, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan dengan apa yang disampaikan oleh Gitta.
"Kamu tahu persis aku tidak akan mengizinkannya, Git."
Glek.
__ADS_1
Lagi-lagi Gitta merasa tidak enak hati saat mendengar sang suami langsung memanggil namanya. Sepertinya, memang dia harus mengubur keinginannya untuk mengandung lagi.