Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 261 - Pasangan Wajar


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban dari Ken, Fika langsung pamit undur diri. Saat itu, ekspresi wajahnya terlihat datar karena kesal. Dia merasa kesal karena Ken tidak memberikan bantuan kepada sang putri. 


"Dia sering kemari?" tanya Ken saat Fika sudah keluar dari ruangan Gitta.


"Lumayan sih, Mas. Sebenarnya, bukan hanya baju-baju pribadi miliknya yang dipesan. Dia lebih sering memesan kan untuk atasannya."


"Atasannya? Maksudnya?" Ken menoleh ke arah Gitta dengan kening berkerut.


"Bu Fika itu bekerja di sebuah instansi pemerintahan. Biasanya, beliau sering datang kemari untuk memesan bajunya sendiri, atau sekalian baju untuk atasannya."


Ken hanya mengangguk-anggukkan kepala. Saat itu, fokus Ken langsung tertuju pada Gen yang berada pada pangkuan Gitta. Gen sedang mengenyot botol susunya sambil tangan kanannya memainkan balon tiup sang nenek. Meg meg, tarik, meg meg, tarik.


Glek


Glek


Glek


Ken rasanya ingin berubah jadi bayi ketika melihat hal itu. Sebenarnya, Gen sudah biasa melakukan hal itu jika sedang minum susu botol. Dia lebih suka dipangku sambil sedikit rebahan.

__ADS_1


Gitta menepuk-nepuk pinggang Zee saat menyadari cucunya tersebut sudah mulai mengantuk. Hingga beberapa saat kemudian, Gen benar-benar terlelap. Gitta menoleh ke arah Ken yang ternyata sedang memperhatikannya juga.


"Ada apa, Mas?" tanya Gitta.


"Itu, Gen sudah bobok, Yang." Ken menjawab sambil masih menatap tangan sang cucu yang tentu saja masih nangkring pada balon tiup sang istri.


"Iya. Sepertinya dia benar-benar mengantuk. Kamu pergi sendiri saja ya, Mas. Biar Gen tidur disini."


"Tidak mau!" Ken langsung mendelik tajam. Tentu saja dia tidak akan mau pergi sendiri.


Kening Gitta langsung berkerut saat menatap tajam wajah sang suami.


"Iya. Tapi aku nggak mau pergi sendiri." Ken langsung berjalan mendekati sang istri.


Hhhh. Gitta hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Jika sudah seperti itu, bisa dipastikan Ken akan terus menolak. Kening Gitta berkerut saat Ken menunduk di depannya.


"Mau apa?" tanya Gitta bingung.


"Gen kan sudah bobok. Sekarang, gantian aku yang diboboin. Aku juga mau ikutan uyel-uyel balon tiup, Yang. Gen nyenyak sekali tidurnya sambil uyel-uyel ini tadi," ucap Ken sambil memindahkan tangan sang cucu.

__ADS_1


"Astaga, Mas! Bisa-bisanya kamu masih suka iri sama cucu. Gantian kenapa sih?!" Gitta langsung mendengus kesal.


"Ini sudah gantian, Yang. Gen kan sudah bobok. Sekarang, gantian boboin seniornya. Kali ini, aku nggak mau minum susu dari botol. Tapi, langsung dari pabriknya." Ken menyunggingkan senyuman sambil menaik turunkan alisnya.


Belum sempat Gitta menjawab, tiba-tiba terdengar sebuah buku jatuh. Sontak saja hal itu membuat Ken dan Gitta langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat Siska sedang berdiri di sana dengan wajah merah karena malu. Rupanya, dia mendengar obrolan aneh dari atasannya tersebut.


"Eh, ma-maad, Bu. Sa-saya permisi dulu. Laporannya besok saja. Permisi." Siska langsung buru-buru mengambil buku laporannya dan bergegas keluar ruangan. Tak lupa juga dia langsung menutup pintu.


"Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa kamu bisa ceroboh begitu sih, Sis? Sudah tahu Bu Gitta dan Pak Ken bukan seperti pasangan umumnya, kenapa masih nekad masuk ruangan begitu melihat pintu terbuka, ish." Siska menggerutu sendiri sambil berjalan menuju lantai bawah.


Sementara di dalam ruangan Gitta, dia menatap tajam ke arah Ken yang masih terlihat biasa-biasa saja.


"Tuh lihat. Gara-gara ucapan kamu karyawanku jadi salah tingkah, Mas!" Gitta menggerutu kesal.


"Lha, kok aku, sih? Salah sendiri dia nyelonong masuk. Lagian, wajar kan kita melakukan hal itu. Orang kita suami istri," ucap Ken tidak mau kalah.


"Astaga! Yang seperti ini dibilang wajar. Lalu, yang tidak wajarnya seperti apa?"


•••

__ADS_1


Ehm, memang ada keturunan Geraldy yang wajar dan normal jika sudah sama pawangnya? 🤔


__ADS_2