Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 67


__ADS_3

Daddy Vanno dan juga Ken benar-benar mengurus pelaku tabrak lari terhadap Khanza. Tidak tanggung-tanggung, mereka benar-benar membuat pelaku benar-benar jera. Selain mendapat hukuman dari pihak berwajib, pelaku juga mendapatkan pelajaran dari daddy Vanno dan juga Ken.


***


Udara di ruangan itu terasa pengap. Entah mengapa hal itu membuat Ken kembali mengingat kejadian yang dulu pernah dialami oleh Gitta. Ya, kejadian yang dulu dialami Gitta saat sedang mengandung.


Ken menoleh menatap ke arah keluarganya yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Khanza. Mereka masih berada di rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika Khanza mengalami keguguran dan koma.


Hari-hari pun berlalu. Suasana duka pun masih menyelimuti keluarga Ken, khususnya Al dan kedua orang tuanya. Setelah sekitar satu minggu berada di Surabaya, Ken, Gitta dan juga Zee harus kembali ke Jakarta. Mereka harus melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.


Sementara itu, mommy Retta memutuskan untuk menetap sementara di Surabaya. Hal itu juga dilakukan oleh daddy Vanno. Dia juga memutuskan untuk menetap sementara di Surabaya. Semua pekerjaan langsung di handle dari sana. Sedangkan untuk pekerjaan yang memang harus ditangani langsung, daddy Vanno akan datang sendiri ke Jakarta.


Tak terasa sudah hampir dua minggu keadaan Khanza belum juga membaik. Seluruh keluarganya memutuskan untuk membawa Khanza ke Singapura. Mereka berharap, akan ada perkembangan yang lebih baik pada kondisi kesehatan Khanza.


"Lusa, Khanza jadi di bawa ke Singapura, Mas?" Tanya Gitta sesaat setelah Gitta menidurkan Zee.


"Iya. Kita hanya bisa mencoba untuk melakukan yang terbaik."


"Iya, Mas. Apapun yang masih bisa diusahakan, harus dilakukan sebisa mungkin."

__ADS_1


Ken mengangguk mengiyakan. Dia dan Gitta langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasanya, mereka benar-benar tidak bisa berkonsentrasi untuk melakukan apapun semenjak Khanza mengalami kecelakaan.


***


Hari berganti hari, hingga bulan pun berganti. Tak terasa kini, Khanza sudah mengalami koma selama hampir empat bulan. Selama itu pula, Al dengan sabar menemani Khanza di rumah sakit. Mommy Retta pun juga melakukan hal yang sama. Mommy bahkan off dari pekerjaannya dan melimpahkan semua pekerjaan kepada Gitta.


"Al, kamu istirahat dulu gih. Biar Mommy yang jagain Khanza. Kamu belum istirahat sejak semalam." Mommy Retta memasuki ruang perawatan Khanza dan berjalan mendekati Al.


Al menoleh ke arah mommy Retta dan mengangguk. "Baiklah, Mom. Aku akan istirahat sebentar. Mungkin, nanti siang Ken dan Gitta akan datang."


"Iya. Mereka sudah memberitahu Mommy."


Menjelang siang, Ken dan Gitta beserta dengan Zee sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Khanza di rawat. Kondisi Khanza sudah lumayan membaik. Beberapa kali dia bahkan bisa merespon saat Al atau mommy Retta mengajaknya berbicara.


Khanza ditempatkan di ruang khusus yang memang disiapkan untuknya. Keluarganya, bisa datang mengunjunginya kapanpun mereka mau, asalkan tetap mematuhi prosedur.


Saat itu, Ken mendapat giliran masuk untuk menemui Khanza. Dia benar-benar tak kuasa melihat keadaan sang adik yang tengah berbaring dengan segala alat bantu medis yang melekat pada Tubuhnya. Ken bergerak mendekati brankar Khanza. Dia benar-benar berusaha untuk menghalau cairan bening yang hendak keluar dari matanya.


Ken mendekatkan wajahnya pada kening Khanza. Dikecupnya kening sang adik sekilas sebelum dia menggeser kursi hingga mendekat ke arah brankar.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih saja tidur, Za? Kamu nggak kangen main sama, Zee?" kata Ken sambil menggeser kursi agar lebih dekat pada wajah Khanza.


"Kamu betah sekali tidurnya. Nggak kasihan jika sama Al yang sudah seperti mayat hidup itu. Cckk, aku sih benar-benar kesal dengan suami kamu itu. Masa iya dia membiarkan tubuhnya tidak terawat. Benar-benar berantakan. Jika aku seperti itu, bisa dipastikan Gitta akan menggorengku dadakan."


"Eh, Za kamu tau nggak, jika laki-laki yang sudah menikah dan dibiarkan nganggur selama ini, bisa-bisa dia bakal karatan lho. Aku saja yang istirahat saat Gitta sedang halangan rasanya uring-uringan. Apa jadinya Al yang berbulan-bulan nganggur?"


Saat Ken mengatakan hal itu, sedikit dia merasakan pergerakan jari Khanza. Ken tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Dia menyunggingkan senyumannya dengan air mata yang sudah menganak sungai. Namun, sekuat tenaga Ken berusaha menghalau rasa harunya.


"Jangan lama-lama tidurnya, Za. Kamu nggak kasihan sama Al. Bisa-bisa nanti Al cari sarang burung baru karena kelamaan menunggu kamu sadar," kata Ken sambil berdiri dan mengecup kening Khanza.


Setelah itu, kini giliran Gitta dan juga Zee untuk masuk. Mereka hanya diberi waktu sebentar karena mengajak Zee.


"Anty Ja? Ao anun. Ji angen," kata Zee sambil memberikan kecupan basah pada pipi Khanza.


Terlihat air mata mengalir pada ujung mata Khanza. Gitta yang sudah diberitahu Ken jika Khanza bisa sedikit merespon merasa sangat bahagia. Hari itu, harapan besar keluarga mereka benar-benar datang. Mereka berharap Khanza bisa segera sadar.


\=\=\=


Yang nungguin part Khanza sadar, habis ini Khanza ya. Khanza dan Al muncul hanya sekilas disini. Yang di sebelah tinggal beberapa part lagi end. Mohon maaf Khanal Story dalam proses editing. Mohon doanya semoga bisa segera naik cetak. 🙏

__ADS_1


Yang nggak sabar nungguin Zee gede, sebentar lagi, ya.


__ADS_2