
Seketika Ken dan Gitta langsung menghentikan langkah kaki mereka. Wajah mereka tampak panas karena menahan malu akibat ucapan daddy Vanno. Bagaimana tidak, sudah ada banyak orang di sana, termasuk saudara orang tuanya Al.
Semua orang yang melihat tingkah Ken dan Gitta langsung tergelak. Mereka merasa lucu saat Ken dan Gitta tampak malu-malu seperti itu.
Tak berapa lama kemudian, acara pengajian dan doa bersama untuk rumah baru orang tua Al pun dimulai. Acara berlangsung dengan lancar hingga selesai.
Seluruh keluarga, pamit pulang saat hari sudah menjelang petang. Tak terkecuali Ken, Gitta, dan juga Zee. Daddy Vanno dan mommy Retta pun juga segera pamit pulang. Sementara Al dan Khanza tetap berada di sana karena hendak menginap.
Sesampainya di rumah, Ken, Gitta, Dan zee langsung membersihkan diri. Setelah itu, Zee merengek minta bakso karena melihat iklan bakso di televisi. Karena kebetulan stok pentol di rumah Gitta sedang habis, Ken memutuskan untuk menunggu abang-abang bakso yang biasa lewat di depan rumah. Beruntung ada abang-abang bakso yang datang tak lama setelah itu.
"Zee mau kuahnya juga?" tawar Ken.
"Au. Cikit, Ted. (Mau. Sedikit, Dad)"
"Mau ini?" Ken menawarkan gorengan kepada Zee.
"Tak au. Au uh ah uh ah."
"Heh?" Seketika abang bakso menoleh ke arah Zee. Dia bingung dengan maksud perkataan Zee. Ken yang menyadari jika si abang bakso bingung pun langsung menjelaskan.
"Maksudnya anak saya mau sambal, Bang. Huh hah sambal pedas. Kasih sedikit saja, Bang."
__ADS_1
"Eh, iya, Pak." Abang bakso langsung mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasa malu sendiri karena otaknya sudah tamasya.
Setelah pesanan baksonya jadi, Ken segera membayar bakso pesanan sang putra tersebut. Ken memberikan selembar uang seratus ribuan kepada abang bakso tersebut.
"Sebentar, Pak. Saya kasih kembaliannya dulu."
"Nggak usah, Bang. Kembaliannya buat Abang saja. Semoga dagangannya cepat habis, Bang. Dan, semoga tetap menjaga kebersihan dan kehalalan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bakso ini," ucap Ken.
"Eh, terima kasih banyak, Pak Ken. In Sha Allah saya tetap akan berusaha menjaga kebersihan dan kehalalan bahan yang saya gunakan Pak Ken."
Ken segera mengangguk. Setelahnya, dia segera membawa mangkok bakso sang putra kembali ke dalam rumah. Zee tang juga berada di gendongan Ken masih melingkarkan kedua tangannya pada leher sang daddy.
Gitta yang baru saja keluar dari dapur langsung menghampiri suami dan putranya. "Hhhh, kenapa dibelikan bakso sih, Mas?" Protes Gitta.
Mau tidak mau, Gitta hanya bisa menganggukkan kepala. "Sini, biar aku yang suapin Zee. Kamu makan malam dulu saja, Mas." Gitta hendak mengambil alih Zee namun sang putra justru menolaknya.
"Indak au. Au cuap-cuap Tedi. (Nggak mau. Mau disuapin Daddy)" Zee masih memeluk leher sang daddy dengan erat.
Gitta hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Jika sudah seperti itu, Zee pasti tidak akan mau dibantah. Gitta hanya bisa membiarkan Ken menyuapi putranya tersebut.
Saat tengah menyuapi Zee, terdengar suara mommy Retta dan daddy Vanno memasuki rumah Ken. Sontak saja Zee yang saat itu tengah duduk di depan Ken langsung berdiri dan menunggu kedua kakek dan neneknya tersebut.
__ADS_1
"Waahhh, cucu Papa maem apa nih?" tanya daddy Vanno yang langsung duduk di sebelah Zee. Sontak saja Zee langsung minta pangku kakeknya tersebut.
"Tempol aco, Pa."
"Pentol bakso, Zee." Ken mengoreksi perkataan sang putra.
"Tempol aco!" Zee tidak terima.
"Bukan tempol, tapi pentol."
"Tempol aco, Ted!"
"Pentol!"
"Tempol. Huaaa huuaaaa." Zee langsung menangis histeris.
Daddy Vanno langsung kesal dengan tingkah sang putra. "Kamu ini perkara pentol saja sudah buat Zee menangis, Ken. Gimana jika ganti perkata kent…,"
"Mulutnya, Mas!"
\=\=\=\=
__ADS_1
Astaga, bisa nggak sih mulut Ken dan daddy Vanno itu di staples saja biar ndak brojol omongane lemes 🤧