Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 36


__ADS_3

Bayangkan, apa yang dirasakan daddy Vanno? Setelah diterbangkan tinggi seperti layang-layang, setelah itu langsung uwer-uwer dan nyungsep ke tanah, jleb. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap laki-laki yang mengomentarinya tadi dengan mata menyipit.


Wanita yang tadi sempat hendak menggoda daddy Vanno dan juga Ken dengan memanfaatkan Zee pun segera pergi. 


"Selamat pagi Pak Tri, tidak menyangka jika bertemu lagi dengan Anda di sini. Apa yang Anda lakukan disini?" ucap daddy Vanno dengan suara datar. Ya, daddy Vanno suka kesal sendiri jika bertemu dengan Pak Tri dan Bu Rika, istrinya. Mereka sering sekali mengomentari apa saja yang dilakukan oleh keluarga Geraldy tersebut. (Pak Tri ini orang yang nyamperin daddy Vanno waktu nyariin Nyedit pas hilang di Mendadak Istri season 1)


"Tentu saja sama seperti Anda, Pak. Saya juga mau jogging." Pak Tri menjawab pertanyaan daddy Vanno dengan senyuman lebarnya.


Kening daddy Vanno berkerut. Tentu saja dia bingung dengan jawaban Pak Tri. Jika jogging, tempatnya pasti juga bukan di sana. Bagaimana tidak, saat ini mereka sedang berada di wahana permainan anak. 


Sekeliling tempat tersebut hanya akan ditemui permainan anak, mulai dari ayunan, perosotan hingga mainan pasir. Tempat tersebut juga hanya dipenuhi oleh anak-anak dan orang tua yang sedang menjaga anak atau cucu seperti dirinya. Tempat tersebut juga dikelilingi oleh pagar besi sebatas pinggang orang dewasa.


"Setau saya, tempat jogging bukan disini, Pak. Ini hanya dipenuhi dengan mainan anak-anak. Hanya ada anak-anak dan juga orang tuanya."


"Eh?" Pak Tri tampak gelagapan. Dia menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Dia menyadari jika saat itu sedang berada di tempat bermain anak. "Hehehe, tadi sepertinya kaki saya kesasar, Pak." Pak Tri cengengesan.


Daddy Vanno dan Ken hanya bisa mencebikkan bibir. Setelah itu, mereka berpisah dan melakukan aktivitas masing-masing. Ken menoleh ke arah sang daddy. "Dad, tolong jagain Zee sebentar. Aku mau cari keringat dulu," ucap Ken.


"Eh, mau kemana?"


"Main basket sebentar, Dad."


Daddy Vanno hanya bisa mencebikkan bibir. "Jangan lama-lama. Nanti gantian," teriak daddy Vanno.


"Iya."

__ADS_1


Pagi itu, daddy Vanno dan juga Ken saling bergantian menjaga Zee. Lumayan lah mereka sudah bisa berkeringat meski hanya bermain basket sebentar. Hingga menjelang pukul delapan, mereka kembali ke rumah.


Hari itu, daddy Vanno dan mommy Retta akan pergi ke rumah mama Nadia. Mereka akan mengantar daddy Evan check up kesehatan rutin ke Singapura. Sementara di rumah Ken, tampak sudah ada Dino menunggu di teras depan rumahnya.


"Ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Ken saat berjalan memasuki halaman rumah. Zee yang sudah cukup mengenal Dino langsung berteriak heboh saat melihat asisten Ken tersebut.


"Kyaaaa Om Coyuss, Om Coyuss!" teriak Zee dengan hebohnya.


Dino hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat mendengar panggilan Zee. Rasa-rasanya dia sudah tidak bisa menyelamatkan namanya jika di depan Zee. Bagaimana tidak, saat Zee tahu namanya adalah Dino, Zee langsung bersemangat memanggil Dino dengan panggilan Om Coyuss, yang merupakan kependekan dari Dinosaurus. Berhubung Zee belum lancar mengucapkan huruf r, jadilah nama panggilan itu jadi Coyus.


"Maaf, Pak. Ini ada informasi mendadak dari Surabaya. Ada sedikit masalah dengan proyek di salah satu kabupaten di sana. Saya sudah menghubungi sekretaris Pak Vanno, tapi beliau bilang Pak Vanno akan ke Singapura. Jadi, saya langsung kemari. Ponsel Anda tidak bisa dihubungi, Pak." Dino menjelaskan maksud kedatangannya pagi itu.


Ken mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Baiklah, masuk dulu. Kamu sudah sarapan?"


"Eh, i-itu, anu, Pak…," Dino menggaruk-garuk rambut belakangnya yang tidak gatal. Ken yang sudah paham dengan tingkah Dino, langsung mengajaknya masuk. "Sarapan dulu di dalam, nanti kita bicarakan lagi."


Pagi itu, Ken dan Dino mengobrol tentang proyek di teras belakang. Sementara Zee, sudah menggelendot pada tubuh sang mommy.


"Ami, Ji au belenang boyyeh? (Mommy, Zee mau berenang, boleh?)"


"Eh, jangan sekarang ya, Sayang. Tadi Zee kan habis mandi. Bagaimana jika ikut Mommy beli ice cream di depan."


"Kim?" Wajah Zee tampak berbinar bahagia saat mendengar ajakan sang mommy untuk membeli ice cream.


"Iya. Zee mau?"

__ADS_1


"Au, Mi. Au Kim."


Setelah itu, Gitta segera berpamitan kepada Ken untuk pergi ke minimarket yang berada di depan perumahan tersebut.


"Mas, aku pergi ke minimarket depan sebentar, ya."


Ken menolehkan kepala ke arah pintu. "Eh, mau apa?"


"Beli ice cream buat Zee."


Bibir Ken mengerucut saat melihat penampilan Gitta yang terlihat seperti abg yang sedang mengajak adiknya jalan-jalan.


"Ganti baju dulu, Yang."


Kening Gitta berkerut saat mendengar perkataan Ken. "Eh, ganti baju? Memangnya kenapa?" Gitta menatap pakaiannya saat itu. Dia hanya memakai celana jean biru dan kaos putih biasa. Rambutnya juga hanya diikat satu ke belakang. Gitta merasa penampilannya biasa-biasa saja saat itu.


"Kamu terlihat seperti kakaknya Zee, bukan seperti mommynya Zee." Protes Ken.


Gitta hanya bisa membulatkan mulutnya setelah mendengar jawaban sang suami. "Kamu ini ada-ada saja, Mas. Lalu aku harus pakai baju apa?"


"Daster."


\=\=\=


Ada nggak sih laki-laki seperti Ken begitu? 🤔

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Mumpung masih senin, kasih vote dan hadiah yang banyak, biar semangat ngetik.


__ADS_2