
Rachel tampak kesal setelah mendengar ucapan Ken. Moodnya langsung memburuk ketika dia merasa segala tingkah lakunya tidak menarik perhatian Zee dan juga Ken. Setelah memberikan makanan kepada Ken, Rachel langsung berlalu. Zee bahkan tidak melirik perempuan tersebut hingga dia berpamitan.
Ken langsung berbalik setelah meletakkan box makanan yang baru saja diterimanya tersebut di atas meja yang terletak di dekat pilar. Ken juga tampak tidak tertarik menyantapnya. Dia berjalan kembali menghampiri sang putra yang masih bermain basket.
"Siapa perempuan tadi?" tanya Ken begitu berada di sebelah Zee.
"Tetangga baru rumahku, Dad." Zee menjawab sambil masih memainkan bola basket.
"Kok bisa sampai sini?"
"Entahlah, Dad. Aku juga heran kok dia bisa sampai ke sini. Beberapa hari yang lalu, dia sudah kemari. Kia sampai dibuat kesal olehnya karena terlalu lama mengobrol."
"Kamu harus berhati-hati, Zee. Jangan sampai si ulet bulu itu nanti membuat gara-gara. Bisa-bisa, kamu akan puasa lebih lama lagi nanti."
"Iya. Aku juga tau itu, Dad."
Belum sempat Ken menyahuti ucapan sang putra, terdengar suara dari arah teras. Ternyata, Gitta memanggil Ken dan juga Zee untuk segera membersihkan diri dan sarapan.
Tak mau mendengar omelan lagi, Ken dan juga Zee segera bergegas untuk membersihkan diri. Setelahnya, mereka bersiap untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Hari itu, Ken dan Gitta tidak mempunyai rencana keluar rumah. Semenjak punya cucu, mereka jadi lebih suka di rumah dan menyabotase Gen. Seperti pagi itu. Setelah sarapan, Gitta langsung mengajak sang cucu rebahan di kamarnya. Tentu saja Ken akan mengikutinya.
Zee dan Gitta yang melihat hal itu hanya bisa pasrah. Sepertinya, mereka harus membiasakan diri dengan aktivitas seperti itu sejak Gen kecil.
Setelah Gen dibawa ke dalam kamar Gitta, Kiara pun segera kembali ke dalam kamarnya. Dia berniat untuk memompa asinya yang memang sudah seharusnya dikeluarkan.
Zee yang melihat Kiara memasuki kamar, langsung begegas mengikuti. Dia sangat suka sekali membantu Kiara memompa asi.
"Mau pompa asi, Yang?" tanya Zee setelah menutup pintu kamar.
Kiara yang saat itu tengah mengambil alat pompa pun menoleh ke arah Zee.
"Aku bantu ya. Aku ikhlas kok bantuin kamu. Sebagai suami dan ayah yang baik dan bertanggung jawab, sudah seharusnya aku bantuin kamu kan, Yang."
Kamu mah bantuinnya pilih-pilih Zee. Kalau waktunya Kia pompa memompa saja sok baik. Kamu kemana waktu Kia gantiin popok Gen? 🤧
Kiara langsung berbalik dan menatap Zee dengan kening berkerut. Dia sudah cukup hafal dengan segala modus yang Zee siapkan untuknya.
"Nggak usah dibantuin, Mas. Aku masih bisa sendiri." Kiara menjawab sambil berbalik.
__ADS_1
"Eh, tapi kamu yakin bisa sendiri, Yang?" tanya Zee dengan wajah tanpa dosa.
Kiara hanya mendengus kesal setelah mendengar ucapan sang suami.Â
"Kamu kira aku nggak tau jika itu hanya akal-akalan kamu saja, Mas?" Kiara menatap tajam ke arah Zee.Â
Tanpa menanggapi sang suami, Kiara kembali melanjutkan niatnya untuk memulai memompa asinya. Zee yang tidak melihat ada celah untuk menjalankan aksinya, hanya bisa pasrah.
Tak berapa lama kemudian, Zee mendapat pesan dari bengkel langganannya jika ada yang harus dibahas tentang mobilnya. Mau tidak mau, hari itu juga Zee harus segera ke bengkel.
Setelah berpamitan kepada Kiara, Zee segera berangkat menuju bengkel langganannya. Tidak lagi mengendarai motor, Zee memilih menggunakan mobil. Rencananya, dia akan sekalian berkonsultasi tentang mobilnya tersebut.
Saat dia sedang berbelok di daerah dekat SMAnya dulu, tiba-tiba ada seseorang yang menyeberang secara mendadak. Karena jaraknya sudah terlalu dekat, Zee tidak mampu mengerem mobilnya. Hingga tabrakan pun tak dapat dihindari.
\=\=\=
Ikuti alur saja, ya.Â
Sambil nunggu up, cuss mampir ke cerita othor yang lainnya ya. 🤗
__ADS_1