
"Jika Anda tidak bisa memenuhi hal itu, saya bersedia membeli proyek Anda, beserta dengan semua lahan tersebut. Jadi, Anda tidak usah ambil pusing dengan hal itu."
Ken tersenyum tipis setelah mendengar perkataan Edrick tersebut. Rupanya, dia hanya mengenal Keenan Alexander. Edrick tidak mengenal siapa Ken sebenarnya.
Memang, Ken tidak pernah memperkenalkan diri sebagai putra Geraldy. Dia selalu tidak pernah menyebutkan nama belakangnya tersebut. Selain itu, Geraldy juga punya akses untuk menyembunyikan identitas keluarga mereka. Papa Evan tidak membiarkan keluarganya terekspos dengan bebas sejak kejadian masa lalu keluarganya.
Hanya ada segelintir orang yang mengetahui siapa sebenarnya mereka. Selebihnya, para pelaku bisnis akan menganggap jika Ken dan Vanno Alexander adalah kaki tangan pemilik GC seperti yang lainnya.
Ken menatap ke arah Dino dan Henry sekilas. Dia seolah memberitahu mereka untuk tetap diam. Ken sendiri yang akan bersuara. Dia sudah sangat gerah dengan permasalahan yang berlarut-larut ini.
"Sebelumnya, saya minta maaf Pak Edrick karena tidak mengenali Anda tempo hari. Anda adalah Edrick Chavandri. Apakah saya boleh menebak jika Anda adalah putra Om Gio Chavandri?" tanya Ken sambil tersenyum tipis. Tapi percayalah, senyuman tersebut bisa membuat merinding siapa saja yang melihat dan sudah mengenal Keenan Alexander.
Rupanya Edrick sedikit terkejut dengan pertanyaan Ken. Papanya memang pelaku bisnis, tapi tidak banyak bisnis yang digelutinya di Indonesia. Kebanyakan, bisnis papa Edrick berada di Malaysia, Thailand, dan di negara asalnya, Pakistan. Edrick tidak menyangka jika Ken bisa mengenal papanya.
"Anda kenal papa saya?" Edrick tampak penasaran.
__ADS_1
Ken tersenyum tipis sambil menatap ke arah Edrick. "Kami sempat bekerja sama beberapa kali untuk proyek di luar Indonesia," jawab Ken singkat. Namun, dia tidak berminat untuk menyebarkan informasi lainnya. "Jadi, untuk ucapan Anda tadi, apakah saya boleh berasumsi jika Anda ingin mengambil alih semua proyek kami di daerah tersebut?" lanjut Ken.
Edrick menganggukkan kepala dengan mantab. Dia terlihat yakin untuk bisa melakukan hal itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ken. Dia mengangguk-anggukkan kepala sambil mencebikkan bibirnya sedikit.
"Anda ingin mengambil alih proyek kami untuk Anda sendiri atau untuk Tirta Omega? Setahu saya, Tirta Omega tidak bergerak dibidang seperti itu."
Tampak Edrick menoleh ke arah Danil. Dia sedikit menggeser kursinya maju hingga kedua tangannya bisa menumpu pada meja.
"Saya akan bekerja sama dengan Tirta Omega untuk mengembangkan daerah tersebut," jawab Edrick.
Untuk motif pastinya, Ken tidak bisa menebak. Tapi, dari gelagatnya Ken bisa cukup yakin jika Edrick memang mengincar proyeknya. Memang proyek yang sedang dijalankan Ken kali ini benar-benar memberikan prospek yang sangat bagus kedepannya. Jadi wajar jika banyak pihak yang mengincarnya.
Namun, apakah Ken akan melepaskannya begitu saja? Tentu saja tidak semudah itu Bang Ed. Kamu mungkin mengenal Keenan Alexander, tapi kamu tidak tahu bagaimana karakternya. Hohoho, bolehkah othor tersenyum sambil kedip-kedip?
Ken menoleh kembali ke arah Dino dan Henry. Dia tersenyum sambil menaikkan alisnya. Saat itu juga, tim Henry langsung bertindak. Bahkan, Edrick, Danil dan yang lainnya, tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Ken.
__ADS_1
"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih Pak Edrick atas tawaran Anda. Tapi, kami tidak berniat melepaskan proyek tersebut kepada pihak lain. Selain itu, kami punya hak penuh atas tempat tersebut. Untuk keluhan yang Anda sampaikan tadi, sebenarnya itu tidak benar. Jangan Anda pikir kami tidak memikirkan para karyawan Tirta Omega ataupun karyawan lainnya."
"Anda salah, Pak Edrick. Tentu saja kami sudah memikirkannya dengan baik. Kami, adalah pemilik resmi lahan dimana sumber air yang ada di lahan kami digunakan oleh pihak Tirta Omega selama hampir sepuluh tahun. Apakah kami keberatan? Tidak. Apakah kami menuntut upah? Tidak. Kami memang bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengolah lahan di daerah tersebut agar tetap berproduksi. Kami memperbolehkan warga sekitar mengolah lahan kami dan menikmati hasilnya, tapi tidak untuk dijadikan hak milik."
"Sedangkan saat ini, kami ingin lebih mengembangkan daerah tersebut. Dengan kami membuat proyek disana, kami ingin membuat daerah tersebut bisa lebih baik dan dikenal banyak orang. Banyak sekali potensi daerah tersebut yang bisa dikenalkan di dunia luar. Masyarakatnya juga banyak menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi. Jika kami membuka tempat pariwisata di sana, itu tentu saja akan membuka banyak lowongan dan kesempatan pekerjaan di sana."
"Sekali lagi saya mohon maaf. Kami tidak tertarik untuk melepaskan proyek tersebut kepada orang lain." Ken menjelaskan panjang lebar.
Edrick mencebikkan bibir sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi, Anda yakin tidak mau melepaskannya? Anda sudah siap dengan segala konsekuensinya?"
\=\=\=
Hohoho, konsekuensi apa yang akan diterima Ken?
Siapkan vote buat cerita ini ya. 🤗
__ADS_1