
"Apa?!"
Zee langsung berteriak kaget. Mendengar teriakan Zee, Johan langsung menepikan mobil yang dikemudikannya dan menghentikan mobil tersebut.
"Da-darah? A-apa maksudnya itu, Yang?"
Otak Zee langsung mulai membayangkan hal yang tidak-tidak seperti yang ada dalam drama atau novel.
Masih terdengar suara isak tangis di seberang sana. Zee langsung buru-buru mengubah panggilan telepon tersebut menjadi panggilan video. Dia langsung terkejut saat melihat pelipis Kiara sudah ditempeli perban. Belum lagi, telapak tangannya juga mendapatkan perban. Sepertinya, tangan Kiara juga terluka.
"Ya-yang? Ke-kenapa itu?" Zee mulai panik.
Terlihat Bi Ani yang berada di belakang Kiara muncul pada layar ponsel Zee.
"Maaf, Mas Zee. Tadi Mbak Kia tertimpa penutup jemuran saat menjemur baju. Maafkan kami karena lalai menjaga Mbak Kia, Mas." Bi Ani terlihat berkaca-kaca.
Zee menghembuskan napas lega. Setidaknya, Kia tidak mengalami musibah buruk. Zee masih menatap Kia yang juga masih menangis sesenggukan. Mungkin karena efek kehamilannya, dia menjadi lebih sensitif.
"Nggak apa-apa, Bi. Namanya juga musibah. Bi Ani nggak usah merasa bersalah begitu. Sudah memanggil dokter? Kandungannya tidak apa-apa, kan?" tanya Zee sedikit khawatir sambil masih menatap wajah sang istri yang masih tampak pucat.
Kiara mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat. Tangan kanannya juga mengusap air mata yang masih terus mengalir.
"Sudah, Mas. Tadi sudah memanggil dokter," ucap Kiara sambil masih sesenggukan.
"Apa katanya?"
__ADS_1
"Kandungannya baik-baik saja, Mas. Tadi, sempat kram sedikit karena kaget. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa."
Zee mendedahkan napas lega. "Alhamdulillah. Itu, tangannya kenapa, Yang? Masih ada bekas darahnya itu?"
Kali ini, Bi Ani yang menjawab pertanyaan Zee. "Tadi, Mbak Kia berpegangan pada pinggiran kolam ikan kaca itu, Mas. Karena terlalu kencang, jadi tangan Mbak Kia terluka." Bi Ani masih menyesal dengan kecerobohannya membiarkan Kiara berada di luar rumah.
Zee bisa mengertikan apa yang dikatakan oleh Bi Ani. Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya Zee dan Johan melanjutkan perjalanan menuju tempat Prasojo. Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Johan sudah sampai di depan sebuah tempat yang sudah di janjikan oleh pihak Prasojo.
Seperti dugaan Zee dan Johan sebelumnya, pihak Prasojo tetap memberikan informasi yang baik-baik tentang lahan tersebut. Mereka juga tidak memberitahu tentang pemilik lain dari lahan itu.
Karena Zee sudah cukup lelah, akhirnya dia mengatakan jika tidak bisa membeli lahan milik Prasojo tersebut. Awalnya, pihak Prasojo terkejut mendengar keputusan Zee. Pasalnya, mereka mengira jika pihak GC akan membeli lahan yang memang memiliki lokasi strategis tersebut. Selain itu, wilayah lahan tersebut juga memberikan banyak keuntungan apabila dikembangkan untuk lokasi wisata edukasi.
Pihak Prasojo masih mencoba untuk mempengaruhi Zee kembali. Namun, mereka langsung terdiam saat Zee mengatakan jika mereka telah menyembunyikan keadaan lahan yang sebenarnya. Zee akhirnya menunjukkan beberapa bukti yang membuktikan jika pemilik lahan yang lain tidak bersedia menjualnya.
Setelah melihat hal itu, mau tidak mau pihak Prasojo menyerah. Mereka tidak mungkin memaksa kembali. Apalagi, mereka tahu jika pihak GC pasti tidak akan tinggal diam.
Menjelang makan siang, Zee sudah sampai di rumah. Dia langsung buru-buru mencari keberadaan sang istri.
"Kia dimana, Bi?" tanya Zee setelah memasuki rumah dan bertemu dengan Bi Ani.
"Eh, Mas Zee sudah pulang. Mbak Kia ada di kamar, Mas. Baru saja istirahat."
"Baiklah, aku ke kamar dulu, Bi," jawab Zee sambil hendak beranjak menuju kamar.
Namun, langkah kakinya terhenti saat Bi Ani memanggilnya.
__ADS_1
"Ehm, Mas Zee. Sekali lagi, Bibi minta maaf karena lalai menjaga Mbak Kia, Mas. Maafkan Bibi," ucap Bi Ani sambil menundukkan kepala. Dia masih berdiri di dekat tangga.
Zee menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh ke arah Bi Ani yang masih menunduk. Sebuah senyuman terbit pada bibirnya.
"Bibi ngomong apa, sih? Nggak ada yang perlu dimaafkan, Bi. Ini bukan salah Bibi. Namanya juga musibah, bisa menimpa siapa saja. Bibi jangan merasa bersalah seperti ini. Bibi tidak bersalah, kok." Zee masih mengulas senyumannya sambil menatap ke arah Bi Ani.
"Ta-tapi, karena kelalaian bibi, Mbak Kia jadi terluka, Mas. Dan, tadi kandungannya juga sempat kram. Bibi, merasa sangat bersalah sekali, Mas Zee."
Zee masih menatap wanita paruh baya tersebut sambil tersenyum. Zee berjalan mendekat dan mengusap-usap lengan Bi Ani untuk menenangkannya.
"Nggak apa-apa, Bi. Kandungan Kia baik-baik saja, kan. Bibi nggak usah khawatir lagi. Sekarang, bisa aku minta tolong masakkan makan siang, Bi? Aku benar-benar sudah kelaparan," bujuk Zee agar Bi Ani tidak khawatir lagi.
Seketika, Bi Ani mengangguk-anggukkan kepala. "Mas Zee mau makan apa?"
"Ehm, apa ada udang, Bi?"
"Udang? Ehm, sepertinya masih ada, Mas? Mas Zee mau dimasakin udang?"
"Boleh, Bi. Aku mau digoreng crispy. Sekalian tolong buatkan sambal ijo ya, Bi. Yang pedes."
"Eh, sambal ijo? Kok tumben, Mas. Mas Zee ngidam apa bagaimana ini?"
Zee mengusap-usap dagunya sekilas. Dia masih berpikir, apakah dirinya ngidam? Yang Zee rasakan sepanjang perjalanan adalah ingin sekali makan sambal ijo pedas. Apakah ngidam seperti ini?
\=\=\=
__ADS_1
Mohon maaf, othor dua hari kemarin nggak up. Ada kerjaan yang memang harus segera dikerjakan. Sebagai ganti, othor usahakan up lagi setelah ini. Mohon bersabar ya. 🙏