Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 273 - Kedatangan Papa Vanno


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Kiara langsung menggendong Gen menuju kamar tidur. Rupanya, balita tersebut sudah terlelap saat dalam perjalanan menuju rumah setelah menghadiri acara pernikahan sahabat Zee.


"Bisa nggak, Yang?" tanya Zee saat Kiara membenarkan gendongan Gen.


"Bisa, Mas."


Setelah itu, Kiara langsung berjalan menuju pintu depan rumahnya sementara Zee memarkirkan mobil. Kening Kiara sedikit berkerut saat mendengar suara dari ruang keluarga. 


"Suara siapa itu?" gumam Kiara sambil melangkahkan kaki menuju ruang tengah. "Lho, Mama? Kapan datang?" tanya Kiara saat melihat mama Retta sudah ada di sana dengan papa Vanno yang sedang tidur rebahan dengan kepala berada di atas paha sang istri.


"Tadi jam sepuluh, Ki. Gen tidur?" mama Retta langsung mengalihkan pandangannya pada cicit satu-satunya tersebut.


"Iya, Ma. Tadi Gen langsung tidur saat perjalanan pulang."


"Ya sudah, kamu bawa ke kamar saja. Kasihan jika tidurnya tidak nyenyak."


Kiara segera mengangguk dan berpamitan untuk pergi ke kamar. Hingga tak berapa lama kemudian, tampak Zee berjalan memasuki rumah. Sama seperti sang istri, Zee juga cukup kaget saat mendapati kakek dan neneknya sudah ada di rumahnya.

__ADS_1


"Lho? Mama dan papa kok sudah pulang? Kapan datang?" Zee langsung mendudukkan diri di sofa single di samping sang nenek.


"Belum lama, Zee. Kami langsung ke sini tadi. Orang tua kamu juga tidak ada di rumah." Mama Retta kembali menjawab pertanyaan sang cucu.


Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala. Dia menoleh ke arah sang kakek yang nampak memejamkan mata saat tangan mama Retta mengusap-usap kepalanya.


"Pa, bagaimana hasil check up kesehatannya?" 


Mau tidak mau, papa Vanno membuka kedua matanya dan menatap ke arah Zee.


"Bagus sih bagus, Zee. Tapi, asam urat papa kamu tuh yang harus diperhatikan." Mama Retta mencebikkan bibir sambil menatap tajam ke arah sang suami.


Zee hanya menghembuskan napas berat setelah mendengar ucapan sang mama. "Hhhh. Makanya Pa, jaga pola makan dan jangan terlalu banyak gaya jika mau main-main sama mama."


Sontak saja mama Retta langsung mendelik tajam ke arah sang cucu. "Sembarangan kamu kalau ngomong, Zee."


"Aku bicara kenyataan, Ma. Mama dan papa nggak ingat kapan hari sempat membuat Gen berteriak-teriak ketakutan karena suara kalian?"

__ADS_1


"Cckkk. Mana ada yang seperti itu?" Mama Retta mencebikkan bibir.


Belum sempat Zee menjawab, papa Vanno sudah menimpali ucapan sang cucu.


"Memang kenapa, Zee? Wajar dong kita 'gulat dan main panahan'? Orang punya sendiri ini. Ya, di puas-puasin dong."


"Ya tau kalau itu, Pa. Tapi nggak sampai teriak-teriak heboh begitu, dong. Masa Gen sampai mengira Papa terjepit," Zee langsung mendengus kesal saat mengingat kejadian beberapa saat lalu yang memergoki tingkah absurd kakek dan neneknya tersebut.


"Lhah, papa kan memang terjepit Zee. Mama kamu suka banget jepitin papa sambil berteriak-teriak dan mendeesaahh. Aaahhh uuhhh aaahhh,..."


Belum sempat papa Vanno melanjutkan ucapannya, mama Retta sudah langsung berteriak dan mencubit bibir lemes suaminya tersebut.


"Mas! Kalau ngomong di filter, dong." Mama Retta menggerutu kesal karena ucapan sang suami.


Papa Vanno batu bisa menjawab setelah jepitan jari sang istri lepas dari bibirnya. "Memang kenapa sih, Yang? Orang Zee juga sudah menikah ini. Dia juga pasti senang dengan jepitan Kiara. Apalagi, disertai dengan sedotan yang…,"


Praanggg.

__ADS_1


__ADS_2