Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 257 - Telepon Sahabat


__ADS_3

Malam itu, Gen benar-benar menempel pada Zee. Bahkan, dia mengikuti Zee yang sedang memeriksa beberapa email di ruang kerjanya.


Dengan langkah yang masih tertatih-tatih, Gen beringsut mendekati Zee sambil membawa botol susunya. Zee menoleh ke arah sang putra yang berjalan ke arahnya.


"Gen mau apa, hhmm?" tanya Zee sambil menunduk ke arah putranya tersebut.


"Antu, Ted." (Pangku, Dad)


Gen mengulurkan kedua tangannya ke arah Zee. Mau tidak mau, Zee segera menggendong putranya tersebut dan membawa pada pangkuannya.


"Gen belum ngantuk?" tanya Zee sambil menciumi pipi gembul putranya tersebut.


Sambil masih asyik mengenyot botol susunya, Gen menggelengkan kepala dengan cepat. Belum sempat Zee mengomentari jawaban sang putra, ponselnya berdering.


Zee menoleh dan melihat nama sang sahabat tertera di layar ponselnya. Dia buru-buru mengambil ponsel tersebut dan segera menyambungkan panggilan.


"Hallo?" sapa Zee begitu panggilan telepon tersebut terhubung.


"Hallo Zee. Lo di rumah?" 


"Ada, nih. Lo sudah balik Indo?"


"Hhhmmm."

__ADS_1


"Kapan? Kok tumben lo nggak ngabarin gue, El?"


Ya, orang yang menghubungi Zee malam itu adalah El, sang sahabat. El memang sedang menempuh pendidikan S2 nya di Amerika. Dan saat ini, dia sudah lulus kuliahnya.


"Gue sudah di Jakarta sejak beberapa hari yang lalu, Zee."


"Cckkk. Sudah pulang dari kapan hari nggak ngabarin juga. Lo lupa sama gue?" Zee terdengar kesal.


El terkekeh di seberang sana. "Mana mungkin gue lupa sama sahabat sultan gue. Bisa-bisa, gue rugi nanti. Hahaha."


Ingin rasanya Zee mengumpat kesal. Namun, dia ingat jika ada Gen di pangkuannya. Tidak mungkin Zee mengeluarkan ucapan kotor jika ada Gen. Jika sampai Kiara mendengarnya, bisa dipastikan Zee akan mendapatkan omelan sepanjang hari. Belum lagi hukuman yang akan diperolehnya. 


Ketika Zee dan El sedang mengobrol, Gen tampak sudah merengek karena merasa ngantuk. Tentu saja El bisa mendengar rengekan putra Zee tersebut.


"Iya. Rewel dia. Sepertinya sudah ngantuk, nih."


"Yaudah. Gue tutup dulu teleponnya. Kapan-kapan gue mampir ke rumah, deh."


"Sip. Gue tunggu, El."


Setelahnya, Zee langsung menutup panggilan telepon tersebut. Dia beranjak berdiri sambil menggendong putranya yang sudah mulai rewel.


"Gen sudah ngantuk?" tanya Zee sambil menciumi pipi gembul sang putra.

__ADS_1


"Ja." Gen tampak mengangguk-anggukkan kepala dengan tatapan mata sayu.


Zee segera membawa Gen menuju kamar. Di dalam kamar, Zee melihat Kiara sedang berkutat dengan tugas kuliahnya. Kiara menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampakkan Zee serta Gen.


"Eh, sudah ngantuk, ya?" Kiara beranjak berdiri untuk mengambil alih sang putra.


"Mimi cempeng, Mi." Gen langsung merengek.


Secepat kilat Gen langsung membuka kancing baju Kiara. Dan, mulailah pertunjukkan reog yang dilakukan oleh Gen. Zee yang melihat hal itu, sebenarnya merasa tidak suka. Namun, putranya tersebut pasti akan menangis jika dilarang.


Tak sampai sepuluh menit kemudian, Gen sudah langsung terlelap. Mungkin, dia sudah benar-benar kecapekan. Kiara langsung memindahkan Gen ke atas tempat tidurnya. Setelah itu, dia segera merapikan tugas-tugas kuliahnya. Tubuhnya juga terasa cukup capek.


Sementara itu, Zee sudah kembali ke ruang kerjanya. Dia masih memeriksa beberapa pekerjaan sebelum akhirnya menutup laptop. Sebelum beranjak ke kamar, Zee mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


Zee mengerutkan kening saat membaca pesan yang baru saja masuk pada nomor ponselnya tersebut.


Pacaran berkedok persahabatan. Sampai rela mengambil gebetan sahabatnya sendiri.


•••


Ada yang sudah baca bab ini di TCP? 


Sebagian sudah ada. Othor kasih detailnya di sini.

__ADS_1


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan puasa.


__ADS_2