Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 74


__ADS_3

Ken masih mendengarkan perkataan sang daddy dari seberang sana. Ponselnya masih menempel pada telinga saat Ken berjalan menuju teras samping. Dia ingin berbicara tanpa di dengar oleh Gitta.


"Baik, Dad. Aku mengerti. Sampaikan juga kepada Om Arya, aku mau ikut sekalian."


"Eh, ngapain kamu ikut? Kamu baru sakit, Ken. Jangan aneh-aneh. Daddy nggak mau sakit kamu kambuh. Kamu mau Gitta dan mommy kamu ngomel-ngomel terus, begitu?"


Ken menghembuskan napas beratnya. Benar apa yang dikatakan oleh sang daddy. Dia tidak akan sanggup mendengarkan dua wanita kesayangannya mengomel sepanjang hari. Bahkan, omelannya tersebut bisa bertahan selama beberapa hari. Tentu saja Ken lebih memilih cara yang aman.


"Baiklah, Dad. Aku tidak akan ikut. Nanti aku bantu Daddy untuk berbicara dengan Mommy. Kali ini, aku sudah bosan jika main-main terus, Dad."


"Daddy juga merasa seperti itu. Kali ini, Daddy tidak akan tinggal diam. Siapapun yang akan mengusik keluarga kita, Daddy benar-benar akan membuatnya menyesal seumur hidup." Terdengar gertakan gigi daddy Vanno dari seberang sana.


Ken yang sudah sangat mengenal sang daddy merasa sedikit ngeri. Jangan tanyakan bagaimana daddy Vanno jika sudah marah, dia bisa menjadi orang yang tidak akan mudah memberi ampun. Entah mengapa bisa seperti itu. Sepertinya, trauma masa kecil daddy Vanno masih membekas.


Setelah mematikan panggilan telepon dengan sang daddy, Ken segera menghubungi Om Arya. Dia ingin mengkonfirmasi langsung tentang rencana sang daddy. Cukup lama Ken berbicara dengan Om Arya di telepon. Setelah memastikan semuanya, Ken segera mematikan panggilan tersebut. Dia langsung beranjak menuju kamar sang putra.


Langkah kaki Ken terhenti saat melihat Gitta keluar dari kamar. "Zee sudah tidur, Yang?"


"Sudah, Mas. Kamu dari mana?" Gitta menatap Ken dengan tatapan menyelidiknya.


"Dari teras. Barusan Daddy telepon."


"Apa ada masalah, Mas?"


"Nggak ada, Yang. Hanya urusan pekerjaan."


Gitta masih mengernyitkan keningnya. "Proyek kemarin yang di Surabaya?"

__ADS_1


"Iya. Tinggal beberapa sih sebenarnya." Ken masih berusaha untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Gitta mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


***


Sore itu, mommy Retta langsung mampir ke rumah Ken setelah pulang dari hotel. Hal yang sama juga dilakukan oleh sang daddy. Daddy Vanno juga langsung menuju rumah Ken setelah pulang dari kantor.


"Mamaaaaa!" Zee langsung melompat dari posisinya di atas karpet saat melihat kedatangan mommy Retta.


"Zee, Sayaannngg." Mommy Retta langsung merentangkan kedua tangannya.


Grep.


Zee menabrakkan tubuhnya pada kaki mommy Retta. Seketika mommy Retta langsung menciumi pipi gembul sang cucu.


"Geyyi, Ma. Geyyi." Zee mendorong wajah mommy Retta agar menjauh. Mendapati tingkah sang cucu, mommy Retta hanya bisa tergelak.


"Jadi, Om Arya sudah memiliki informasi, Dad?"


"Sudah. Untuk mendapatkan informasi seperti itu, bukanlah hal yang sulit bagi Om Arya."


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Daddy tidak akan membiarkan orang yang sudah mengusik keluarga kita bebas di luar sana. Asal kamu tahu Ken, mereka sudah mengusik GC di Dubai. Daddy pastikan, akan membuat mereka menyesal telah mengusik keluarga kita. Gio Chavandri." Daddy Vanno menggertakkan giginya. Wajahnya terlihat sekali sedang menahan amarah.


Ken yang melihat reaksi daddy Vanno, benar-benar langsung bergidik ngeri. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh sang daddy secara detail. Tapi yang pasti, Ken sangat yakin jika Chavandri Industry, sebentar lagi hanya akan tinggal nama.

__ADS_1


Malam itu, Daddy Vanno dan mommy Retta menginap di rumah Ken. Seperti biasa, Zee langsung merengek minta tidur dengan kakek dan neneknya. Mommy Retta segera membawa sang cucu untuk tidur. Sementara Ken dan daddy Vanno, masih bercengkrama di ruang tengah.


Menjelang pukul sebelas malam, Gitta turun ke dapur dan melihat suami dan mertuanya masih mengobrol. Jika tidak dihentikan, bisa dipastikan kedua laki-laki beda generasi tersebut akan mengobrol hingga pagi. Apalagi, Kan baru saja sakit.


Setelah kwmbali ke dalam kamar, Gitta segera mengambil ponselnya dan meminta tolong mommy Retta agar menyuruh kedua laki-laki tersebut beristirahat. Gitta masih merasa sungkan jika harus meminta daddy Vanno tidur.


Tak berapa lama kemudian, mommy Retta terlihat keluar dari kamarnya yang ada di rumah Ken. Mommy berjalan menghampiri kedua laki-laki yang sedang asyik mengobrol tentang otomotif tersebut.


"Kalian ini seperti tidak ada waktu lain lagi masih ngobrol jam segini. Ken, kamu itu baru sakit. Seharusnya banyak-banyak istirahat. Ini lagi yang tua juga ngajarin." Mommy Retta berdiri di belakang Ken dan daddy Vanno sambil berkacak pinggang.


Sontak saja Ken dan daddy Vanno menoleh ke arah mommy Retta. Mereka cukup terkejut saat melihat mommy Retta tiba-tiba berada di belakangnya.


"Eh, Yang?" Daddy Vanno langsung memutar tubuhnya menghadap sang istri.


"Apa yang yang segala. Nggak bisa lihat jam ini sudah malam?" Mommy masih menatap ke arah daddy Vanno dan Ken dengan tatapan tajamnya.


"Bisa kok, Yang. Itu pukul sepuluh lebih lima puluh lima menit," ucap daddy Vanno tidak menyadari bahaya yang akan dialaminya.


"Sudah tahu hampir jam sebelas malam masih ngobrol kamu, Mas? Kalian, nggak usah masuk kamar. Nanti tidur saja di luar berdua," ucap mommy Retta sambil berbalik menuju kamar tidur.


Sontak saja kedua pasang mata Ken dan daddy Vanno membulat dengan sempurna. Mereka buru-buru beranjak berdiri dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar. 


"Sepertinya aku juga akan tidur di luar ini, Dad," ucap Ken sambil mengekori sang daddy.


"Benar. Kamu ambil kunci cadangan dulu gih. Daddy nggak mau kedinginan. Semalam daddy di anggurin sama mommy kamu."


Ken hanya mencebikkan bibirnya. Namun, dia segera beranjak menuju tempat menyimpan kunci cadangan kamar. 

__ADS_1


\=\=\=


Sebentar lagi Zee dewasa ya, mohon sabar dulu. 


__ADS_2