
Hari itu, Kiara harus menginap semalam di rumah sakit karena kondisinya yang masih sangat lemah. Dengan telaten, Zee menemani dan membantu sang istri.
"Mas, kamu belum makan malam. Jangan sampai telat makan. Aku nggak mau kamu sakit nanti." Kiara masih mengusap-usap rambut Zee.
Ya, sejak tadi, Zee masih menempel erat pada Kiara. Bahkan, wajahnya masih menguyel-uyel perut Kiara yang masih rata tersebut. Tadi siang, setelah mengetahui berita kehamilan sang istri, Zee langsung meminta dokter untuk memeriksanya kembali. Zee ingin mengetahui secara langsung calon buah hatinya.
"Nanti saja." Zee masih mendusel pada perut Kiara. Dan kini, wajahnya juga sudah semakin naik. Kiara yang merasa sudah tidak aman, berusaha untuk menjauhkan wajah sang suami. Namun, bukan Zee namanya jika menurut begitu saja. Dia semakin bersemangat uyel-uyel perut sang istri.
"Mas, nanti kamu sakit jika telat makan. Makan dulu, gih." Kiara masih mengusap surai hitam sang suami dengan lembut.
Zee mendesahkan napas ke udara. Dia menjauhkan wajahnya dari perut sang istri. Tangan kanannya terulur untuk meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Zee mengotak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengantarkannya makan malam.
Kiara masih menatap wajah sang suami saat menelepon. Dia benar-benar bersyukur memiliki suami seperti Zee dan keluarga seperti keluarga barunya saat ini.
__ADS_1
Zee, yang pada saat awal-awal pernikahan terlihat sangat dingin dan cuek, kini sudah berangsur-angsur berubah. Dia sudah mulai tidak malu-malu lagi memanggil Kiara dengan panggilan 'sayang'. Bahkan, dia juga sudah tidak canggung lagi menggoda sang istri agar mau di ajak duet maut di atas ring empuk.
Awalnya, Kiara merasa malu saat Zee menggodanya. Namun, seiring berjalannya waktu, Kiara mulai bisa mengimbangi 'keinginan' generasi keempat Geraldy tersebut. Bahkan, Kiara tidak malu-malu lagi mengeluarkan ekspresi saat tengah bergulat. Dia sudah tidak menahan apapun lagi sekarang.
Zee yang menyadari jika Kiara sedang menatapnya, langsung menoleh. Hal itu membuat Kiara terkejut dan malu karena kepergok tengah menatap sang suami. Dia buru-buru memalingkan wajah. Melihat tingkah menggemaskan sang istri, Zee langsung beringsut mendekat.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu tergoda melihatku, hhmmm?" Zee mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara. Bahkan, Zee dengan berani menggesek-gesekkan ujung hidungnya pada pipi hingga rahang sang istri.
Tindakan Zee tersebut, benar-benar membuat jantung Kiara kebat-kebit. Meski sudah mulai terbiasa dengan sentuhan Zee, namun Kiara masih saja merasa gugup saat mendapati perlakuan yang tiba-tiba tersebut.
"Eehmmm, hhmmmmmpppphh." Zee langsung menyambar leher putih mulus tersebut. Alhasil, stempel alami pun tercetak dengan jelas di sana.
Bukannya mendorong wajah sang suami, Kiara jadi ikut terbawa permainan Zee.
__ADS_1
"Eemmhhhhh, Maaasss?" Kiara hanya bisa memejamkan mata sambil meremass sprei dengan erat. Bibirnya terbuka dan kepala mendongak saat bibir Zee menjelajahi lehernya. Napas Kiara mulai memburu saat tangan kiri Zee mulai menjelajah bukit gundul menggemaskan tersebut.
Ketika udara di ruang rawat tersebut sudah mulai panas akibat ulah kedua insan tersebut, terdengar suara ketukan pintu. Secepat kilat Zee melepaskan tangan dan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Kiara. Kiara buru-buru menarik bajunya yang sudah mulai tersingkap dan segera menarik selimut hingga menutupi jawahnya yang memerah karena malu.
Setelah mengatur napas, Zee segera berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Ceklek.
Terlihat seseorang membawakan makan malam untuk Zee. Zee segera menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Kiara masih menutupi wajahnya karena merasa malu dengan reaksi tubuhnya.
Astaga, kenapa tubuhku jadi jujur seperti ini? Apakah ini salah satu pengaruh dari hormon kehamilan? Batin Kiara.
\=\=\=
__ADS_1
Kira-kira, nanti akan ada ngidam aneh-aneh nggak ya? Semoga nggak seaneh pendahulunya 🤧
Jangan lupa tinggalkan jejak buat Zee ya 🤗