Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 111


__ADS_3

Hari itu, Zee dan seluruh keluarganya ikut mendaftarkan pernikahannya. Seluruh persyaratan yang diperlukan, sudah disiapkan semuanya oleh asisten sang daddy.


Setelah semuanya selesai, Zee bertugas mengantar para wanita pulang. Sementara sang daddy dan papa, hendak pergi ke cabang GC. Sebelum pulang, Zee mengantarkan sang mommy belanja untuk keperluan acara nanti malam. Akan ada tahlilan tiga hari meninggalnya nenek Kiara. Acara tahlilan akan digelar hingga tujuh hari meninggalnya nenek Kiara.


Sesampainya di rumah, para wanita segera berkutat di dapur. Meskipun sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya, namun mereka turun tangan juga.


Acara tahlilan dimulai pada pukul tujuh malam. Pada saat itu, Ken juga memberitahukan jika Zee sudah menikah dengan Kiara. Ken dan keluarga tidak ingin ada berita miring tentang Zee di kemudian hari. Untuk acara syukuran pernikahan, akan dilaksanakan setelah acara nenek Kiara selesai.


Menjelang pukul sebelas malam, Zee berjalan menuju kamar. Semua rangkaian acara sudah selesai. Dia berniat untuk segera beristirahat. Kiara bahkan sudah beranjak menuju kamar sejak lima belasan menit yang lalu.


Ceklek.


Zee membuka pintu kamar. Dia mengedarkan pandangan di seluruh kamar, namun tidak menemukan keberadaan Kiara. Namun, Zee mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian, terlihat Kiara keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah. Kedua pasang mata mereka bertatapan. Kiara masih terlihat canggung saat bersama dengan Zee.


"Ehm, mau bersih-bersih sekarang, Mas?" tanya Kiara ragu-ragu.


"Iya."

__ADS_1


"Aku akan siapkan baju gantinya." Kiara buru-buru berjalan menuju walk in closet.


Zee yang melihat tingkah Kiara hanya bisa menggelengkan kepala. Setelah itu, dia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, Zee sudah selesai membersihkan diri. Dia segera mengambil baju ganti yang sudah disiapkan oleh sang istri dan membawanya menuju kamar ganti.


Kiara masih belum tidur. Dia ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk sang suami. Saat dia kembali ke kamar, terlihat Zee juga sudah selesai mengganti baju.


"Minumnya, Mas," ucap Kiara sambil meletakkan air minum di atas nakas.


"Terima kasih."


Kini, keduanya sudah duduk di atas tempat tidur. Mereka sudah sepakat untuk mengobrol sebentar sebelum tidur.


Ya, siang tadi Gitta memang memberikan tawaran kepada Kiara untuk melanjutkan kuliah. Namun, Kiara belum menyetujuinya.


Kiara masih terlihat bingung. Kalau boleh jujur, tentu saja dia ingin melanjutkan kuliah. Namun, dia masih terlihat ragu. Kiara merasa dia masih perlu beradaptasi dengan keluarga barunya dan juga keadaan kota Jakarta. Usianya juga masih delapan belas tahun. Jadi, walaupun menunda satu tahun lagi, tentunya tidak masalah, kan?


"Ehm, apa tidak apa-apa jika aku kuliah, Mas? Maksudku, aku kan masih baru di keluarga ini. Aku perlu menyesuaikan diri. Belum lagi jika aku juga belum mengenal kota ini. Aku hanya khawatir nanti akan merepotkan jika memutuskan kuliah sekarang." Kiara masih menundukkan kepala sambil meremass tangannya. Dia terlihat masih sungkan.


Zee mencerna perkataan Kiara dengan baik. Memang ada benarnya apa yang dikatakan sang istri. Bukan maksudnya dia akan keberatan jika harus mengantar dan menjemput Kiara ke kampus, tapi Zee juga ingin Kiara mengenal kota baru tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Ehm, aku setuju jika kamu ingin menyesuaikan diri dulu. Tapi setidaknya, pikirkan juga untuk melanjutkan kuliah. Bukan karena apa-apa, tapi kami sekeluarga memang sangat mendukung pendidikan."


"Mungkin, semester genap ini bisa kamu manfaatkan untuk beradaptasi dulu. Dan, aku harap, tahun ajaran baru kamu bisa kuliah," ucap Zee.


Kiara terlihat menoleh ke arah Zee. Wajahnya tampak sumringah. Dia menganggukkan kepala dengan ekspresi leganya.


"Iya, Mas. Aku juga berpikir seperti itu tadi. Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak atas pengertiannya." Kiara masih menyunggingkan senyumannya.


"Hhhmmm. Sekarang sudah larut. Istirahatlah."


"Iya." Kiara memperbaiki posisi tidurnya. Dia segera menarik selimut hingga menutupi tubuh.


"Oh iya. Kamu tidak punya ponsel?" tanya Zee. Dia lupa menanyakannya. Selama beberapa hari ini, Zee memang tidak pernah melihat Kiara menggunakan ponsel.


Kiara menggelengkan kepala. Dia memang tidak pernah punya ponsel. Dulu sebelum ayahnya meninggal, Kiara sempat punya ponsel. Namun, setelah ayahnya meninggal Kiara menjual semua barang-barang yang dimilikinya untuk biaya hidup serta untuk membelikan obat sang nenek.


"Besok akan aku belikan ponsel baru. Aku tidak mau kesulitan berkomunikasi denganmu nanti," ucap Zee.


"I-iya, Mas. Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2