
Ken sedikit menyingkir saat menerima telepon tersebut. Ken tidak ingin ada yang mendengar saat dirinya menjawab panggilan telepon.
"Kamu sudah menemukan sesuatu?" tanya Ken setelah berhasil menjauh dari Wawan.
"...."
Kening Ken kembali berkerut saat mendengar jawaban dari seberang sana.
"Kamu yakin?"
"...."
"Baiklah. Aku ingin semua bukti dengan jelas. Aku tidak mau kamu melakukan kesalahan sekecil apapun. Ingat Juan, ini menyangkut putraku. Kamu tau aku tidak akan pernah bermain-main dengan segala sesuatu yang menyangkut keluarga, bukan?"
"...."
Tut. Ken segera menutup panggilan telepon tersebut setelah mendapatkan penjelasan dari Juan. Ya, orang yang baru saja menghubungi Ken adalah Juan. Dia melaporkan apa yang sudah ditemukannya.
__ADS_1
Kenapa bisa secepat itu? Tentu saja hal itu karena Juan memiliki jaringan yang benar-benar luas dan dapat dipercaya.
Ketika Ken hendak kembali menghampiri Zee dan Gitta, ponselnya kembali berdering. Kali ini, terlihat nama sang daddy yang menghubunginya. Ken segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, Dad."
"Ken, aku baru saja mendapat informasi tentang kecelakaan yang menimpa Zee. Kamu sudah bergerak, kan?" tanya Papa Vanno dari seberang sana.
Ken hanya bisa mendesahkan napas ke udara sebelum menjawab pertanyaan daddynya tersebut. Tidak heran mengapa daddynya itu bisa langsung mengetahui apa yang tengah dialami oleh Zee. Semua informasi itu pasti diperoleh dari Om Hansen, ayah Juan, yang juga masih bekerja untuk Papa Vanno meskipun lebih banyak di belakang layar.
"Iya, Dad. Daddy tenang saja. Aku sudah tahu harus melakukan apa, kok," jawab Ken.
Ken hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia sudah sangat hafal dengan sikap sang daddy. Meskipun sudah berusia enam puluh tahun lebih, namun daddynya tersebut masih saja gercep dalam segala hal. Apalagi, jika berkaitan dengan keluarganya.
"Iya, Dad. Daddy tenang saja. Aku pasti akan segera membereskan masalah ini secepatnya."
"Aku pegang ucapan kamu. Satu lagi, jangan sampai Mommy kamu mengetahui masalah ini. Jika sampai Mommy kamu tau, dia pasti akan merengek untuk segera pulang. Daddy masih mau menikmati liburan disini," ucap Papa Vanno.
__ADS_1
Namun, belum sempat Ken menjawab ucapan sang daddy, terdengar sebuah suara dari seberang sana.
"Apa yang mau kalian sembunyikan dariku, Mas?" Terdengar suara Mama Retta dari seberang sana. Setelahnya, Ken tidak mendengar suara apa-apa lagi karena panggilan telepon tersebut langsung dimatikan secara sepihak oleh papa Vanno.
Ken hanya bisa mendesahkan napas beratnya. "Sepertinya, kita tidak akan pernah bisa menyimpan rahasia dari para wanita di rumah kita, Dad," gumam Ken sambil kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
Setelah itu, Ken segera berjalan untuk menghampiri Zee dan Gitta. Dia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Wawan dan seorang temannya tadi, namun tetap tidak menemukan keberadaan mereka.
"Kemana perginya laki-laki tadi?" tanya Ken sambil mendudukkan diri di samping Gitta.
"Entahlah, Dad. Mereka tiba-tiba saja pergi begitu saja."
Gitta menoleh ke arah Ken masih dengan mata berkaca-kaca. Melihat tatapan Gitta, Ken bisa tahu jika sang istri ingin menanyakan kelanjutan kejadian yang menimpa Zee.
"Aku tau apa yang mau kamu tanyakan, Yang. Nanti akan aku ceritakan semuanya. Tapi, kita harus menemui dokter dulu sebelum itu."
\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Klik like dan komen sebanyak-banyaknya, biar othor nggak merasa sendiri. 🤧
Sambil nunggu up, silahkan mampir di cerita baru othor 'Tetangga Kamar'. Sudah ada yang mampir kah?