Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 159


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh sang daddy semalam, Zee bisa mengetahui sendiri adanya sengketa yang terjadi antara pihak warga dengan pihak Prasojo. Zee dan Johan memang langsung melakukan survei di perbatasan lahan yang langsung bersinggungan dengan warga.


Dari beberapa warga di sana, Zee mendapatkan informasi yang cukup tentang sengketa tersebut. Bahkan, salah seorang dari warga yang bersengketa tersebut adalah seorang RT di dusun tersebut.


Zee dan Johan memang sengaja datang lebih pagi. Mereka sebenarnya, ada janji dengan pihak Prasojo pukul sepuluh di vilanya yang terletak di bagian timur.


Setelah cukup lama mengobrol, Johan segera mengajak Zee untuk berpamitan. Namun, sebelum mereka benar-benar pergi, ada seseorang yang memberikan sebuah amplop kepada Johan. Kening Zee berkerut saat melihat amplop tersebut.


"Apa itu, Om?" tanya Zee sambil menatap amplop yang dibawa oleh Johan.


"Oh, ini bukti yang sudah didapatkan Tuan Vanno, Mas Zee. Semuanya sudah ada di sini."


Zee langsung mendengus kesal. "Jika Papa sudah punya semua buktinya, kenapa harus repot-repot meminta kita melakukan ini?"


Johan yang sudah menduga jika Zee akan menggerutu pun hanya bisa tersenyum sambil berjalan menuju mobil. Setelah memasuki mobil, Johan mulai menjelaskan alasan sang kakek memintanya untuk melakukan hal itu.


"Begini, Mas Zee. Sebenarnya, Tuan Vanno memang tidak berminat untuk membeli lahan tersebut. Lahan itu banyak sekali sengketa. Namun, beliau juga tidak bisa serta merta menolaknya. Pak Prasojo, masih mempunyai citra yang baik di kalangan pengusaha. Jika Tuan Vanno langsung menolaknya saat penawaran waktu itu, pasti Pak Prasojo akan tersinggung. Dan, hal itu juga tidak menutup kemungkinan jika berita itu tidak akan menyebar keluar."

__ADS_1


"Jadi, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan hal ini. Tuan Vanno sudah menyiapkan semuanya di dalam amplop itu, Mas Zee. Jadi, nanti bisa langsung disampaikan kepada tim Pak Prasojo," ucap Johan.


Lagi-lagi Zee mengerutkan kening sambil menatap amplop tersebut. "Apa isinya?"


"Dibuka saja, Mas Zee."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zee langsung mengambil amplop tersebut dan membukanya. Zee mulai mengeluarkan isinya dan mulai membaca. Zee cukup terkejut saat melihat isi amplop tersebut. Dia menoleh ke arah Johan dengan tatapan bingung.


"Surat pernyataan bermaterai untuk tidak bersedia menjual lahan? Ini maksudnya apa, Om?" Zee masih bingung dengan apa yang ada di depannya tersebut.


"Itu adalah surat pernyataan yang dibuat oleh saudara-saudara Pak Prasojo, Mas. Sebenarnya, lahan itu bukan semuanya milik Pak Prasojo. Ada tiga orang lainnya yang juga memiliki bagian dari lahan tersebut. Ketiga orang itu adalah adik kandung Pak Prasojo yang semuanya perempuan. Dua orang tinggal di luar Jawa, dan satu lagi sudah meninggal."


"Namun, salah seorang dari adik Pak Prasojo  meninggal karena kecelakaan. Sedangkan yang dua lainnya, tinggal di luar pulau Jawa. Jadi, besar kemungkinan kedua adik Pak Prasojo tersebut tidak mengetahui jika lahan itu akan dijual." Johan masih menjelaskan.


"Jadi, kemungkinan besar ini adalah aksi sepihak dari Prasojo begitu, Om?"


"Kemungkinan besar iya, Mas. Informasi dari utusan Tuan Vanno, kedua adik Pak Prasojo tidak mengetahui perihal rencana penjualan tersebut."

__ADS_1


Zee mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya, dia sudah mulai mengerti duduk permasalahan tersebut.


"Baiklah, Om. Sudah ada bukti, mari kita segera selesaikan ini secepatnya."


"Baik, Mas. Kita pasti bisa segera menyelesaikannya dengan cepat."


Saat mobil yang dikemudikan Johan hendak berbelok memasuki kawasan villa Prasojo, ponsel Zee kembali bergetar. Zee buru-buru mengambilnya dan memeriksa siapa penelepon pagi itu.


Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya, Zee langsung menyambungkan panggilan telepon tersebut.


"Hallo, Yang."


"Hiks hiks, Mas. Da-darah,"


"Apa?!"


\=\=\=\=

__ADS_1


Hayo lho apa itu?


Masih hari senin, sisihkan vote buat Zee ya. Terima kasih. 🤗


__ADS_2