
Zee masih memeluk Kiara sambil mengusap-usap punggungnya. Sesekali kecupan-kecupan kecil diberikan Zee pada pucuk kepala sang istri. Dia membiarkan Kiara menuntaskan tangisnya.
Setelah cukup lama menangis, Kiara akhirnya melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Zee lekat-lekat. Kiara merasa lega saat tidak melihat luka pada wajah maupun tubuh suaminya tersebut.
"Kamu nggak apa-apa kan, Mas? Nggak ada luka? Nggak harus ke rumah sakit, kan?" Kiara masih panik meskipun sudah melihat Zee baik-baik saja.
Zee memegang tangan Kiara dan mengusap air mata yang masih tersisa pada wajah istrinya tersebut.
"Aku baik-baik saja, Yang. Kamu tidak usah khawatir," ucap Zee berusaha menenangkan Kiara.
"Aku khawatir sekali tadi, Mas. Pikiranku benar-benar kalut. Apalagi, sejak tadi pagi aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Dan, saat ada yang mengirimkan pesan dan memberitahukan jika kamu mengalami kecelakaan, aku semakin panik. Ditambah lagi, ponsel kamu tidak bisa dihubungi. Aku semakin panik, Mas." Kiara kembali memeluk tubuh sang suami. Dia tidak malu lagi meskipun ada mertuanya di sana.
Zee mengusap-usap bahu Kiara dengan dengan lembut. Dia membiarkan istrinya tersebut menumpahkan tangisnya. Ken yang menyadari sesuatu, langsung bersuara.
"Siapa yang mengirimi kamu pesan, Kia?"
__ADS_1
Kiara melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Ken. Kepalanya menggeleng sambil tangannya mengusap air mata.
"Aku nggak kenal, Dad. Hanya nomor asing yang mengirimkan pesan. Dia mengirimkan foto saat Mas Zee tengah berada di kerumunan. Aku langsung panik saat itu. Aku juga mencoba menghubungi nomor tersebut namun tidak aktif, Dad."
"Bisa lihat nomornya?" pinta Ken.
Kiara segera merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel. Setelah itu, dia membuka aplikasi perpesanan dan menunjukkan pesan tersebut kepada Ken.
Setelahnya, Ken terlihat mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Setelah dirasa cukup, Ken mengembalikan ponsel tersebut kepada Kiara.
"Kamu tidak usah khawatir. Kami akan mengurus masalah ini dengan baik. Zee juga tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir. Ingat, sekarang sudah ada Gen diantara kalian. Jangan sampai kesedihan kamu ikut berpengaruh pada Gen," ucap Ken.
Gitta juga langsung beranjak menghampiri Kiara. Dia berusaha meyakinkan jika semuanya baik-baik saja. Semua khawatir jika Kiara terlalu kepikiran tentang masalah Zee, dan akan berakibat pada Gen nanti.
Setelah cukup tenang, Kiara dan Zee segera beranjak ke kamar untuk membersihkan diri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Gitta. Namun, Ken tidak langsung beranjak. Dia berjalan menuju teras belakang untuk menghubungi seseorang. Sudah bisa dipastikan jika orang tersebut adalah Juan.
__ADS_1
"Kamu sudah menerima pesanku?"
"Iya, sudah, Pak Ken."
"Sepertinya, foto yang dikirim itu diambil di tempat kejadian. Dan, orang yang melakukannya juga ada di sana. Sudah pasti dia mengenal keluargaku. Segera cari CCTV yang ada di sana. Pastikan, wajah orang tersebut terlihat dengan jelas," ucap Ken.
"Baik, Pak. Saya akan segera mencari tahu."
Setelah memastikan hal itu, Ken segera mematikan panggilan telepon. Dia harus memberitahu sang daddy tentang hal itu.
Tak butuh waktu lama, Ken yang saat itu baru saja selesai membersihkan diri, mendapat sebuah pesan dari Juan. Dia segera membuka pesan tersebut. Ternyata, pesan tersebut berisi sebuah rekaman CCTV yang berasal dari sebuah toko yang berada di seberang jalan tempat Zee mengalami kecelakaan.
Dari sana, terlihat sangat jelas siapa yang sedang memotret Zee. Dan, Ken mengetahui dengan benar siapa orang itu.
"Kamu mau bermain-main dengan keluargaku? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
__ADS_1
\=\=\=
Jika upnya lama, maafkeun. Reviewnya yg agak lama.