
Setelah mendapatkan beberapa wejangan dari sang daddy, Zee segera menjalankan mobilnya menuju tempat yang alamatnya sudah dikirimkan oleh Pak Iskandar. Tak butuh waktu lama bagi Zee untuk mencapai tempat tersebut.
Menjelang pukul dua, Zee sudah sampai di daerah yang dituju. Dia menyusuri jalanan daerah tersebut dengan mengikuti petunjuk pada ponselnya.
Zee celingak celinguk mencari tempat yang dimaksud. Sebuah rumah bergaya modern dengan sebuah mushola pribadi di sampingnya.
Begitu sampai di lokasi dan memastikan lokasi tersebut sudah benar, Zee segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah tersebut. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan menuju teras rumah.
Melihat kedatangan Zee, Pak Iskandar tergopoh-gopoh keluar menyambutnya.
"Selamat datang, Mas Zee." Pak Iskandar menyambut kedatangan Zee sambil menundukkan kepala. Pria berusia lima puluh tahun tersebut tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Pak." Zee menjawab sambil membalas uluran tangan Pak Iskandar.
"Mohon maaf membuat Mas Zee jadi jauh-jauh datang ke rumah orang tua saya ini. Kemarin, saya sudah mengajak warga itu untuk bertemu di kota. Tapi, mereka menolaknya, Mas."
Zee mengangguk-anggukkan kepala. "Tidak apa-apa, Pak. Ini rumah orang tua, Bapak?" tanya Zee sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Iya, Mas Zee. Tepatnya, rumah mendiang orang tua saya. Bapak saya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sedangkan ibu saya, meninggal satu tahun yang lalu."
"Jadi, rumah ini kosong? Tapi terlihat masih bersih, Pak."
__ADS_1
"Iya, rumah ini kosong, Mas. Keponakan saya dan suaminya yang menempati dan membersihkannya. Tapi, kemarin keponakan saya pergi ke rumah mertuanya. Mertuanya masuk rumah sakit."
Zee mengangguk-anggukkan kepala.
"Mari, Mas. Silahkan masuk dulu. Silahkan beristirahat. Para warga sudah berjanji akan datang pukul tiga. Jadi, Mas Zee bisa beristirahat sebentar." Pak Iskandar mempersilahkan Zee masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Zee mengikuti langkah kaki pak Iskandar memasuki rumah. Dia dipersilahkan untuk beristirahat di kamar tamu. Zee menurut dan segera membersihkan diri.
Menjelang pukul tiga, Zee sudah bersiap. Dia sudah siap untuk menemui para warga yang ingin bertemu dengannya. Pak Iskandar pun juga sudah bersiap.
Namun, menjelang pukul 15.30, para warga yang sudah berjanji untuk datang pun belum muncul. Pak Iskandar menjadi tidak enak. Dia langsung mencoba untuk menghubungi warga tersebut. Namun, semua ponsel mereka tidak bisa dihubungi.
"Bagaimana, Pak? Mereka masih belum bisa dihubungi?" Zee menoleh ke arah Pak Iskandar yang masih mengotak atik ponselnya.
"Mungkin masih hujan, Pak. Ini saja masih gerimis."
"Iya." Pak Iskandar mengangguk-anggukkan kepala.
Namun, hingga menjelang pukul lima sore, keempat warga tersebut masih belum juga datang. Pak Iskandar terlihat semakin tidak enak kepada Zee. Melihat hal itu, Zee langsung berusaha menenangkan pria paruh baya tersebut.
"Tidak apa-apa, Pak. Jika mereka belum datang, kita bisa menemui mereka esok hari."
__ADS_1
"Eh, tidak apa-apa, Mas?"
"Tidak apa-apa, Pak. Aku masih lama berada di sini." Zee berusaha menenangkan Pak Iskandar yang masih terlihat khawatir.
Pak Iskandar terlihat lega. Dia menghembuskan napas lega setelah mendengar jawaban Zee.
"Syukurlah kalau begitu. Eehmm, apa nanti malam Mas Zee mau menginap di sini?"
Zee terlihat menimbang-nimbang sebelum menjawab. Dia berpikir jika kembali ke kota, akan membutuhkan waktu sedikitnya dua jam perjalanan. Zee merasa cukup lelah.
"Jika tidak merepotkan boleh, Pak."
"Tentu saja tidak merepotkan, Mas. Tapi, nanti saya tidak bisa menemani Mas Zee. Saya harus menjemput istri saya, Mas." Pak Iskandar terlihat tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa sendiri, kok."
"Kalau tidak keberatan, nanti Mas Zee bisa ditemani cucu saya."
"Boleh, jika tidak merepotkan."
\=\=\=
__ADS_1
Sudah kelihatan apa belum ya jodoh Zee? 🤔