Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 205


__ADS_3

Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya, Ken bisa saja berbohong kepada Gitta. Namun, Ken tahu jika dia tidak akan pernah bisa berbohong terhadap sang istri.


Ken sudah cukup kapok jika harus membohongi Gitta. Cepat atau lambat, istrinya tersebut pasti akan mengetahui hal yang sebenarnya. Dan, jika sampai itu terjadi, Ken pasti akan menerima ganjaran yang tidak main-main. Apalagi jika bukan pemblokiran 'medan pertempuran' yang sangat digemari oleh Ken.


Mendapati sang suami masih tidak menjawab pertanyaannya, Gitta menjadi semakin curiga. Dia berjalan mendekat ke arah Ken sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kamu yakin hanya mau ke bengkel, Mas?" Gitta mengulangi kembali pertanyaannya.


Sambil mendesahkan napas berat, akhirnya Ken memutuskan untuk memberitahu Gitta yang sebenarnya. Dia mulai menceritakan apa yang baru saja dialami oleh Zee.


Sebagai orang tua, tentu saja Gitta kaget. Dia ikut panik mengkhawatirkan keadaan sang putra. Kedua matanya tampak berkaca-kaca dan tangannya mulai bergetar.


Ken yang menyadari hal itu, langsung menarik Gitta ke dalam pelukannya. Dia mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut. Beberapa kecupan juga mendarat pada pucuk kepala sang istri.


"Sstt. Jangan menangis, Sayang. Zee baik-baik saja. Dia baru saja menghubungiku. Dia tidak mengalami luka apapun. Percayalah, putra kita baik-baik saja."

__ADS_1


Gitta masih terlihat menahan tangis. Dia bahkan kesulitan bersuara untuk menjawab ucapan Ken.


"Jangan menangis. Jika sampai Kia tau, dia pasti akan kepikiran nanti. Dan yang lebih parah, akan berdampak pada Gen. Kamu mau cucu kamu ikut terkena akibatnya jika sampai Kia terpengaruh berita ini?" tanya Ken.


Gitta baru menyadari ucapan sang suami ada benarnya. Dia buru-buru melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang sudah mulai menganak sungai tersebut.


Sambil mengedarkan pandangan, Gitta merapikan baju dan menepuk-nepuk pipinya agar tidak terlihat terlalu sedih.


"Aku ganti baju dulu, Mas. Aku ikut kamu ke rumah sakit," ucap Gitta sambil beranjak menuju kamar.


Ken hanya bisa mendesahkan naps ke udara. Jika sudah seperti itu, bisa dipastikan Ken tidak akan  isa menolak keinginan sang istri.


"Kia, Sayang. Mommy dan Daddy akan keluar dulu sebentar. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri?" tanya Gitta sambil berjalan menghampiri sang cucu yang tengah tidur di dalam box bayi.


Kiara yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi pun menoleh ke arah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Eh, Mommy dan Daddy mau kemana? Kok tumben keluar. Ini kan weekend?" tanya Kiara.


"Sebenarnya, Daddy kamu mau ambil mobil baru. Daddy bilang, mau punya mobil yang besar agar Gen bisa memasukkan banyak mainan di dalamnya," jawab Gitta sambil terkekeh. Dia berusaha sekali terlihat lebih tenang.


Kiara yang sudah mulai paham dengan keluarga barunya tersebut hanya bisa tersenyum.


"Iya, Mom. Mommy dan Daddy pergi saja. Hati-hati di jalan. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak sejak tadi, Mom," ucap Kiara. 


Ya, sebenarnya sejak tadi pagi Kiara merasa tidak nyaman. Entah mengapa dia merasa sangat gelisah. Mau ngapa-ngapain juga tidak nyaman. Itu yang dirasakan oleh Kiara.


Gitta berusaha tersenyum dan mengangguk.


"Pasti, Sayang. Ya sudah, Mommy berangkat dulu, ya. Jika ada apa-apa, langsung hubungi kami."


"Iya, Mom."

__ADS_1


\=\=\= 


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor, ya. Terima kasih. 🤗


__ADS_2