
"Kamu, ada hubungan apa dengan keluarga Geraldy?"
"Aku? Menantu di keluarga Geraldy," ucap Gitta sambil menatap ke arah Agus.
Dan, bagai disambar petir, wajah Agus mendadak pucat. Dia menatap ke arah Gitta dengan tatapan tidak percaya. Mita yang menyadari perubahan ekspresi Agus langsung mengernyitkan kening. Dia berjalan mendekat ke arah laki-laki itu, dan menggoyangkan lengannya dengan pelan.
"Ada apa, Beib? Apa ada masalah?" tanya Mita yang tampak khawatir.
Agus menolehkan wajah ke arah Mita. "Kamu sudah lama menjadi customer di sini?"
"Ya, lumayan lama, Beib. Sudah sejak sekitar tiga tahun yang lalu. Di sini bagus sekali kualitas dan pelayanannya. Aku juga sudah kenal baik dengan Bu Retta, Mbak Arini, dan Mbak Gitta. Memangnya ada apa, Beib?"
Agus hanya menggelengkan kepala tampak pasrah. Dia melirik Gitta sebentar. Sepertinya, Agus tidak akan berani lagi mengata-ngatai Gitta sembarangan lagi.
Gitta yang sebenarnya mengerti apa yang menyebabkan perubahan pada sikap Agus, hanya bisa diam. Dia tetap memasang ekspresi biasa saja, seolah tidak mengerti apa-apa.
Setelah itu, Gitta segera mengajak Mita ke ruangannya. Ya, Mita dan Agus memang akan memesan baju untuk acara pertunangan mereka dua bulan lagi. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Mita membuat janji dengan Gitta.
Agus yang melihat sang calon tunangan sangat antusias, hanya bisa pasrah. Dia mengikuti saja apapun keinginan Mita.
Saat ini, Gitta, Mita, dan juga Agustino sudah berada di ruangan Gitta. Ruangan tersebut berada di seberang ruang kerja mommy Retta, dan berada tepat di samping ruangan Mbak Arin.
"Beib, menurutmu, bagusan warna ini atau ini?" tanya Mita sambil menunjukkan dua buah warna kepada Agus.
Saat itu, Agus memang tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan apa yang disampaikan oleh Mita. Pikirannya sudah menjalar kemana-mana. Dia cukup khawatir jika Gitta akan membalas perlakuannya dan para teman-temannya dulu. Menurut Agus, dengan posisi Gitta sekarang, bukan tidak mungkin jika hal itu tidak akan terjadi.
__ADS_1
Mita yang tidak mendapat jawaban dari Agus langsung menoleh ke arah laki-laki tersebut. Bukannya memperhatikan apa yang ditunjukkan oleh Mita, Agus justru memperhatikan Gitta yang tengah membersihkan wajah Zee yang belepotan karena remahan biskuit.
"Kamu ini kenapa sih, Beib? Kamu serius nggak sih ingin ikut? Jika kamu tidak mau, silahkan pulang saja! Biar aku sendiri yang memilih baju-baju ini." Mita sangat kesal saat Agus tidak bisa diajak bekerja sama.
Mendapati sang calon tunangan sedang marah, Agus langsung buru-buru mengalihkan pandangan. "Eh, nggak gitu, Yang. Maaf, maaf. Aku nggak konsen tadi. Coba, mana aku lihat," pinta Agus sambil menarik katalog yang tadi sempat disodorkan oleh Mita.
Gitta yang menyadari interaksi Agus dan Mita, hanya bisa menggelengkan kepala. Dia kembali membersihkan bibir Zee yang penuh dengan remahan biskuit.
"Zee, Sayang tunggu dulu, ya. Mommy sedang ada tamu. Zee main di sini dulu, okay?" ucap Gitta sambil menatap wajah sang putra.
"Ote."
Zee selalu berhasil membuat Gitta gemas. Dia langsung memberondong sang putra dengan kecupan bertubi-tubi. Tentu saja hal itu membuat Zee kegelian.
Gitta langsung tergelak setelah mendengar perkataan sang putra. Interaksi Zee dan Gitta tersebut, tak luput dari perhatian kedua orang yang juga tengah berada di ruangan tersebut. Setelahnya, Gitta segera beranjak meninggalkan Zee yang langsung bermain mobil-mobilan, dan berjalan untuk menemui Mita.
Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya tercapai sebuah kesepakatan. Mita tampak sangat bahagia, sedangkan Agus terlihat cukup kesal. Setelah itu, mereka berdua segera berpamitan.
Tak berapa lama setelah Agus dan Mita keluar, datanglah Mbak Risa dengan membawa semangkuk melon yang sudah dipotong-potong. Dia berjalan ke arah Zee yang sedang memainkan mainannya. Balita tersebut menoleh saat merasakan ada yang mendekat ke arahnya.
"Zee mau ini?" Mbak Risa menawarkan potongan melon tersebut kepada Zee.
Sontak saja wajah Zee langsung berbinar bahagia. "Jaaaa meyyooon. Ji auuu." Zee langsung melompat-lompat senang.
Mbak Risa langsung duduk bersila di samping Zee dan mulai menyuapi balita tersebut. Gitta yang sedang membereskan meja kerjanya hanya bisa mengulas senyuman.
__ADS_1
"Jadi, sudah fix Mbak Risa pindah ke Surabaya?" tanya Gitta di sela-sela aktivitasnya.
"Iya, Gitt. Mau bagaimana lagi. Aku harus ikut kemana Mas Bagus dipindahtugaskan," jawab Mbak Risa sambil menyuapi Zee.
"Ya, memang harus begitu, Mbak. Namanya juga abdi negara. Tapi, nanti Mbak Risa bisa pegang butik di Surabaya, Kan?"
"Iya, Git. Bu Retta juga sudah memintaku untuk melakukan hal itu."
"Alhamdulillah. Syukur deh kalau begitu."
"Tapi, aku masih khawatir dengan si Ellen, Git. Aku harus mulai cari-cari sekolah dan tempat bimbel mulai dari sekarang."
"Eh, memangnya kenapa?"
"Kamu kan tahu sendiri. Ellen meskipun sudah mulai masuk TK A, tapi dia masih kesulitan membaca. Entah mengapa dia sangat lemah dalam membaca. Padahal, untuk hitung-hitungan, dia lumayan lancar."
"Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga masih anak-anak. Jangan terlalu dipaksakan."
Belum sempat Mbak Risa menjawab perkataan Gitta, terdengar suara ponsel berbunyi.
Drrrttt drrrttt drrtttt.
\=\=\=
Ponselnya siapa itu?
__ADS_1