
Setelah mengantarkan Gen ke rumah sang mommy, Zee dan Kiara langsung bergegas pulang. Seperti biasa, Gen pasti akan sangat betah berada di rumah kakek dan neneknya. Dia bisa betah bermain disana lama-lama, bahkan dengan senang hati jika harus menginap.
Namun, hal itu jarang dilakukan karena ada yang suka rewel. Siapa lagi jika bukan Ken. Jika siang hari, dia pasti akan semangat empat lima menjaga dan mengajak bermain sang cucu. Namun, jika malam hari, dia pasti akan mencari seribu satu cara untuk mengajak Gen pulang.
Hhhhh, sudah jadi kakek pun masih saja nggak mau ngalah sama cucu. 🤧
Setelah memarkirkan mobilnya, Zee segera bergegas memasuki rumah. Kiara sudah lebih dulu masuk dengan membawa perlengkapan Gen.Â
Saat Kiara hendak menaiki tangga, Bi Ani memanggilnya dari arah belakang.
"Mbak Kia, tadi ada yang kirim bunga," ucap Bi Ani sambil berjalan mendekat ke arah Kiara.
Kiara menghentikan langkah kakinya dan mengerutkan kening bingung. Bi Ani mengambil buket bunga yang cukup besar, dan berjalan menghampiri Kiara.
Belum sampai Kiara bertanya, tiba-tiba Zee sudah menyahuti dari arah garasi. "Bunga dari siapa, Bi?" tanya Zee.
"Nggak tahu, Mas. Tapi ada amplop disini. Mungkin ada tulisan orang yang mengirimnya di dalam," Bi Ani menunjukkan sebuah amplop yang terselip di dalam buket bunga tersebut.
Zee menoleh ke arah Kiara dengan kedua alis terangkat. Mengerti apa maksud sang suami, Kiara langsung menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu, Mas."
Setelah itu, Zee berinisiatif mengambil bunga tersebut dari tangan Bi Ani.
"Berikan padaku, Bi," ucap Zee. Setelah itu, dia dan Kiara berjalan menuju kamar.
Zee meletakkan bunga tersebut di atas sofa. Sementara Kiara menyimpan barang-barang perlengkapan Gen. Dia sama sekali tidak tertarik dengan bunga tersebut. Bahkan, meliriknya pun Kiara tidak tertarik.
Hal berbeda justru dilakukan oleh Zee. Dia cukup penasaran siapa yang telah mengirimkan bunga untuk sang istri. Melihat Kiara tidak peduli dan hendak pergi ke kamar mandi, Zee pun bersuara.
"Ini nggak mau buka dulu amplopnya?"Â
Kiara menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menggeleng.
Karena masih penasaran, Zee pun akhirnya mengambil amplop tersebut dan mulai membuka isinya. Zee duduk di sofa yang ada di samping buket bunga tersebut. Setelahnya, Zee segera mulai membuka.
Awalnya, Zee mengerutkan kening saat melihat tulisan berbahasa Inggris di sana. Namun, setelah membaca surat pendek tersebut, Zee baru tahu siapa pengirim surat tersebut.
Dengan ekspresi kesal, Zee meletakkan surat tersebut di atas buket bunga dengan asal. Entah mengapa dia masih merasa kesal meski sudah membaca isinya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Kiara sudah selesai dengan aktivitas mandinya. Kiara pun juga sudah berganti baju. Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih menggulung rambutnya.
Tatapan mata Zee dan Kiara bertemu sekilas. Kiara bisa melihat tatapan kesal dari Zee. Dia berjalan mendekat ke arah Zee sambil bertanya-tanya.
"Ada apa, Mas?"
Sambil mencebikkan bibir, Zee menunjuk surat yang berada di atas buket bunga.
"Tuh, lihat saja sendiri."
Kiara menoleh dan melihat amplop surat yang terbuka. Dia mengambil surat tersebut dan langsung membacanya. Kedua bola mata Kiara membulat saat membaca isinya.
"Mr. Edward? Beliau sudah tahu jika Mas Zee suamiku?" tanya Kiara cukup kaget.
"Cckk. Iya. Kenapa? Kamu nggak suka jika dosen kamu itu tahu?"
"Eh, bu-bukan begitu, Mas."
"Lalu?"
__ADS_1
•••
Hayo nih, harus punya resep rahasia untuk menjinakkan singa ngamuk, Kia.