
Daddy Vanno tidak mengindahkan rengekan Ken. Dia tetap memanggil dokter untuk memeriksa Ken. Meskipun terlihat enggan diperiksa, Ken tetap meniruti keinginan sang daddy.
Ken berbaring di kamar yang berada di ruangan kerjanya. Dia menunggu doktet yang akan memeriksa. Tak berapa lama kemudian, dokter sudah datang. Dengan ditemani daddy Vanno, dokter Irwan memeriksa Ken.
"Ken kenapa, Dok?" tanya daddy Vanno kepada dokter Irwan saat melihat dokter Irwan sudah selesai memeriksa Ken. "Dia sakit apa?"
Dokter Irwan tersenyum sambil menoleh ke arah daddy Vanno dan Ken bergantian.
"Mas Ken tidak apa-apa Pak Vanno. Hanya tekanan darahnya saja yang rendah. Sepertinya, Mas Ken terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat. Untuk makannya, saya juga yakin Mas Ken tidak teratur makan."
Daddy Vanno mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya, daddy setuju dengan perkataan dokter Irwan. "Sepertinya memang begitu, Dok. Akhir-akhir ini, Ken memang banyak sekali pekerjaan. Dan aku yakin, dia pasti tidak memperhatikan pola makannya."
"Sepertinya begitu, Pak Vanno."
Ken yang mendengar perkataan sang daddy dan dokter, hanya bisa mencebikkan bibir.
"Aku hanya kecapekan, Dad. Tidak sakit," Ken berusaha mengelak.
Daddy Vanno langsung menoleh ke arah Ken. Dia menatap sang putra sambil mencebikkan bibir.
"Sudah sakit saja masih suka ngeyel," ucap daddy Vanno.
Ken hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Tubuhnya benar-benar sudah sangat lelah dan tidak enak. Kepalanya juga mulai pening. Bahkan, untuk membuka mata pun Ken terlihat sangat enggan. Perutnya juga terasa mual.
__ADS_1
Daddy Vanno yang melihat keadaan sang putra merasa kasihan. Dia memutuskan untuk meminta dokter Irwan memberikan infus untuk Ken saat itu juga. Karena kondisinya yang juga sudah sangat lemah, Ken hanya menuruti keinginan daddy Vanno.
Setelah itu, daddy membantu Ken pulang dengan memapah sang putra berjalan hingga menuju mobil. Daddy Vanno juga menghubungi Gitta untuk menitipkan Zee ke rumahnya agar tidak tertular Ken.
Sesampainya di rumah, Ken langsung disambut oleh Gitta yang memang sudah ada di rumah. Dia juga sudah menitipkan Zee ke rumah mommy Retta. Dengan bantuan daddy Vanno dan juga Gitta, Ken berhasil berbaring di kamar tidurnya.
"Kamu urusi saja Ken, Git. Untuk Zee, biar mommy kamu yang jagain. Ken suka rese jika lagi sakit begini," ucap daddy Vanno setelah membantu Ken berbaring.
Ken yang masih bisa mendengar perkataan sang daddy hanya bisa mendengus kesal.
"Cckk, mana ada aku rese, Dad. Yang ada juga gemesin begini," ucap Ken sambil masih memejamkan mata.
Baik daddy Vanno dan Gitta hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Mereka tidak mau berdebat dengan Ken. Setelah itu, daddy Vanno segera beranjak pulang karena hari sudah menjelang sore.
"Kenapa bisa sakit begini, Mas? Kenapa nggak bilang?" tanya Gitta lirih.
Ken berusaha membuka kedua mata, namun diurungkannya. Rasa kepalanya saat itu benar-benar berputar-putar.
"Aku hanya lemas dan pusing, Yang." Kilah Ken agar membuat Gitta tidak khawatir lagi.
"Mana ada lemas dan pusing sampai diinfus begini?" Gitta mencebikkan bibir. Namun, tangannya masih setia mengusap pipi sang suami. "Kamu istirahat saja dulu, Mas. Baru minum obat kan, tadi?"
Ken tampak menganggukkan kepala. Namun saat Gitta hendak beranjak, Ken menarik tangan sang istri.
__ADS_1
"Yang, aku ingin pipis. Lap-lap juga badanku, dong. Lengket semua ini," rengek Ken.
Gitta mengerutkan kening. "Mas, badan kamu panas lho. Kamu masih sakit ini. Lap-lapnya besok saja, ya." Gitta masih berusaha membujuk Ken meski tahu usahanya tidak akan berhasil.
"Nggak mau, Yang. Mau pipis dan lap-lap badanku sekarang. Beneran ini lengket semua, Yang. Please," Ken semakin merengek.
Gitta hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia sudah tahu jika Ken pasti akan sangat rese jika sakit.
"Mau tidak mau, Gitta segera menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membantu Ken pipis dan membersihkan tubuhnya. Hal itu tidak sulit bagi Gitta, karena Ken sudah pernah mengalami hal seperfi ini sebelumnya.
"Yang, aku kebelet banget nih. Mau pipis. Cepet bantuin, dong." Lagi-lagi Ken merengek kepada Gitta.
Saat ini, Ken sudah berada di dalam kamar mandi dan sedang duduk di atas closet. Gitta membantu sang suami melepaskan celananya.
"Yang, ini nggak kamu bantuin?" Tanya Ken dengan mata menyipit menatap Gitta.
"Bantuin gimana, Mas? Bantu pegangin? Bisa-bisa nyemburnya ke atas nggak ke bawah nanti."
"Masa sih? Nggak percaya aku, Yang, sebelum dicoba."
\=\=\=
Dadak dijajal barang to Ken, selak ngompol. 😩
__ADS_1