Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 215


__ADS_3

Malam itu, Zee dan Ken sampai di rumah menjelang tengah malam. Mereka cukup terkejut saat memasuki rumah, lampu di ruang tengah masih menyala. Ken dan Zee langsung melihat Gitta dan Kiara tengah berada disana untuk menunggu kedatangan mereka.


"Kalian belum tidur?" tanya Ken sambil berjalan menghampiri sang istri dan mendaratkan sebuah kecupan pada pucuk kepala Gitta. Ken juga langsung mendaratkan tubuhnya dan menempel pada tubuh sang istri.


"Bagaimana, Mas?" Gitta langsung menempel pada tubuh Ken yang sudah duduk di sampingnya. "Semua lancar, kan?"


"Iya, Sayang. Semuanya lancar. Kalian tenang saja. Tidak usah terlalu memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Terutama kamu, Kia. Jangan memikirkan hal-hal berat. Kasihan Gen nanti jika sampai ikut terpengaruh," jawab Ken sambil menatap ke arah menantunya.


Kiara yang saat itu sudah duduk menempel pada Zee, langsung menganggukkan kepala.


"Iya, Dad. Aku percaya semua ini pasti akan segera berlalu. Benarkan, Mas?" Kiara menoleh ke arah Zee.


Zee langsung mengangguk dan mengecup pipi Kiara sebelum menjawab.


"Iya, Yang. Percaya sama Daddy. Semua bisa diatasi dengan baik."

__ADS_1


Malam itu, semua keluarga Zee langsung beristirahat. Tubuh dan pikiran mereka benar-benar bekerja dengan keras hari itu. Beruntung hari itu adalah weekend. Ken dan Zee tidak terlalu memikirkan urusan pekerjaan.


Zee langsung membersihkan diri sementara Kiara segera menyusuii Gen yang kebetulan terbangun saat keduanya memasuki kamar. Kiara menggendong Gen dan membawanya ke atas tempat tidur utama.


Sambil menyusuii Gen, Kiara mengusap-usap kepala sang putra. Tatapan sayang Kiara benar-benar membuat Zee bahagia saat melihatnya.


Zee berjalan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan kolor pendek favorit Kiara. Tentu saja tanpa ada lapisan apapun lagi di dalamnya yang membuat sesuatu di balik kolor tersebut terlihat dan tercetak dengan nyata.


Sebenarnya, Kiara sudah sering melihat bahkan merasakan benda dibalik kain tersebut. Tapi, entah mengapa dia selalu malu dan bingung jika berhadapan langsung dengannya. Menurut Kiara, benda itu terlalu mengintimidasi. 😩😩


"Sudah mau tidur lagi?" tanya Zee sambil menatap wajah putranya yang tengah mengenyot sumber nutrisinya tersebut.


"Iya. Sebentar lagi pasti tidur, Mas," jawab Kiara sambil mengusap kepala Gen. Kiara menoleh ke arah Zee dan bertanya, "Kamu mau makan, Mas?"


Zee menggelengkan kepala sambil masih menatap wajah putranya tersebut.

__ADS_1


"Nggak usah, Yang. Aku nggak lapar."


Kiara mengusap pipi Zee dengan penuh kasih sayang. Kedua mata Kiara bahkan sempat berkaca-kaca saat menatap netra Zee yang kini juga sedang menatapnya.


"Maafkan aku, Mas. Semua ini karena keluarga tiriku. Jika saja aku tidak menikah dengan kamu, kamu pasti tidak akan mengalami hal seperti ini, Mas." Kiara sudah tidak bisa menahan air matanya. Kedua pipi Kiara langsung basah seketika.


"Sstttt. Jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar tidak suka dengan apa yang baru saja kamu katakan, Yang. Menikah denganmu, bukan merupakan penyesalan. Tapi, kebahagiaan dan anugerah terbesar bagiku. Apalagi, kita sudah memiliki Gen di tengah-tengah kita. Tidak ada kata menyesal dalam kamusku, Yang."


Zee mengusap air mata yang masih menganak sungai pada kedua pipi Kiara. Tak lupa juga dia memberikan beberapa kecupan pada wajah Kiara.


"Jangan pernah lagi berpikir aku menyesal menikah denganmu, Yang. Aku bahagia bisa menikahimu. Love you more and more."


\=\=\=


Mohon maaf kemarin up lama, 🙏

__ADS_1


Masih bagi waktu dengan kerjaan di real life.


__ADS_2