Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 55


__ADS_3

"Om Coyus beyyum tecup-tecup. Cini tecup Ji cama Ami duyyu. (Om Dino belum dapat kecupan. Sini, kecup Zee dan mommy dulu)"


"Hheeei!" Ken langsung menoleh dan sedikit berteriak. Zee yang memang sudah turun dari gendongan sang mommy langsung menghentikan langkahnya saat hendak menarik tangan Dino.


Glek.


Glek.


Glek.


Dino langsung merinding setelah mendapatkan tatapan dari Ken. Dia menggelengkan kepalanya cepat-cepat agar Ken tidak salah paham.


Gitta yang menyadari situasi bisa membuat mood Ken memburuk, langsung menggendong Zee. "Sayang, Daddy dan om Dino harus berangkat kerja sekarang. Zee mandi dulu, yuk. Setelah itu kita beli ikan. Kemarin kita belum beli jadi ikan buat Zee, kan?"


Seketika balita tersebut langsung mengangguk-anggukkan kepala. "Ja. Ji au beyyi itan. (Iya. Zee mau beli ikan)" 


Gitta segera membawa Zee kembali ke dalam rumah. Dia tidak mau sang putra kembali berceloteh yang bisa membuat Ken semakin kesal.


Dino mendesahkan napas lega ke udara. Sementara Ken masih menatap sang asisten dengan tatapan kesalnya. "Jangan berpikir aneh-aneh," ucap Ken sambil beranjak menuju mobil.

__ADS_1


Mana ada aku berpikir aneh-aneh? Aku masih sayang nyawaku, batin Dino sambil mengekori Ken. Setelah itu, mereka segera beranjak menuju kantor cabang GC di Surabaya.


Tak butuh waktu lama, Ken dan Dino sudah sampai di kantor cabang tersebut. Mereka langsung bergegas menuju ruangan pimpinan yang ada di kantor tersebut.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Ken begitu mereka memasuki lift. Ternyata, tim kuasa hukum mereka juga sudah berada di sana.


"Sudah siap, Pak. Kita bisa gunakan itu untuk senjata terakhir."


Ken mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka segera mempersiapkan pertemuan yang dijadwalkan pada pukul sepuluh pagi tersebut.


Menjelang pukul sepuluh, Dino memberitahu jika pihak Tirta Omega sudah tiba. Mereka juga sudah menunggu di ruang rapat. Ken segera beranjak menuju ruang rapat, dengan diikuti oleh Dino dan juga timnya.


Pintu ruang rapat tersebut terbuka. Ken dan yang lainnya segera masuk dan mulai mengambil posisi masing-masing. Ken menyapa para perwakilan dari Tirta Omega yang terdiri dari enam orang tersebut. Namun, tatapan matanya tertuju pada seseorang yang berada di deretan kursi sebelah timur. 


Ken mengingat dengan jelas wajah itu. Wajah laki-laki yang sempat membuatnya kesal kemarin. Ya, dia adalah laki-laki yang menghampiri Gitta dan juga Zee di supermarket kemarin. 


Rupanya, dia bekerja di Tirta Omega. Berarti, dia sudah menyelidiki aku dan keluargaku, batin Ken. Kedua tangannya terkepal menahan amarah. Namun, Ken masih berusaha menahan emosinya.


"Selamat datang di kantor kami. Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak-bapak ini untuk datang di kantor kami." Dino mengawali rapat pagi itu. "Tanpa banyak membuang-buang waktu, kami akan mulai rapat kali ini," lanjutnya.

__ADS_1


Setelah itu, para perwakilan dari Tirta Omega memperkenalkan diri. Saat itulah Ken baru tahu jika laki-laki yang ditemuinya kemarin bernama Edrick Chavandri. Ken juga menyadari satu hal. Chavandri, nama yang cukup banyak dikenal di dunia industri. Dan Ken, meyakini jika Edrick ini adalah salah satu dari putra Gio Chavandri, pendiri dan pemilik Chavandri Industry.


"Begini, Pak. Kami dari pihak Tirta Omega bukan tidak ingin menjalankan kesepakatan bersama dulu. Tapi, jika kami melakukan hal itu, kami akan mengalami banyak kerugian. Oleh karena itu, kami ingin menawarkan kesepakatan kembali," ucap Danil, salah satu perwakilan Tirta Omega. Sepertinya, Danil adalah juru bicara mereka.


Ken dan tim nya masih belum berbicara. Memang mereka masih menunggu kesempatan untuk menjawab semua permintaan mereka. Kali ini, giliran Edrick yang bersuara. Sikapnya seolah-olah dia adalah penengah dari sengketa yang dihadapi oleh pihak Ken dan Tirta Omega.


"Begini Pak Keenan Alexander, bukan kami tidak mau menjalankan kesepakatan yang sudah dibuat. Tapi, kami memikirkan banyak faktor. Pertama, jika kami menggunakan sumber air yang ada di utara, itu akan sangat memakan waktu, tenaga dan juga biaya. Jalannya cukup jauh dan harus memutar. Bisa mencapai dua puluh kilometer, karena kami harus memutari gunung."


"Kedua, akses jalan menuju sana juga masih belum bisa dipakai. Jika kami menunggu sampai akses jalan jadi, bisa dipastikan kami tidak beroperasi. Ketiga, kami memikirkan nasib banyak karyawan, Pak. Jika kami tidak berhenti beroperasi, para karyawan kami pasti akan kehilangan pekerjaan mereka."


"Jadi, coba Pak Ken pikirkan nasib para karyawan tersebut. Sebagai pengusaha, jangan hanya melihat ke atas, Pak. Sekali-kali tengoklah para karyawan dan pekerja di bawah Anda. Jangan mentang-mentang Anda sudah punya kedudukan tinggi, Anda tidak memikirkan nasib para karyawan seperti mereka"


"Jika Anda tidak bisa memenuhi hal itu, saya bersedia membeli proyek Anda, beserta dengan semua lahan tersebut. Jadi, Anda tidak usah ambil pusing dengan hal itu."


\=\=\=


Waahh Ken, ada yang mau beli proyek kamu, tuh. Diberikan nggak ya? 🤭


Siap-siap kumpulin vote buat Zee ya. 🤗

__ADS_1


__ADS_2