Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 54


__ADS_3

Zee langsung bersorak bahagia membayangkan akan mendapat mainan baru dari sang papa.


"Zee suka?" tanya Gitta sambil menciumi pipi gembul putranya.


"Cuka. Au puyyang calang. (Suka. Mau pulang sekarang)"


"Eh, pulang sekarang? Tapi Daddy kan masih kerja, Sayang." Gitta berusaha memberikan pengertian kepada sang putra.


Zee menoleh ke arah ruang kerja dimana Ken dan Dino sedang berada di dalamnya.


"Tedi acih teja? (Daddy masih kerja?)"


"Iya, Sayang. Besok jika pekerjaan Daddy sudah selesai, kita langsung pulang, okay?"


Zee langsung mengangguk-anggukkan kepala. "Ote."


Setelah itu, Gitta segera mengajak sang putra untuk tidur. Menjelang pukul sebelas malam, Ken memasuki kamar tidurnya. Dia melihat istri dan putranya tengah terlelap. Dia merasa tidak tega jika harus minta doping kepada sang istri.


Dengan langkah gontai, Ken segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan bergabung dengan istri dan putranya setelah itu.


Sementara di Jakarta, setelah menutup ponselnya, daddy Vanno menoleh ke belakang dan melihat ternyata sudah ada mommy Retta di belakangnya. Sebuah senyuman langsung terbit pada bibirnya.


"Sayang, kenapa diam saja di sana? Kemarilah," pinta daddy Vanno sambil melambaikan tangannya.


Mommy Retta yang masih bersedekap sambil bersandar pada dinding pun menatap tajam ke arah daddy Vanno. Melihat hal itu, sontak saja daddy berusaha menelan salivanya.

__ADS_1


"A-ada apa, Yang?"


"Aku tau apa yang kamu pikirkan, Mas. Kamu mau belikan helikopter asli untuk Zee, kan?" Mommy Retta masih mengintimidasi daddy Vanno dengan tatapan tajamnya.


"Eh, memangnya kenapa?"


"Ck, masih tanya memangnya kenapa? Astaga, Mas, kamu ini bener-bener ya. Zee itu masih kecil, jangan dibiasakan memanjakannya untuk hal-hal diluar jangkauannya. Aku tidak masalah jika kamu suka membelikan dia maninan apapun, tapi bukan yang asli juga, Mas." Mommy Retta masih mengerucutkan bibirnya.


"Tapi, nggak ada salahnya, Yang."


"Nggak ada salahnya kamu bilang? Kamu sudah punya satu helikopter, lalu mau beli lagi buat apa?" Mommy Retta benar-benar kesal dengan sang suami.


"Ya, nyenengin cucu boleh kan, Yang." Kini, daddy Vanno berusaha menampilkan ekspresi semelas mungkin.


"Nggak ada yang melarang kamu untuk nyenengin cucu, Mas. Tapi nggak gini juga. Mobil kemarin yang kamu ambil juga hanya menuhin garasi Ken. Dia sudah uring-uringan garasinya jadi sempit."


"Kalaupun buat Zee, paling juga sekitar lima belas tahun lagi, Mas. Dan saat itu, sudah pasti ganti model lagi. Awas saja kalau kamu aneh-aneh, Mas. Aku kunciin diluar tuh sama Nyedit."


Seketika daddy Vanno langsung beranjak berdiri dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu. Dia tidak mau kalah cepat dengan mommy Retta. Dengan senyuman jahilnya, daddy Vanno melangkah memasuki rumah.


"Aku janji tidak aneh-aneh, Yang. Tapi, nanti coba double, ya?" Daddy Vanno masih sempat-sempatnya negosiasi dengan mommy Retta.


Belum sempat mommy Retta menjawab perkataan daddy Vanno, bibirnya sudah langsung disambar dengan bibir daddy Vanno. Sontak saja mommy Retta langsung mendelik tajam dan mendorong bahu daddy Vanno.


"Eemmmhhhh, apa-apaan sih, Mas. Ini masih di teras. Malu jika ada lihat." Mommy Retta masih bersungut-sungut kesal.

__ADS_1


"Ya sudah, ke kamar saja langsung, Yang. Si Vj sudah mulai 'molet', nih." Daddy Vanno sudah mulai merengek.


"Astaga, Mas. Belum ngapa-ngapain sudah ganjen saja itu. Jangan-jangan, dia suka 'molet' jika lihat wanita seksi di luaran sana?" Mommy Retta masih mendelik tajam ke arah daddy Vanno.


"Eh, mana ada yang seperti itu, Yang. Yang ada juga langsung melengos jika bukan kamu, Yang." Daddy Vanno tidak terima dengan apa yang dikatakan mommy Retta.


"Alasan."


"Mau bukti? Ayo, aku tunjukkan sekarang." Seketika daddy Vanno langsung membopong mommy Retta menuju kamar. Dia tidak peduli saat mommy berteriak-teriak minta diturunkan.


***


Keesokan hari, Ken dan Dino sudah bersiap berangkat ke kantor cabang di Surabaya. Mereka sudah membuat janji dengan pihak Tirta Omega. 


Setelah sarapan, Ken dan Dino segera berangkat. Seperti biasa, Ken meninggalkan kecupan untuk Gitta dan putranya. Zee yang sudah biasa mendapatkan kecupan dari sang daddy pun langsung memonyongkan bibirnya.


"Emuuahhh. Cepat puyang, Ted. (Cepat pulang, Dad)"


"Iya, Sayang setelah selesai, Daddy kan langsung pulang. Setelah itu, kita kembali ke Jakarta."


Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala saat melihat sang daddy meninggalkan kecupan pada pipi dan pucuk kepala Gitta. Zee menoleh ke arah Dino yang saat itu menunggubKen di dekat teras.


"Om Coyus beyyum tecup-tecup. Cini tecup Ji cama Ami duyyu. (Om Dino belum dapat kecupan. Sini, kecup Zee dan mommy dulu)"


"Hheeei!"

__ADS_1


\=\=\=


Waahh, si Zee mulai mancing-mancing, nih.


__ADS_2