Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Aku tau kamu khawatir, Vin.


__ADS_3

Mohon maaf bila masih ada banyak typo πŸ™πŸ™πŸ™.


Selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ€—


🌺🌺🌺🌺


Ku raih handphone yang berada di atas yang sedari tadi tidak ku lihat lihat. Aku terkejut, melihat beberapa panggilan tak terjawab dan chat dari Alvin. Ku buka chat dari alvin, yang isinya hampir semua sama tentang menanyakan aku dimana. Ketika hendak membalas chat Alvin, handphone ku mati. Aku lupa cas tadi pagi.


Ketika hendak menaiki ojek online tiba tiba hujan turun dengan derasnya, mau berteduh tapi nanggung dikit lagi sampai rumah. Aku turun didepan pagar, lalu membuka pagar dan masuk. Aku merasakan dingin pada tubuh ku, inilah efek jika hujan dimalam hari. Ketika hendak membuka pintu, pintu terbuka menampakkan Alvin.


"Ya ampun, Vira. Ayo masuk."


Aku masuk kedalam kamar, untuk membersihkan tubuh dengan air hangat. Setelah itu, aku turun kebawah untuk membuat teh hangat. Langkah ku melambat ketika melihat Alvin berada di dapur, yang tidak ku tau sedang apa karena ia sedang membelakangi ku.


"Vin." Panggil ku.


Alvin menoleh d Ngan sebuah cangkir ditangannya.


"Kamu sedang ngapain ?." tanya ku


"Ini, aku sedang membuatkan mu teh hangat." Lalu sebelah tangannya menarik ku lembut, membawa ku duduk dikursi meja makan.


Ia meletakkan secangkir teh hangat diatas meja tepat di hadapanku, lalu ia duduk di depanku. "Diminum, Vira." Aku pun meminumnya, sedikit.


"Kamu dari mana ? Saya telfon tidak diangkat, di chat pun tidak dibalas."


"Maaf, Vin. Aku tadi habis meeting dengan sama penulis lain dan juga pemilik aplikasi penulis online, dimana tempat aku menulis. Pas aku mau membalas chat kamu, handphone ku lowbat."


"Saya kira kamu pergi, karena masih marah bahkan saya kira kamu berniat meninggalkan saya tampa memberitahu saya."

__ADS_1


"Kamu bicara apa sih, Vin. 2 tahun itu masih lama, belum saatnya aku pergi."


"Vira."


"Eoh." Lalu menyeruput teh hangat, sedikit.


"Kalau saya minta kamu untuk tidak pergi, bagaimana ?."


Aku terkekeh kecil. "Kamu mana bisa, Vin. Kamu tidak mencintaiku. Mana mungkin kamu mempertahankan ku.... ya udah Vin, aku mau pergi ke kamar." Lalu berdiri, melangkah pergi meninggalkan Alvin yang terdiam.


Aku terduduk di tepi ranjang. Menghela nafas panjang. Aku tau kamu khawatir, Vin. Apa mungkin kamu telah mencintaiku ? Kurasa belum. Terkadang rasa khawatir tidak ada hubungannya dengan cinta. Aku sadar dan paham. Mungkin beberapa bulan pernikahan kita, membuat rasa khawatir itu perlahan tumbuh. Bagaimana pun kita melewati hari hari itu bersama, walau tidak ada yang istimewa.


Perihal pertanyaan mu tadi, aku tidak yakin pada akhirnya kamu akan mempertahankan ku. Kamu terlihat begitu mencintai kekasih mu, mana mungkin kamu rela melepaskan wanita yang selama ini kamu inginkan menjadi pendamping hidup mu. Tak perlu membuat ku berharap, Vin. Aku sudah sadar dari awal, jika aku memang tidak mempunyai kesempatan. Handphone yang berada di atas nakah berdering, aku melangkah menghampiri untuk melihat. Panggilan masuk dari Arxi, ku arahkan benda persegi panjang itu ke telinga.


"Kenapa, Ar ?."


"Aku ganggu ya ?."


"Kirain, aku ganggu momen indah mu." Lalu terkekeh kecil.


"Apaasih, Ar."


Momen indah dari mana, yang ada ngegalau Mulu. Hahaha. Jangan ah, galau kan capek karena menguras emosi hati. Jadilah strong grill, jangan kerjaannya baper mulu.


"Aku tuh lagi kesel banget, Vi."


"Kesal kenapa ?."


"Ada perempuan yang ngedeketin incaran ku."

__ADS_1


Aku terkekeh kecil. "Ya ampun, Ar. Ku kira kesal kenapa, sampai segitunya. Dia kan bukan siapa-siapa kamu, ya tidak apa-apa dong didekati perempuan lain."


"Iya juga sih, ya tapi kan aku cemburu."


"Ishh. Ya kalau gitu, datengin aja sih dia terus minta nikahin."


"Et iya, Vi. Disangka nikah itu segampang itu kali ya."


"Emang gampang, situ lupa kalau saya kan sudah menikah."


"Ohh, iya iya. Lupa." Sembari terkekeh.


Inilah kebiasaan Arxi, yang selalu tiba tiba menelpon hanya untuk mencurahkan isi hatinya. Aku ini serasa ibunya yang mendengarkan setiap permasalahannya, yang bukan hanya tentang perasaan. Apa saja perempuan itu ceritakan, sampai hal terkecil pun.


"Ya sudah, aku tutup dulu telfonnya. Sudah malam aku sangat lelah habis meeting tadi dengan penulis lain."


"Ok, Vi. Selamat malam. Mimpi indah." Sembari menutup telfonnya, aku mendengar suara kekehan kecil disana.


Sudah lah aku sangat lelah, hari ini sungguh membuatku lelah baik tenaga maupun emosi.


🌺🌺🌺🌺


Terimakasih telah berkunjung dan membaca novel ku ini, semoga kalian menyukai nya.


Terus dukung author dengan kalian like dan komen. Karena kami para author sangat membutuhkan like dan comen dari kalian para pembaca. πŸ€—πŸ€—πŸ€—


pengumuman.


Untuk event 200 like berlaku untuk semua episode. 😘😘😘

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih atas like dan komen nya. πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—**


Β 


__ADS_2