Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
119. Mancing di Air Keruh


__ADS_3

"Tita gak dapet cium nih dari Abang...?", tanya Tita dengan sedikit memiringkan tubuhnya pada Kennan yang duduk di belakang kemudi mobil.


Tidak ada ada sahutan dari bibir suami Tita Andriana yang hanya menatap lurus ke depan, Kennan menutup rapat mulutnya.


Padahal Tita mengucapkan pertanyaan itu dengan berusaha keras menahan malu.


Tapi entah mengapa rasa di hati Tita ingin mencairkan kebekuan Kennan yang sepanjang perjalanan saat berangkat sekolah pagi ini mendiamkan dan acuh terhadap dirinya.


Entah kemana perginya Kennan yang perhatian bin mesum itu tetiba kembali berubah pada mode kulkas dua pintu lagi.


Padahal seingat Tita, dirinya tidak melakukan kesalahan pada suami kulkas dua pintunya tersebut.


Saat ini Tita hendak turun dari mobil Kennan, yang seperti biasa menurunkannya di seberang minimarket tak jauh dari sekolah.


Tidak seperti hari - hari sebelumnya yang selalu saja meminta jatah cium kening bahkan bibir manis Tita, hari ini Kennan terlihat acuh tak peduli.


"Gak salim jugakah Bang...", Tita masih berusaha membuat suami yang menumpukan tangan kanan pada jendela mobil itu bereaksi.


Set


Kennan mengangsurkan tangan kanannya masih dengan pandangan lurus ke depan dan tidak memperdulikan wajah cantik isterinya yang masih terlihat pucat.


Tita menghela nafas pelan lalu mengambil tangan kanan Kennan untuk mencium punggung tangannya.


"Ntar pulang sekolah...Tita pulang sendiri wae ya. Tita gak mau nunggu lama kek kemaren, dan lagi yang ditungguin ternyata udah tidur nyenyak di rumah tanpa mau kasih kabar", ucap Tita dengan menyindir Kennan setelah melepaskan tangan kanan suaminya.


Kennan menoleh sesaat setelah mendengar ucapan Tita.


Kemudian berbalik kembali menatap ke depan seraya berkata ketus, "Terserah lo".


Sesaat Tita menahan nafas.


Lalu membuka pintu mobil Kennan, kemudian setelah dirinya berada di luar....


Braakkk


Tita menutup kembali pintu mobil Kennan dengan keras.


Dan setelahnya berlari kecil menyeberangi jalan untuk menuju sekolahnya. Dirinya sudah tidak peduli akan kemarahan Kennan padanya nanti. Tita sudah tidak dapat menahan emosi menghadapi keacuhan Kennan pada dirinya. Dan lagi perkataan ketus Kennan tadi seakan menyemburkan rasa marah yang telah Tita tahan.


Apalagi sejak dua hari ini emosinya seakan naik turun denga cepat tanpa bisa dicegahnya.


Sedangkan Kennan yang tidak menduga akan tindakan Tita, terlonjak kaget setelah mendengar pintu mobilnya tertutup dengan keras.


"Arrgghhh.... sial!!!"


Kennan mengacak rambut belakangnya frustasi, kemudian memukul kemudi cukup keras untuk menyalurkan emosinya.


...🍭🍭🍭🍭...


"Gimana kondisi lo Ta.... udah baikan?", tanya Irsyad pada Tita yang duduk di depannya sedang menikmati soto hangat.


Tita menelan makanannya kemudian berucap, "Alhamdulillah... sudah baikan kok"


"Masih mual muntah kah?", Irsyad bertanya seperti itu karena kemarin dirinya sempat menanyakan keluhan sakit Tita yang membuat gadis itu pingsan


"Tadi pagi masih, sekarang udah enggak"


Mereka berdua saat ini sedang makan di kantin sekolah karena jam istirahat.


Irsyad menelisik wajah Tita, bukan bermaksud memandangi wajah cantik isteri sahabatnya tersebut melainkan Irsyad merasa wajah Tita masih terlihat pucat.


"Tapi... wajah lo masih pucet Ta"


"Mungkin iya... soalnya kemarin sewaktu dicek di uks tensinya rendah banget. Sembilan puluh per tujuh puluh apa yak, Tita lupa", jawab Tita.

__ADS_1


Irsyad memundurkan tubuhnya, kaget.


"Weh.... elo harus istirahat kalau gitu. Ngapain masuk sekolah?!", Irsyad berucap dengan khawatir. Bagaimanapun juga Irsyad tidak bisa mengabaikan rasa pedulinya pada Tita meskipun gadis itu sudah tidak dapat diraihnya.


Tita menghembuskan nafas pelan.


"Sekarang udah baikan kok", Tita menhembuskan nafas pelan.


Irsyad wae ngerti sama kondisi Tita kenapa Abang enggak, keluh Tita dalam hati.


"Emang Kennan ngebolehin lo sekolah?". Tanya Irsyad dengan menyebut nama Kennan sedikit berbisik.


Heh... dia wae gak peduli sama Tita kok, kesal Tita, namun hanya diucapkan di dalam hati.


"Iya... walaupun ada sedikit ketegangan sih", Tita akhirnya memilih menjawab dengan berbohong.


Meski tidak sepenuhnya bohong juga, karena sebenarnya Kennan memang sempat melarangnya sekolah kemaren, pada waktu suaminya itu masih menunjukkan sikap perhatian pada dirinya. Namun untuk hari ini, setelah kejadian dirinya pingsan Kennan malah tidak peduli padanya. Entah apa penyebanya Tita sudah tidak mau memkirkannya, toh dirinya sering diperlakukan seenaknya oleh suami kulkas dua pintunya tersebut.


Kadang baik, perhatian seolah sayang banget hingga cenderung posesif. Kadang juga tidak peduli. Seperti saat ini, disaat Tita membutuhkan perhatian dari Kennan, suaminya tersebut malah kembali ke mode cold bear.


"Tapi kan harusnya dia tetep ngelarang elo sekolah, sebelum elo bener - bener fit", Irsyad kesal dengan sifat Kennan yang tidak peka menurutnya.


"Tita yang maksain diri buat sekolah Irsyad, bukan salah dia", entah mengapa Tita tidak rela kalau Irsyad menyalahkan suami kulkas dua pintunya.


"Tapi kan tetep wae, harusnya dia ngelarang lo buat sekolah. Meski elo ngeyil sekalipun. Lagian dia gak ngedampingin elo apa waktu lo di uks?"


Tita menggelengkan kepalanya pelan.


Irsyad mengerutkan keningnya, seakan mengingat sesuatu.


"Loh Kennan datang ke uks kok, elo gak ketemu Kennan Ta?"


Lagi Tita menggelengkan kepalanya.


"Enggak ada abang nyusul ke uks, orang pas Tita sadar adanya cuma Andra, Hani sama Mbak Sasha petugas uks kok", Tita menjelaskan.


"Loh kok.... ", Irsyad sedikit bingung.


"Tapi beneran gue liat Kennan dari sana kek buru - buru, kirain Kennan pergi nyariin elo minuman atau makananan gitu ke kantin. Makanya gue gak jadi nengokin elo ke uks, takut mode singanya muncul kalau lihat gue jengukin elo"


"Mungkin aja abang dari mana gitu yang searah dengan uks Syad, orang dia bener - bener gak muncul di uks sampek Tita kembali ke kelas kok", jelas Tita pelan dengan menahan rasa sesak di dadanya.


"Di rumah Kennan gak tanya kondisi elo Ta?"


"Enggak"


Dia malah cuekin Tita kek marah gitu, Tita berucap dalam hati dengan kesal.


"Gak mungkin lah si datar itu gak peduli kek gitu, orang terakhir gue lihat wajahnya bucin banget sama elo, kek posesif banget malah", gumam Irsyad pelan dengan mengerutkan keningnya seolah berfikir.


Gumaman Irsyad masih terdengar oleh Tita meskipun teman genk basket suaminya itu menggumam dengan pelan.


"Beneran gak ada Syad, tanyain kondisi Tita lewat ponsel aja enggak. Malah waktu di rumah dia kek marah gitu sama Tita". Tanpa sadar Tita mengucapkan kekesalannya pada Irsyad.


Hek... Tita menutup mulutnya menyadari ucapan yang meluncur begitu saja dari mulutnya.


Irsyad tersenyum tipis, meski hatinya sedikit teriris saat mendengar ucapan kesal Tita. Ungkapan kekesalan yang keluar begitu saja dari mulut Tita tersebut membuat Irsyad mengetahui jika ada rasa cinta diantara Tita dan Kennan.


"Jangan - jangan pas waktu Kennan datang ke uks ada Andra di sana, jadi dia gak masuk Ta. Elo tadi bilang kalau lo Andra so ketos sama temen lo itu ada di sana kan?!"


"Iya pas Tita bangun ada Andra sama Hani yang nungguin"


"Jadi pasti karena ada Andra di sana, makane Kennan gak jengukin elo dan si datar itu marah kan sama elo?!", Irsyad menebak apa yang terjadi kemaren.


Tita menggedikkan bahu tak ambil pusing lalu melanjutkan makan sotonya.

__ADS_1


"Haisshh, enak kali kau Syad... bisa duduk berdua bareng neng Tita. Bikin ngiri wae yak...", Arya datang dengan memukul pelan pundak Irsyad.


Kebetulan posisi duduk Irsyad dan Tita di kantin memang berhadapan pada meja kecil yang hanya ada 2 kursi. Jadi mereka terlihat sebagai pasangan, atau cocok untuk yang lagi pedekate.


"Sialan lo Ar... kalau sendok gue ikut ketelan gimana coba", Irsyad menoleh pada Arya yang berdiri terkekeh di sisi kirinya.


Mendengar suara Arya yang datang, Tita tetap menunduk sambil menikmati sotonya. Tita tidak ingin jika dirinya mendongak akan bertemu tatap dengan wajah Kennan suaminya, yang telah membuatnya kesal hari ini.


"Enak lo ya... sekelas sama neng Tita trus bisa mepet teros", Arya masih belum beranjak dari sisi Irsyad, malah menggoda sahabat yang sudah pisah kelas tersebut.


Sedangkan Aldi, Bima dan tentu saja Kennan berjalan melewati mereka menuju meja pojokan. Tempat favorit mereka untuk berkumpul makan di kantin.


Irsyad mendorong tubuh Arya dengan lengan tangannya. "Udah sono.... gak usah gangguin gue"


Arya berdecak kesal.


"Anjim lo Syad... udah keenakan, lupa sama temen lo"


"Biarin.... Udah sono pergi. Huusshh", Irsyad mengibaskan tangannya untuk mengusir Arya dari sisinya.


Arya pun meninggalkan Irsyad dengan mulut yang tidak berhenti menggerutu.


"Syad... balik kelas yok". Tita menyudahi makannya, dia merasa tidak nyaman sekarang. Apalagi posisi duduk Kennan yang dapat memandangnya dengan leluasa, Tita merasa terintimidasi oleh mata tajam Kennan yang saat ini memberikan tatapan yang dapat menembus manik matanya.


"Bentar gue minum dulu", ucap Irsyad meraih gelas di hadapannya.


Irsyad meletakkan gelas es teh yang hampir tandas di atas meja, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Tita dan berbisik, "Kita keluar gandengan ya"


Tita membuka mata lebar saat mendengar ucapan Irsyad.


"Enggak"


"Udah.... nurut sama gue. Gue gak bakal pegang lo".


Tita masih bingung, mencoba menerka apa yang ingin Irsyad lakukan. Lagian gimana bisa gandengan kalau gak pegangan.


"Udah gak usah kebanyakan mikir, ini demi hubungan elo sama Kennan"


Meski masih bingung, akhirnya Tita mengangguki ajakan Irsyad.


"Ayok"


Tita pun berdiri kemudian Irsyad menarik ujung lengan seragam Tita yang panjang.


"Njirr.... pepet teros Syad". Teriak Arya saat Irsyad terlihat bergandengan keluar kantin dengan Tita.


"Gak usah ngiri, calon imam selalu di depan", Irsyad berseru sambil melirik Kennan dengan senyum smirk.


Kennan pun menatap emosi kepergian mereka dengan tangan yang terkepal kuat.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2