
Aloha my beloved readers ...
Maap maap nich, othor bener - bener mohon maaf yang sebesar - besarnya karena sudah menggantung Bang Kennan sama Neng Tita hingga sekian purnama.
Yang rindu sama Babang tamvan Kennan Atmadja cungggg ....
Sorry banget baru tayang nih, othor sempat kehilangan akun novel toon beberapa hari lalu. Berkali kali sign in lupa pasword, so gak bisa mengudara menyapa kalian semua.
Sempat bingung, mau bikin akun baru sayang... Alhamdulillah akhirnya dengan berbagai jurus bisa dipulihkan kembali, so selamat menikmati selamat membaca kembali ...
Terimakasih atas dukungannya serta terimakasih banyak karena masih setia mantengin tulisan receh othor.
Tengyu so much n love you all my beloved readerππππ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Bisa lah, atm gue dibawa sama mbakmu." Kennan santai.
Hah.
"Abang jahat, ngerjain gue!"
Kennan tergelak.
"Gue gak ngerjain lo Nou, salah elo sendiri kan. Tadi gue mau bayarin sekalian elo gak mau. Kan tadi gue pakek buat bayar ini dulu." Kennan menunjukkan kantong belanjaan yang berisi baju miliknya dan milik Tita.
"Terus gimana nasib baju pilihan gue Bang? Gue udah capek - capek milihnya tadi." Naura tertunduk lemah. Naura merasa sedih dan juga tidak rela jika harus meninggalkan baju baju pilihannya di sana, mana pilihannya cakep semua. Seharusnya dirinya mendapatkan baju - baju itu secara gratis dengan cara menguras atm kakak lelakinya.
Naura pun membuang nafas berat, terlihat gurat kesedihan pada wajah gadis yang beranjak abg tersebut.
"Emangnya kurang berapa buat bayar baju lo tadi?" Kennan merasa kasihan pada adek bungsu matrenya yang terlihat sedih.
"Tak tau. Cuma dibilang dananya gak mencukupi gitu, terus Rara langsung pamit buat nemuin abang." ucapan Naura terdengar serak, sepertinya menahan tangis.
Hadewh ... dasar bocil!
Kennan beranjak dari tempat duduknya lalu merangkul bahu Naura. "Ayok cek dulu kurangnya berapa, ntar ambil secukupnya wae."
Naura bergeming.
"Gue pengen semuanya Bang, harusnya ini kan kesempatan gue buat porotin elo. Abang kan udah lama gak ngasih gue duit buat jajan." Naura memberengut kesal dan terdengar terisak.
"Ceilah ngambek nih bocil." Kennan menghela nafas dengan sedikit kasar.
"Habisnya abang bohongin gue."
"Udah ... malu tuh diliatin orang, dikira gue berantem sama pacar wae." Kennan mulai mengambil trik untuk meluluhkan Naura.
Naura menoleh ke kanan dan ke kiri, dan benar saja banyak orang yang berlalu lalang memperhatikan dirinya dengan abangnya, Kennan.
Wah gawat ini, bisa mati pasaran gue kalau kek gini. Apalagi kalau ketahuan sama temen - temen gue. Ucap hati Naura.
Naura pun memutuskan menggandeng tangan Kennan untuk segera berlalu dari sana, tentu saja menuju kasir di mana dirinya meninggalkan barang belanjaannya.
Dengan sedikit tersendal Kennan mengikuti Naura dengan sudut bibir yang terangkat membentuk seringai jahat.
Yes! Akhirnya berhasil, gumam hati Kennan.
"Mbak tolong dicek ulang belanjaan saya tadi berapa ya?" Naura berucap kata pada petugas kasir yang sempat ditinggalkan olehnya tadi.
"Oh iya mbak. Tunggu sebentar ya." jawab petugas kasir dengan ramah.
Beberapa detik kemudian.
"Totalnya lima juta enam ratus empat puluh mbak, bagaimana?" sang petugas kasir memberitahu.
"Em ... tadi kurang bayarnya berapa ya mbak?" Naura kembali bertanya sembari menyerahkan atm milik Kennan.
Petugas kasir menerima atm dari Naura.
"Sebentar, kami cek dulu ya mbak." ucap petugas kasir itu dengan tersenyum ramah.
"Kurang setengah dari totalnya mbak, dananya hanya cukup untuk membayar separuh barang.
__ADS_1
"Bang." Tita menyenggol bahu kakak lelakinya. "Gimana?"
"Ya udah beli secukupnya uang wae, besok lagi kesini buat beli sisanya." Kennan.
"Gak bisa gitu dong, ntar kalau dibeli orang lain gimana? Limited edition nih." Naura berusaha membujuk Kennan dengan merajuk.
Kennan yang sejatinya sangat menyayangi adik bungsunya meski mereka seperti tom and jerry, terlihat tidak tega dengan raut sedih Naura.
"Pinjem handphone lo." Kennan mengangsurkan tangan pada Naura.
"Buat apaan, lagian elo bawa handphone sendiri kan Bang?!"
"Handphone gue mati."
"Mau buat apaan seh Bang?"
"Udah sini, gue pinjem bentar. Lo mau baju lo kebayar semua gak?!" Kennan terlihat tidak sabar.
"Maulah." Naura segera mengambil ponsel pintarnya dari sling bag yang dia pakai.
"Nih." Naura menyerahkan ponsel pada Kennan.
Kennan menerima lalu mengetikkan beberapa angka yang sudah dihafalnya di luar kepala. Kemudian muncullah id kontak dengan nama Bang Dondon pada layar ponsel milik Naura.
Kennan tersenyum kecil saat melihat nama Doni pada kontak Naura, jadi penasaran dengan namanya pada kontak adik bungsu yang selalu saja usil padanya tersebut. Jangan sampai adik perempuannya itu memberi nama aneh untuknya seperti yang ditemukan pada ponsel milik Tita beberapa saat lalu.
Kennan lalu meletakkan ponsel pintar tersebut pada daun telinganya sambil menunggu jawaban dari Doni.
Setelah beberapa saat menunggu.
"Hallo assalamualaikum Don ..."
"Waalaikumsalam" terdengar sahutan suara Doni dari seberang.
"Don tolong transfer tiga juta ke rekening bunda yang biasa ya, gue lagi butuh duit nih." ucap Kennan tanpa basa basi.
"Gak ke rekening elo?"
"Enggak gue lagi bawa atm pemberian bunda, saldonya kurang. Gue lagi butuh buat bayarin belanjaan si bocil matre."
"Elo diporotin sama Rara?!"
"Ya gitu deh."
"Atm pribadi lo pakek, bisa buat borong tuh isinya." Doni masih dengan tergelak.
"Yang itu kasih ke bini gue, bini gue lagi ada acara sendiri, gak sama gue sekarang." jelas Kennan.
"Oh gitu. Dah masuk harusnya."
"Okey, tanks Dab ... Assalamualaikum." Kennan segera mematikan panggilannya setelah mendengar jawaban salam dari Doni sepupunya.
Kennan yang semula menjauh, berjalan mendekati Naura yang menunggu di dekat kasir kembali.
"Dah bayar belanjaan lo." ujar Kennan dengan menyerahkan ponsel pintar adek perempuannya.
"Setengahnya Bang?"
"Semua."
Naura yang belum mempercayai ucapan kakak lakinya, memandang Kennan dengan penuh tanda tanya.
"Beneran semua Nou, elo bisa beli semuanya."
Dengan perasaan yang masih ragu, Naura memberikan atmnya kembali kepada petugas kasir.
"Ini mbak atmnya, transaksi berhasil. Mohon ditunggu sebentar ya mbak, kami kemas barangnya sebentar." ujar petugas kasir dengan menyerahkan atm kepada Naura, tidak lupa dengan senyum yang sangat ramah.
Naura menerima dengan senyum merekah, lalu menghambur ke pelukan Kennan alih alih menyerahkan atm milik kakak lelakinya kembali.
Memeluk erat kakak lelakinya serta mendaratkan ciuman pada kedua pipi Kennan silih berganti.
Kennan yang terkejut akan reaksi Naura yang berlebihan menurutnya sedikit memundurkan tubuhnya. "Elo apaan seh Nou, malu tauk."
__ADS_1
Naura hanya tersenyum senang, tidak menanggapi Kennan yang terlihat risih dibuatnya. "Cih mentang mentang udah punya bini, lo gak mau dapet ciuman dari gue bang?!"
"Bukan gitu, ini diluar rumah. Malu gue."
"Heleh ... tapi makasih ya Bang, gue janji gak bakal ganggu elo mulai sekarang." Naura meninggalkan Kennan untuk mengambil barang belanjaannya.
"Terima kasih banyak atas kunjungannya. Ditunggu kedatangannya kembali." petugas toko dengan tersenyum.
"Mbaknya beruntung punya pacar baik gak pelit."
Kennan yang mendengar ucapan petugas toko langsung menyahut. "Dia adik gue mbak bukan pacar, mbak gak liat kalau wajah kita mirip."
Hah
"Maaf, saya kira mas sama mbaknya ..."
"Makanya jadi orang jangan sok tau." kesal Kennan.
"Kembali kasih mbak, maaf." Naura dengan cepat menarik tangan Kennan untuk segera pergi dari sana, tak lupa tersenyum canggung pada petugas toko.
Setelah kedua kakak adik itu keluar dari counter baju, Kennan ganti menarik pergelangan tangan Naura untuk menuju counter handphone.
"Ngapain kita ke sini Bang?"
"Buat beli hape lah, mau ngapain lagi."
"Buat siapa?" tanya Naura penasaran.
"Tita." jawab Kennan pendek.
Kedua alis mata Naura bertaut. "Bukane duit di atm abang habis?"
"Memang." Kennan santai.
"Lalu." Naura kembali bingung.
"Gue kan punya kartu kredit." jawab Kennan enteng.
Kedua mata Naura terbuka lebar. "Terus kenapa tadi?"
"Gak usah ngiri, kan Tita bini gue."
"Abaaanng!" geram Naura.
Di sisi lain.
Tita dan anak - anak osis sudah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan mereka.
Anak - anak pun mulai berbenah dan merapaikan semua peralatan yang telah mereka gunakan dalam acara tersebut, pun demikian dengan Tita.
Setelah Tita menyelesaikan membereskan peralatannya, Tita memilih duduk kemudian membuka ponsel pintarnya.
Tidak ada satupun balasan chat yang dia kirimkan ke Kennan, bahkan tidak ada jejak panggilan dari suami kulkas mesumnya.
Tita mencoba menghubungi kembali ponsel suaminya. Namun baru beberapa saat ponselnya tiba - tiba menggelap, mati.
Tita pun membuang nafas gusar, lalu memasukkan ponsel pada tas punggungnya. Semoga Sinta membawa kabel pengisi daya, biarlah nanti pinjam untuk mengecas saat berada di penginapan.
Sesaat kemudian Tita mendongak, nampak di kejauhan sosok Sisil sedang berbincang dengan cowok yang tidak asing baginya.
"Andra ... Sisil ...?? Ah ... kenapa rasanya jadi tidak nyaman ya ..." ucap batin Tita dengan meraba dadanya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ