Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
181. Gak Bakal Bosan


__ADS_3

"Bakalan maksa sampek dapatkan?" tanya Kennan dengan senyum seringainya.


Tia membulatkan kedua matanya dengan mulut yang terbuka, sesaat nafasnya tercekat.


Tita baru menyadari jika dirinya telah digiring masuk ke dalam jebakan oleh sang suami.


"Hisshh... abang jebak Tita!" Tita mengerucutkan bibirnya.


"Baru nyadar..." Kennan dengan senyum nakalnya.


Ck...


"Dasar mesum..." Tita dengan bibir yang semakin maju.


Cup.


Kecupan singkat dari bibir Kennan mendarat pada bibir pink milik Tita, hingga membuat Tita terhenyak.


Meskipun Kennan sudah sering melakukannya, tetap saja sensasi terbang ke awang masih menyertai diri Tita.


Bahkan setelah pergumulan keduanya semalam, saat mendapat perlakuan mesum Kennan di pagi ini masih saja muncul rasa canggung dalam diri Tita.


Wajah Tita yang masih mematung setelah mendapat kecupan singkat dari suami mesumnya, membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan menurut Kennan.


Posisi Tita yang digendong di depan layaknya koala oleh Kennan membuat Kennan dengan mudah menelisik wajah Tita yang terlihat tetap cantik meskipun tanpa polesan make up. Justru wajahnya terlihat cantik natural.


Kennan pun beranjak, melangkahkan kakinya hingga membuat Tita mau tak mau mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami.


"Abang mau bawa Tita ke mana?" tanya Tita dengan kedua tangan yang mengerat pada leher Kennan.


Tanpa menyahut Kennan tetap menggendong tubuh ramping itu menjauhi dapur.


Saat sampai pada meja pantry yang hanya beberapa langkah, Kennan mendudukkan Tita di atasnya.


"Bang ini buat makan, kenapa Tita didudukin di sini?" tanya Tita bingung masih dengan posisi kedua tangannya yang mengalung pada leher Kennan.


"Memang... gue juga mau makan." sahut Kennan dengn tidak berhenti memandangi wajah cantik Tita yang membuatnya gemas.


"Lepasin Tita dulu, biar Tita bisa turun buat ambil nasi gorengnya." pinta Tita pada sang suami.


"Gue gak mau makan nasi goreng dek."


Lah...


Tita melebarkan kedua matanya bingung.


"Terus abang maunya makan apa?" Tita masih saja bingung dengan ucapan suaminya.


"Makan kamu." sahut Kennan dengan menempelkan hidung mancungnya pada hidung mbangir milik isterinya.


Hek.


Deru nafas hangat dari mulut Kennan yang menyerbu wajahnya, membuat Tita tercekat.


"Bang"


"Hemm" Kennan mulai menyusuri wajah, rahang lalu menuju seputaran telinga hingga ceruk leher Tita dengan bibir tebalnya.


"Abang geli..." Tita sedikit memundurkan wajahnya untuk mengurangi rasa geli akibat cecapan bibir Kennan yang mulai basah.


"Nikmati sentuhan gue dek, jangan menjauh." ucap Kennan dengan menahan tengkuk leher Tita agar isterinya tersebut tidak memundurkan wajahnya.


"Tapi geli banget Bang..." sahut Tita dengan menggigit bibir bawahnya akibat menahan sensasi gelenyer aneh yang mulai menjalari seluruh urat nadinya.


Kennan menghentikan aksinya lalu sedikit memundurkan tubuhnya, kedua bola matanya tidak berhenti bergerak menelisik wajah isterinya hingga membuat Tita menunduk untuk menutupi rona merah malu pada wajahnya.


"Abang jangan liatin Tita kek gitu." ucap Tita dengan masih menunduk, jantung nya ikut berdetak kencang sekarang.


"Emangnya kenapa? Malu?" Kennan menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


"Enggak."


"Lalu?" Kennan.


"Takut."


"Lah... takut kenapa?" Kennan mengerutkan dahinya.


"Bukan takut kenapa tapi takut karena apa..." sahut Tita membingungkan Kennan.


"Kalau gitu takut karena apa?" Kennan masih dengan wajah bingungnya.


"Takut karena wajah abang."


"Wajah gue kenapa dek?"


"Seram." sahut Tita dengan meremas jemarinya.


Lah...


Kennan memperlebar kedua matanya, dengan mulut yang terbuka.


"Wajah cakep gini dibilang seram."


"Tapi beneran seram Bang. Kek singa lapar yang mau nerkam."


Kennan terkekeh kecil.


"Memang... gue sekarang siap nerkam kamu."


Lalu dengan cepat Kennan meraup bibir pink Tita tanpa memberikan kesempatan gadis itu untuk berucap kata.


Tita yang semula terkejut dengan ciuman Kennan yang terlihat brutal, perlahan menyesuaikan diri dan membalas setiap cecapan yang diberikan oleh sang suami.


Seakan ingin saling memuaskan, keduanya saling mengeratkan tangannya. Tita dengan kedua tangan yang mengunci leher Kennan sedangkan Kennan mengeratkan pinggang Tita hingga tubuh rampingnya menempel erat pada tubuh kekar Kennan. Bahkan kedua kaki Tita yang berada di kanan kiri tubuh Kennan sekarang mengunci tubuh kekar itu erat.


Setelah beberapa saat saling berciuman hingga keduanya kesulitan bernafas, Kennan melepaskan tautan bibirnya untuk memberi ruang bernafas.


Nafas keduanya beradu menderu.


Kennan menyatukan keningnya dengan kening Tita untuk meredakan nafasnya tang tersengal.


"Sorry... gue selalu kebablasan ya dek."


Tita tidak menyahut, memilih melepaskan keningnya menjauh dari kening sang suami.


Setelahnya memandang wajah tampan di depannya dengan tersenyum tipis.


"Gak papa, Tita juga suka kok." ucapnya dengan tersenyum malu namun dengan tetap memandang wajah suaminya sembari mengusap lembut bibir basah Kennan dengan jemari tangannya.


Kennan pun tersenyum senang mendengar jawaban isterinya.


"Beneran sukak?" Kennan menyelidik.


"Bener." Tita mengangguk malu.


"Mau lagi?" tanya Kennan bersemangat menggoda.


Tita menunduk.


"Enggak... nanti lagi aja." tolak Tita halus. Bukannya Tita tidak ingin, melainkan hari ini Tita harus kerja.


"Katanya suka ciuman gue." Kennan masih saja menggoda.


"Iya... tapi semaleman udah, ditambah barusan juga abang kasih ciumnya lama. Ntar abang bosen." ucap Tita dengan hati hati takut membuat suaminya tersinggung atas penolakannya.


Kennan meraih dagu Tita, lalu menaikkanya hingga wajah cantik itu mendongak.


Keduanya saling berpandangan satu sama lain sekarang.

__ADS_1


"Kalau untuk menikmati ini...," Kennan mengusap lembut bibir pink Tita yang menebal akibat ciumannya beberapa saat lalu dengan ibu jarinya. Kedua matanya menatap intens bibir Tita.


"Gue gak bakal bosan dek, justru ini jadi candu buat gue. Setiap kali gue melihatnya, gue gak bisa tahan untuk tidak menyentuhnya." Kennan menggerakkan ibu jarinya perlahan pada bibir Tita.


"Bohong." sahut Tita tidak percaya.


"Bener! Gue gak bohong." Kennan berusaha meyakinkan.


"Abang gak bisa bosan sama bibir Tita, tapi suatu saat nanti abang pasti bosan sama Tita." tetiba wajah Tita berubah sendu.


"Siapa yang bilang gitu?"


"Tita yang bilang, barusan." sahut Tita dengan polosnya.


"Gimana bisa gue bosan sama pemilik bibir yang udah bikin gue candu, kek gini." Kennan kembali mendekatkan wajahnya hingga hanya bersisa jarak beberapa centi saja.


Akan tetapi dengan sigap Tita menahan dada bidang Kennan agar tidak kembali menciumnya.


Kennan pun memberikan tatapan bingung saat mendapat reaksi seperti itu dari Tita.


Seolah mengerti kebingungan suaminya Tita berubah kata.


"Mesumnya udah, bentar lagi Tita mau berangkat kerja bang. Ntar malem disambung lagi, Tita juga belum sarapan nih. Entar terlambat." Tita masih dengan menahan dada bidang sang suami.


"Gak usah kerja." sahut Kennan cepat.


"Gak bisa bang, Tita udah janji sama kak Putra buat bantuin kafe hari ini."


"Biar dicariin pengganti. Gue mau elo di rumah wae hari ini."


"Abang gak bisa gitu dong, Tita udah janji." Tita memelas.


"Gak usah dek, lagian kafe kan punya ggu..."


Ting tong...


Ucapan Kennan terjeda akibat bel apartemen yang berbunyi.


"Siapa sih pagi pagi udah bertamu..." gerutu Kennan dengan kesal.


"Udah... abang bukain aja, jangan cemberut gitu. Siapa tau bunda yang dateng." Tita sembari mengusap lembut lengan Kennan.


Kennan dengan terpaksa melepaskan tangannya dari tubuh Tita, lalu menurunkannya dari meja pantry.


"Biar Tita ganti baju dulu." ucap Tita dengan hendak beranjak.


"Bentar." Kennan menahan lengan isterinya.


"Apalagi Bang?"


"Sekali lagi." Kennan dengan menepuk bibirnya.


"Abb..."


Belum selesai Tita mengucap kata, Kennan telah meraup bibirnya dengan cepat.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2