Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
102. Membujuk


__ADS_3

"Segini cukup??", Tita bertanya pada Kennan saat mengambilkan nasi untuk suaminya.


"Cukup".


Tita dan Kennan sekarang duduk saling berhadapan untuk melakukan sarapan pagi, setelah Kennan menyelesaikan rutinitas mandi paginya kemudian menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur. Di mana Tita sudah duduk siap menunggunya dengan sajian menu sarapan pagi di atas meja makan yang tidak terlalu besar tersebut.


Meski menu yang terhidang cukup sederhana namun tak menyurutkan nafsu makan Kennan yang beberapa hari ini telah hilang akibat dirinya yang sibuk melakukan berbagai cara untuk dapat menemui Tita.


Setelah Kennan mengambil beberapa sendok sayur kemudian mengambil dua potong tempe goreng, mereka berdua makan dalam diam. Hanya bunyi denting sendok yang beradu dengan piring yang mendominasi suara di keheningan dapur.


"Abang berkelahi lagi?" tanya Tita saat dirinya sudah menyelesaikan makannya dan menyodorkan segelas air minum pada Kennan.


"Enggak", sahut Kennan setelah meminum air putih pemberian Tita.


"Luka abang...darimana?", selidik Tita. Hatinya terasa sedikit perih melihat luka luka pada wajah tampan suaminya.


"Jatoh dari motor". Aku Kennan jujur dengan suara sedikit tercekat karena takut Tita bertanya lebih jauh tentang lukanya. Kennan masih mengingat jika Tita tidak menyukai balap motor karena trauma kehilangan kakak lelakinya. Kennan tidak ingin gadis yang telah menjadi isterinya itu bertambah sedih dan membencinya karena dirinya juga menyukai balap motor, dulu.


"Ngebut??", Tita mengernyit.


Kennan menggeleng. "Gak sengaja terpeleset".


Gegara mikirin elo yang tiba tiba ngehindari gue....Ta, ucap Kennan dalam hati.


"Kapan....jatohnya?"


"Tadi malem", jawab Kennan sambil menatap Tita yang terlihat sangat cantik, meski guratan sendu masih menghiasi wajah cantiknya pada pagi hari ini.


"Pas mau ke sini?", lagi Tita berusaha menyelidik.


"Enggak"


"Terus abang ke sini naek apa?", tanya Tita.


"Dianter sama temen"


"Ohh".


"Gak usah pakek motor....naek mobil wae kalo kemana - mana" Tita berucap sambil beranjak memberesi piring kotor kemudian membawanya ke dapur untuk dicuci.


"Kenapa?!", tanya Kennan.


"Biar gak jatoh lagi, masih beruntung lukanya ringan. Tita gak pengen abang kenapa - napa"


Kennan tersenyum, mendengar ucapan Tita. Dirinya merasa senang meski Tita marah tapi masih peduli padanya.


🍭🍭🍭🍭


"Bik...Tita di mana?", Tanya Kennan pada wanita paruh baya pemilik panti asuhan yang dulu pernah menjadi pengasuh Tita isterinya.


"Eh....aden.....", wanita paruh baya itu menoleh ke belakang, karena posisinya membelakangi Kennan.


"Neng Tita ada di kebun belakang, mungkin mendongeng sama anak - anak", ujar Bik Marsih pada Kennan.


"Oh...baiklah. Kennan menyusul ke sana ya Bik", pamit Kennan beranjak setelah mendapat anggukan dari Bibik Marsih.


Dari kejauhan Kennan memandang Tita yang sedang tersenyum memegang sebuah buku cerita di hadapan beberapa anak kecil yang duduk setengah melingkar mengelilinginya di bawah pohon yang rindang. Sepertinya anak anak tersebut sangat menikmati dongeng dari Tita.


Terlihat beberapa anak saling berebutan untuk mendapatkan perhatian dari Tita, hal itu tidak membuat Tita marah melainkan dengan sabar Tita memberikan waktunya untuk mendengarkan celotehan mereka dan berinteraksi satu persatu bergiliran.

__ADS_1


"Hemm....calon ibu yang sabar.....buat anak - anak gue nanti. Bunda emang gak salah...", gumam Kennan tak jelas dengan tidak berhenti mengembangkan senyum di bibirnya.


Setelah beberapa saat memuaskan diri memandangi wajah cantik Tita Kennan kemudian berjalan mendekati gadis yang tersenyum cerah sambil asyik berceloteh dengan sesekali merubah mimik wajahnya akibat menyesuaikan diri dengan peran cerita yang dibawakan olehnya.


Breekk.


Kennan mendudukkan diri di belakang anak anak panti yang sedang asyik mendengarkan cerita dari Tita, membuat Tita menghentikan ceritanya diikuti dengan pandangan anak anak yang menoleh ke belakang menatap Kennan.


"Kakak siapa?", tanya seorang gadis kecil yang berbaju warna merah saat mendapati Kennan duduk di belakangnya.


Kennan bingung harus menjawab apa, takut jawabannya salah dan membuat Tita marah. Akhirnya Kennan hanya tersenyum dengan mengusap belakang kepalanya bingung. Kennan tidak terbiasa berinteraksi dengan anak kecil, bahkan dengan duo krucil keponakannya Kennan hanya terbiasa membelikan es krim atau sesuatu yang disukai mereka saat mereka bertemu.


"Dia suami kak Tita sayang, ayo kenalan", Tita menjawab pertanyaan anak itu dengan memilih jujur, tak lupa senyum tersungging pada bibirnya yang tipis.


Anak anak itu pun menjabat tangan Kennan satu persatu dengan tak lupa memuji wajah tampan Kennan.


"Kalo sudah kenalannya, adek adek masuk rumah ya. Kakak mau bercerita sama suami kakak", Tutur Tita lembut pada anak - anak panti.


Anak anak kecil tersebut menurut kemudian berpamitan meninggalkan Tita dan Kennan.


Seorang anak kecil yang tadi duduk di hadapan Kennan masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Suami kak Tita juga mau mendengar cerita dongeng ya?", tanya seorang anak kecil yang sepertinya belum memahami maksud ucapan Tita.


Tita tersenyum, "Iya sayang....yang dengerin cerita kakak gantian ya"


Anak kecil itu pun mengangguk kemudian berlari kecil menyusul anak anak lainnya yang sudah tampak memasuki pintu rumah.


"Ayo pulang", Kennan berkata pada Tita setelah dirinya hanya tinggal berdua saja dengan Tita.


Tita memandang Kennan heran, "Bukane tadi Tita udah bilang....abang pulang duluan wae, Tita masih pengen di sini"


"Bang..."


"Gak ada penolakan Ta...Udah waktunya elo pulang. Udah seminggu lo ninggalin gue". Kennan tak ingin jika dia harus kembali ke apartemen sendiri tanpa Tita istrinya.


"Beri Tita waktu...."


"Udah cukup gue kasih waktu buat lo", Kennan menajamkan matanya.


"Abang egois...!!!Gak pernah ngerti perasaan Tita"


"Elo yang egois....gue udah kasih waktu cukup buat lo berada di sini. Elo gak tau rasanya jadi gue, musti bolak balik jemput lo buat pulang. Dan lo gak mau peduli gimana rasanya sakit hati gue.....", Kennan mulai emosi.


Hah....Manusia kulkas dua pintu ini sakit hati, bukane harusnya Tita yang sakit hati ya..., pikir Tita dalam hati.


"Abang yang egois....!!! Bahkan abang gak pernah mau tau tentang yang terjadi sama Tita. Abang cuma peduli sama perasaan abang sendiri!!", Tita mulai berkaca - kaca.


"Gimana gue ngerti kalo lo gak pernah ngomong sama gue...lo malah memilih di sini menghindari gue!!!".


"Tita cuma butuh waktu buat....", Belum selesai Tita mengutarakan keinginannya Kennan lebih dahulu memutus ucapan Tita.


"Lo pikir cuma lo yang sakit hati di sini....hah", Kennan semakin emosi dengan dada yang naik turun menahan amarah. Ternyata membujuk Tita tidak semudah pikirannya.


Tita membuang nafas kasar, rasa kesal telah mendominasinya saat ini.


Tita memilih berlalu meninggalkan Kennan tanpa berucap kata daripada harus meladeni sikap Kennan yang egois menurut Tita.


"Ta....Tita...", Kennan memanggil Tita agar mengurungkan niatnya meninggalkan Kennan.

__ADS_1


"Kalo lo gak mau pulang sekarang..... lebih baik elo gak pulang sekalian!!!", Kennan memperingati Tita.


Sejenak Tita menghentikan langkahnya.


"Gue capek....gue lelah sama tingkah lo yang egois dan kepala batu!!", lagi Kennan berteriak.


Mendengar teriakan Kennan, Tita akhirnya memilih melajukan langkah kakinya menjauhi Kennan dengan air mata yang berderai.


Dadanya terasa sesak mendengar sebutan egois dan manja yang Kennan tujukan padanya. Padahal selama menikah dengan Kennan, Tita sudah cukup bersabar menghadapi sikap Kennan yang gampang berubah seperti bunglon. Bahkan Tita berusaha menahan semua ego yang seringkali mendominasi dirinya.


"Arrrggghhhhh", Kennan mengacak kepalanya dengan kasar saat melihat Tita berjalan menjauh tidak memperdulikan keinginannya.


...🍭🍭🍭🍭...


"Kita pulang, sekarang", Tita berucap saat baru saja keluar dari kamar dengan mata sembabnya.


Membuat Kennan ysng sedang duduk di ruang tamu bersama Bibik Marsih menoleh, kaget sekaligus senang mendengar ucapan Tita.


"Beneran mau pulang??", Kennan masih sedikit ragu.


"Bener", Tita ketus.


"Non Tita....", Bik Marsih menggelengkan kepala ke arah Tita dengan tatapan lembut.


Tita menghembuskan nafas berat.


"Iya kita pulang sekarang bang", Tita menurunkan intonasi bicaranya.


Kennan mengangguk tersenyum.


"Baiklah....ayok", ucap Kennan lembut sambil berdiri, mumpung Tita mau diajak pulang. Kennan tak ingin memberi kesempatan Tita untuk menarik ucapannya.


"Kami permisi pulang ya Bik....Terimakasih banyak. Maaf Kennan sudah merepotkan bibik", pamit Kennan sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takjim.


Tita pun mengikuti Kennan dengan mencium punggung tangan Bik Marsih kemudian beralih memeluk erat wanita yang telah mengasuhnya dengn sabar sejak kecil tersebut tanpa kata, hanya sedikit isakan lirih yang terdengar dari bibirnya.


"Sudah jangan nangis terus, malu sama Den Kennan. Jadi isteri yang baik ya non, jangan membantah ucapan suami karena surga isteri ada pada suami, bagaimanapun dalam agama derajat suami lebih tinggi daripada perempuan" Ucap Bik Marsih lembut dengan menepuk punggung Tita pelan.


Tita mengangguk pelan. "Tita pamit ya Bik"


"Assalamualaikum", ucap Kennan dan Tita hampir serempak.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh", balas Bik Marsih dengan senyum.


"Kita pulang ke rumah bunda ya bang?!" ucap Tita saat mereka keluar dari pekarangan panti asuhan.


"Heh", Kennan menautkan kedua alisnya.


"Baiklah", Kennan mengiyakan setelah mendapati bibir Tita yang cemberut. Sepertinya kesabaran Kennan saat ini sedang melewati ujian.


🍨🍨🍨🍨


Like


Vote


Komen


Tambahkan favorit❀

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2