
"sekarang apa mau kalian?" ucap Stella datar.
Kini mereka berada di sebuah restauran yang masih satu gedung dengan hotel yang Stella sewa.
"aku hanya ingin kamu ikut pergi bersamaku dan menjelaskan tentang apa yang terjadi di kantorku waktu itu dan tadi pagi." ucap Azka tak kalah dingin.
"untuk apa aku melakukanya,ini yang aku inginkan membuatmu dan istrimu pisah." ucap Stella tanpa rasa bersalah.
"heh...kau yakin tidak mau?" tanya Azka dengan tersenyum miring,dia mengotak Atik ponselnya dan menunjukkan video me sum milik Stella yang baru saja ia rekam.
seketika mata Stella melotot dan langsung ingin meraih ponsel itu dari tangan Azka,tetapi dengan cepat Azka menjauhkan ponsel itu dari Stella.
"hapus gak,kalau tidak aku akan membuat Dita jauh lebih menderita dari ini,atau kau ingin aku menyingkirkan anak kalian juga?" ancam Stella.
"jika kau berani menyentuh merek seujung kuku mereka maka aku tak segan-segan membunuhmu." kini Abi yang mulai geram dengan tingkah Stella.
"siapa kau berani sekali kau mengancamku!" ucap Stella dengan angkuh
"aku adalah kakak Dita,bagi siapa saja yang berani menyentuh adikku maka secara tidak langsung akan menjadi musuhku." tekan Abi.
"sudahlah Stella,jika kau berani macam-macam maka videomu ini akan tersebar,dan kau tahu apa selanjutnya yang akan terjadi?selain karirmu keluargamu juga takkan mau mengakuinya sebagai anak mereka." ancam Azka.
ya Azka sangat tahu kelemahan Stella adalah keluarganya dan karirnya. Azka sangat tahu bagaimana sikap kedua orang tua Stella,mereka sangat tegas bahkan tak segan akan mengusir Stella jika berani mempermalukan keluarganya,dan jika Stella di usir keluarganya makanya karirnya akan hancur dan dia hidup terlunta-lunta di jalanan karena tak memiliki apa-apa membayangkannya saja Stella bergidik ngeri.
mau tak mau menyetujui permintaan Azka untuk meluruskan tentang dirinya yang berusaha menggoda Azka.
"baiklah...baiklah...tapi kamu harus janji untuk menghapus semua video dan foto-foto itu setelah aku meluruskan semuanya."
__ADS_1
"oke...aku tunggu besok kamu di kediaman kakek Basir." ucap Azka.
sinar matahari menyapa,Dita tengah asik menjemur sang anak di taman rumah sakit.walaupun anaknya terlahir prematur tetapi pertumbuhan anaknya begitu baik dan berat badanya semakin hari semakin bertambah dan bahkan sudah tidak di perlukan lagi inkubator,bahkan hari ini mereka sudah di perbolehkan untuk pulang. sebelum pulang Dita menyempatkan untuk menjemur anaknya di taman rumah sakit.
"dek,apa kabar?" sebuah suara bariton menyapa Dita,sungguh suara itu yang sudah hampir satu bulan ini ia rindukan tetapi kakeknya selalu melarangnya untuk bertemu denganya.
"mas,kenapa di sini?" tanya Dita takut,bukan karena takut dengan Azka tetapi takut jika kakeknya tahu maka dia dan anaknya akan di pisahkan dan itu tidak akan bisa Dita terima.
"tentu saja ingin menemui istri dan anakku,apa itu salah?" tanya Azka santai,dia mengerti dengan ketakutan istrinya itu.
"tapi,mas...."
"sudah kamu tenang saja dek,mas Abi sedang mengalihkan perhatian kakek jadi untuk sementara tidak jadi masalah." potong Azka.
meski begitu Dita tetap merasa kawatir,pasalnya kakek ya itu bisa tiba-tiba muncul tanpa mereka duga.
Dita hanya diam,menatap wajah anaknya sebenarnya Dita masih marah dengan Azka atas kejadian beberapa Minggu lalu.
"mas...apa Stella gak masalah jika mas kesini?" ucap Dita ragu.
ya,memang Dita memutuskan untuk melepas Azka setelah memergoki Azka berciuman dengan Stella,karena memang dirinya sadar Azka tidak pernah mencintainya.
"apa maksud kamu dek?" tanya Azka tak suka saat Dita mengucapkan hal tersebut.
"bukankah mas memutuskan untuk kembali padanya dan meninggalkan kami?" ucap Dita menunduk,sungguh hatinya sakit saat bayangan Azka dan Stella berciuman.
"kata siapa?mas sama sekali tidak ada niat untuk kembali padanya dek,percaya sama mas." ucap Azka menggenggam tangan Dita erat,sementara Dita mencoba melepas genggaman tangan Azka,tetapi Azka semakin erat menggenggamnya.
__ADS_1
"dek,dengarkan mas...."
Azka memegang dagu Dita dan mendongakkan wajahnya agar Dita mau menatapnya.
"Dek,mas sama sekali tak ada niatan untuk kembali padanya dan kejadian waktu itu bukan keinginan mas Stella memaksa waktu itu." Azka mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupinya.
"percayalah dek,hanya kamu satu-satunya di hati mas apalagi sekarang ada Rafa di antara kita." ucap Azka lembut sambil mencium kening Dita,lalu turun ke bibir Dita yang sudah sangat ia rindukan.
"apa-apaan ini?" sentak kakek Basir saat melihat Azka dan Dita berciuman. dengan langkah cepat kakek menghampiri mereka dan memisahkan melepas pelukan mereka.
"apa kau tidak malu ada banyak orang disini?apa lagi ada Rafa di tengah kalian! dan kamu bukankah saya sudah bilang buktikan dulu kalau kejadian kemarin hanya kesalah pahaman." ucap kakek geram
"kakek tenang saja saya sudah mempunyai buktinya,nanti akan saya bawa ke rumah kakek agar masalah ini cepat selesai dan kakek harus berjanji jangan pernah memisahkan saya dengan adik saya." ucap Azka tenang.
"baiklah,kita lihat saja nanti." ucap kakek dan menarik Dita membawa cucunya menjauh dari suaminya.
"kakek sudah bilang,jangan mudah percaya dengan lelaki itu apa yang kamu lihat kemarin masih belum jelas?" kakek geram karena cucunya ini mudah sekali luluh hatinya.
"tapi kek,apa yang kita lihat belum tentu benar kek. mas Azka sudah menceritakan semuanya,ternya memang Stella sengaja melakukan hal ini agar hubunganku dan mas Azka renggang."
"jangan mau kamu di bodohi oleh lelaki itu." tekan kakek,Dita hanya bisa menunduk saat melihat kakeknya marah kepadanya bahkan matanya sudah berkaca-kaca siap untuk meluncur.
kakek yang melihat itu mengambil nafas dalam dan membuangnya secara perlahan.melijat Dita yang seperti mengingatkanya pada Alvaro yang membangkang bahkan meninggalkan dirinya saat ia tak merestui hubungan Alvaro dan Nadia.
kakek mendekati Dita dan memeluknya,
"kakek hanya tidak ingin kamu di sakiti oleh lelaki itu,tunggu sampai dia bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah lalu setelah itu kakek akan merestui kalian." ucap kakek lembut tanganya mengelus rambut Dita dengan sangat lembut,sungguh kakek begitu menyayangi Dita dan Abi hanya mereka harta kakek jika ada yang berani menyakiti mereka maka mereka akan berhadapan langsung denganya.
__ADS_1
Dita mengangguk, sambil mengeratkan pelukanya. "sudahlah cepatlah bersiap kita akan pulang sekarang." ucap sang kakek mengurai pelukanya dan menghapus air mata yang menetes di pipi Dita.