Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
223. Berandal Piyik


__ADS_3

Byuurrrr....


Shower yang berada tepat di atas keduanya pun menyala, membasahi tubuh kedua pasangan remaja tersebut.


Sepertinya Tita harus terjebak di kamar mandi bersama Kennan.


Dengan posisi tubuh yang nasih berada dalam kungkungan Kennan, Tita berusaha memukul tubuh Kennan sekenanya. Karena Tita merasa suaminya itu seolah tak peduli dengan kondisi mereka berdua yang basah tanpa mau melepaskan tautan bibir mereka. Padahal tubuh keduanya menjadi basah kuyub akibat guyuran air shower yang ternyata berada dalam mode air mengucur deras. Karena memang saat mandi tadi, Tita menggunakannya untuk keramas.


"Sakit dek, kenapa malah main pukul sih..." ucap Kennan meringis setelah mendapat pukulan bertubi tubi dari Tita. Mau tak mau Kennan pun harus melepaskan tautan bibirnya dan dengan satu tangan memencet tombol di belakang punggung Tita, mematikannya.


"Habisnya abang masih wae nyium Tita, padahal tubuh kita berdua basah gini." kesal Tita.


"Basah doang. Entar mandi, ganti baju selesai kan?!"


"Abaang hish... Tita kan udah mandi."


"Gak papa. Mandi lagi wae, sekalian lo mandiin gue." Kennan dengan mengerling mesum. Bisa bisanya di saat seperti ini Kennan tetap saja santai dengan kemesumannya.


"Enggak. Tita nggak mau..." pekik Tita dengan berjalan menuju pintu, untuk segera keluar dari dalam kamar mandi. Kalau dirinya tidak segera keluar, suami mesumnya itu pasti akan membuatnya berakhir dengan mandi bersama.


Akan tetapi dengan cekatan Kennan mencekal tangan Tita, menarik kuat hingga kembali ke dalam dekapannya. Mengunci tubuh Tita dalam pelukannya dan menyalakan shower kembali.


"Abang... Tita nggak mau..." Tita memberontak dengan memukul Kennan, berusaha kabur dari dekapan sang suami. Namun semakin Tita memberontak, Kennan mendekapnya semakin kuat.


Bagaimana bisa suaminya itu mengajaknya mandi bersama saat berada di kafe K&Y. Tita tidak mungkin menuruti keinginan suami mesumnya tersebut. Tita berfikir keinginan sang suami itu sangatlah konyol.


Jika saja saat ini mereka berada di dalam kamar mandi apartemen, Tita akan mempertimbangkannya. Akan tetapi saat ini keduanya tangan berada di kamar mandi ruangan Kennan yang berada di kafe. Bagaimana jika nanti para pegawai ada yang mengetahui aksi mereka di sana, Tita pasti tidak mampu menunjukkan wajahnya karena malu.


"Bang..." Tita terengah dibawah guyuran air shower dengan tatapan memohon, agar suaminya tersebut melepaskannya.


Kennan mengendurkan kunciannya, mengalihkan tangan pada tombol shower guna menyetel airnya turun lambat. Membuat tetesan shower bak rintik hujan.


"Bantuin gue mandi bentar." Kennan dengan membuka kaos yang melekat pada tubuhnya.


"Biasanya mandi sendiri jugak..." Tita dengan memalingkan wajahnya. Tita tak mampu menatap wajah tampan di depannya yang terlihat sangat tampan saat basah. Juga bagian tubuh atas Kennan yang polos tepat di depan wajahnya. Meskiupun sudah sering melakukan adegan ranjang dengan sang suami, Tita tetap saja tak kuasa menahan jantungnya yang berdegub seakan menggila.

__ADS_1


"Saat ini gue pengen mandi bareng lo dek." ucap Kennan parau, tepat di telinga kiri Tita.


Sontak membuat tubuh Tita pun bergetar. Rasa hangat menjalari seluruh tubuhnya meskipun air dingin dari shower masih mengguyur tubuhnya dan sang suami.


"Boleh ya?" Kennan dengan merapatkan wajahnya pada ceruk leher isterinya, mengendus dan memberikan kecupan di sana.


Tidak ada jawaban dari mulut Tita yang masih setiap memalingkan wajahnya dari Kennan. Namun tubuh Tita pun nampak tidak menolak saat Kennan semakin memperdalam wajahnya menyusuri ceruk leher sang isteri dan perlahan menarik handuk yang membalut tubuhnya hingga jatuh berserak di lantai.


"Abaang..." pekik Tita tertahan saat tangan besar itu mulai mengusap punggungnya lembut serta menyusuri setiap inchi tubuh polosnya.


Kennan segera membungkam bibir Tita dengan mulutnya. Hingga akhirnya ******* serta lenguhan memenuhi kamar mandi yang tak seberapa luas tersebut.


Di sisi lain, di dalam ruangan kerja Kennan. Nampak Doni mengeram kesal sembari menghempaskan berkas vendor kafe yang membutuhkan tanda tangan Kennan.


"Dasar berandal piyik, bisa bisanya dia.... Haish..." Doni keluar dari ruangan Kennan dengan mengacak rambutnya kasar. Umpatan demi umpatan kecil keluar dari mulutnya.


...🍭🍭🍭🍭...


Setelah menyelesaikan kegiatan kamar mandi mereka, Kennan dan Tita berjalan menuruni tangga untuk melanjutkan acara kencan keduanya yang telah tertunda.


Kennan yang berjalan di belakang, mengikuti Tita santai dengan memperlihatkan wajah datarnya. Kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana, menyempurnakan kesan dinginnya. Membuat siapapun tidak akan pernah menyangka jika di balik wajah datar itu menyimpan kemesuman tingkat dewa.


"Kenn!" Doni berseru memanggil sepupu piyik yang selalu saja mengejek status keperjakaannya tersebut.


Kennan menoleh dan menghentikan langkah kakinya. "Apa?"


"Lo mau pergi?" tanya Doni melihat penampilan Kennan yang casual namun tetap saja membuat wajah berandal piyik itu tetap tampan.


"Iya." Kennan masih berdiri di tempatnya.


"Lo nggak balik lagi ke kafe?"


"Nggak lah, gue mau kencan sama bini gue..." Kennan santai dengan menunjuk Tita yang sudah cukup jauh darinya dengan dagu.


Melihat Tita yang tetap berjalan tanpa berhenti, Kennan pun berteriak memanggil isterinya.

__ADS_1


"Dek!! Kok lo tinggalin gue sih, suami lo masih di sini nih..." teriak Kennan tak peduli dengan ucapannya yang terdengar oleh pengunjung resto.


Bukannya berhenti, Tita malah mempercepat langkah kakinya agar segera keluar dari kafe. Dalam hati merutuki kalimat Kennan yang dengan pede menyebut dirinya sebagai suami.


Bukannya Tita malu akan pengakuan Kennan terhadap status keduanya. Akan tetapi kondisi kafe yang ramai pengunjung namun minim suara tersebut membuat hampir seluruh pengunjung tak berhenti memandang dirinya dan juga Kennan.


"Dek! Lo nggak takut suami lo diambil cewek lain. Suami lo masih muda lho, ganteng... banyak yang ngantri nih kalau lo tinggalin."


Sontak kalimat Kennan membuat wajah Tita semakin memerah.


Rasa marah, kesal, akan ucapan Kennan membuat Tita segera membelokkan tubuhnya ke arah Kennan kembali.


"Abang mulutnya kalau ngomong nggak usah teriak kek toa masjid." Tita berucap dengan gigi gemelatuk geregatan.


Kennan hanya tersenyum dengan wajah tanpa dosanya.


"Siapa suruh lo nggak berhenti, malah ninggalin gue." Kennan datar.


"Kan Tita bisa nunggu di mobil. Abang nggak perlu teriakan teriak kek tadi, bikin malu wae."


"Salahin Doni tu...." Kennan mengalihkan kesalahan pada sepupunya.


"Lah ngapain gue di bawa bawa..." Doni mendelik.


"Coba kalau lo nggak manggil gue, gue nggak bakal berhenti kan... Tita juga nggak ninggalin gue, so gue juga nggak bakal teriak panggil elo, iya kan dek..."


"Hish... bukan gitu abang." Tita geram. "Udah selesai belum urusannya?" tanya Tita dengan menahan emosi.


"Don, gue pergi ya..." Kennan dengan hendak beranjak dari tempatnya.


"Elo udah kasih tanda tanga berkas vendor yang gue taruh di atas meja kerja lo?" tanya Doni membuat langkah kaki Kennan kembali tertahan.


"Belum. Kalau cuma itu doang besok wae. Gue harus pergi nih." Kennan tanpa mau mendengarkan jawaban dari Doni. Kennan tak mau Tita kembali mendahuluinya.


"Dasar piyik...." Doni menggelengkan kepala berulang sembari memandangi Kennan yang terlihat berlari mengejar isterinya kembali. Karena beberapa detik lalu Tita beranjak pergi tanpa mengajak Kennan.

__ADS_1


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2