Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
155. Sebenarnya1


__ADS_3

Hai ... Hai ... readers tercinta ....


Othor minta Maap nih karena lambat updateπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Semoga dimaafken yak ....


Tak kasih 2 part nih ... tapi mohon maaf kalau isinya gak sesuai dengan harapan my beloved readers yang ter ... emuach😘😘😘😘


Happy reading ...


Have a nice day ...


Ku kirimkan buket bunga agar hati kalian semua senantiasa berbunga - bunga.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


"Incess!" seru Tita kegirangan saat melihat sosok sang sahabat. Dirinya pun segera menghamburkan diri memeluk sahabat baiknya dengan riang.


Hani pun membalas pelukan sahabatnya tak kalah erat, keduanya saling melepas rindu. Karena pada dasarnya keduanya tidak bisa saling mendiamkan, dari dalam hati keduanya sangat merindukan satu sama lain.


Kennan yang semula mengekor Tita dari belakang pun tersenyum, tak kalah senang dari kedua sahabat yang sedang saling berpelukan itu.


Kennan pun membalikkan badan kembali memasuki kamar saat melihat kedua gadis itu masih berpelukan untuk meluapkan rindu. Memberi waktu untuk keduanya menyelesaikan masalah yang sempat membuat persahabatan mereka renggang.


Kennan memang sengaja menyuruh Hani untuk datang ke apartemennya agar menyelesaikan perseteruannya dengan isterinya. Kennan tidak ingin isteri cantiknya itu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.


Bahkan Kennan juga yang memanggil grab untuk menjemput Hani dan membawanya datang ke apartemen demi sang isteri tercinta.


Tita mengurai pelukannya dari tubuh mungil sahabatnya. Lalu menyeka bulir bening yang menggenang di pelupuk matanya, seraya berkata.


"Incess ... maafin emban, karena emban gak jujur sama Incess." ucap Tita sembari menunduk dan menggenggam erat jemari sahabatnya.


"Gak papa. Maaf ... kemarin gue hanya terbawa emosi karena merasa elo gak menghargai persahabatan kita." Hani tersenyum memandang wajah Tita sembari menghapus bulir bening yang mulai menuruni pipi putih milik sahabat tercintanya.


Hiks ... hiks ...


Tita mengangguk dengan terisak dan tersenyum kecil.


"Emban juga minta maaf, karena udah merebut orang yang Incess sukai." Tita menunduk tidak ingin melihat wajah sedih sahabatnya.


"Gak ada yang perlu dimaafin Ta ... gue tau kok lo gak ada niat ngerebut dia dari gue. Lagian em ... sebenernya ..." Hani menjeda ucapannya terlihat bingung.


"Sebenernya kenapa?" Tita mendongakkan kepala menatap sahabatnya.


"Em ... gue emm ... cowok yang gue suka itu bukan Kennan tapi emm ... dia ... dia Irsyad." cicit Hani lirih namun masih terdengar jelas oleh Tita.


"Apa?? Tunggu ... tunggu ... emban gak salah denger kan?!" kedua mata Tita membola.


Hani menggeleng dengan tersenyum malu. "Enggak."


"Terus kenapa ... selama ini ..." Tita bingung setelah mendapatkan jawaban dari sahabatnya.


"Incess jujur kan?"


"Iya." Lagi Hani mengangguk dengan senyum mengembang serta wajah berbinar, terlihat kelegaan pada wajahnya saat sahabatnya itu memberikan jawaban.


"Terus kenapa Incess, selama ini bilangnya ..."


"Itu ... karena gue malu, gue ngerasa gak pantas buat Irsyad. Lo tau kan kalau tipe Irsyad itu cewek tertutup, lagian dia juga sukanya sama elo Ta ... bukan sama cewek gundul kek gue ..." ucap Hani sendu terlihat kesedihan di kedua bola matanya.


(Yang dimaksud gundul oleh Hani adalah tidak memakai kerudung ya readersπŸ˜‰)

__ADS_1


"Karena banyak yang mengidolakan Kennan, lo tau kan gak ada cewek di sekolah yang gak suka sama dia. Makanya gue ikutan ngefans sama dia buat nutupin perasaan gue ke Irsyad." jelas Hani sembari meremas ujung kemeja yang dipakainya.


"Incess ..." Tita menatap sahabatnya tidak percaya, mencari kejujuran pada ucapan gadis yang terlihat gugup di depannya dengan intens.


Dan benar adanya, tidak ada kebohongan dari kedua manik mata hitam sahabatnya tersebut.


"Incess ... kenapa emban gak peka kalau incess suka sama Irsyad selama ini." Ada rasa bersalah dari dalam hati Tita saat mengatakannya.


Karena Tita yakin Hani pasti sangat sedih saat melihat keakrabannya dengan Irsyad selama ini. Meskipun keakraban dirinya dengan Irsyad tidak melampaui batas, namun kenyataan bahwa Irsyad menyukainya serta seringkali memberikan perhatian yang lebih padanya maka sudah dapat dipastikan jika sahabatnya itu seringkali menahan sedih.


"Udah gak papa ... semuanya sudah terjadi. Lagian gue sadar diri kok, Irsyad gak bakal mau sama gue. Yang penting lo sudah tau kalau gue sebenernya enggak cinta sama suami lo ..." Hani tersenyum tulus.


"Sorry udah bikin lo sedih, jadi bengkak kek gini." Hani mengusap kedua bola mata Tita yang nampak masih sembab dan bengkak.


Tita tersenyum kikuk. "Hehehe ... jadi malu, emban cengeng ya ..."


Hani pun ikut tersenyum.


"Pipi lo jadi kelihatan lebih berisi." ucap Hani disertai dengan kekehan.


"Incess ngejekin emban ...?!" Tita pura - pura memberengut.


"Iya ... kenapa mau ngadu sama suami?!" Lagi Hani mengejek untuk menggoda sahabatnya.


"Ck, gak gitu juga inn_cesss ..." Tita mengeram.


"Emban bikinin minum ya?" tanya Tita hendak beranjak, namun Hani menahan salah satu lengan tangannya seraya menggelengkan kepala.


"Gak usah ... ntar aja. Gue kangen sama lo Ta, kita ngobrol aja."


"Yakin gak mau emban bikinin minum?"


Hani mengangguk mengiyakan, Tita pun mendudukkan diri kembali.


"Mau tau doang atau mau tau banget?" tanya Hani menggoda.


"Dua - duanya." sahut Tita cepat memandang Hani sembari menumpukan dagunya pada kedua telapak tangannya.


Hani pun mulai bercerita dengan semangat.


Melebihi semangat menunggu up dari othor hehehe ...


Flashback On ...


"Hey ... cewek krucil!" seru Kennan pada Hani saat akan membelokkan tubuhnya pada ujung koridor.


Hani tetap acuh karena merasa bukan dirinya yang dipanggil. Apalagi suara bariton itu terdengar menyebutkan kata krucil pada panggilannya.


"Hey ... Ncess ... lo gak punya kuping apa?" Kennan berseru dengan kesal.


Hani yang merasa ada yang memanggilnya seperti sebutan Tita kepadanya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.


"Lo manggil gue?" Hani bertanya dengan menunjuk hidungnya saat melihat sang kapten tim basket sekolahnya berdiri menatapnya tajam.


"Iyalah ... siapa lagi yang ada selain elo di sini." dingin Kennan.


"Gue bukan krucil ya, jangan seenak udel kalau kasih panggilan ..." Hani berucap kesal. Dirinya tak gentar, meskipun cowok berwajah datar nan dingin tersebut memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Serah gue, mulut - mulut gue ... bukan pinjem punya lo." ujar Kennan menusuk.


"Ck ... resek lo!" Hani kesal lalu membalikkan tubuhnya kembali untuk melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Hani tak mau ambil pusing dengan sang kapten tim basket yang beberapa hari lalu dipergokinya jalan bareng dengan sahabatnya itu. Apalagi moodnya sudah terlanjur turun sejak bertemu sahabat baiknya tadi.


Toh sebenarnya Hani pun tidak peduli dengan sosok sang kapten tim basket yang seringkali dipuja di depan sahabatnya tersebut. Dirinya hanya tidak suka saat mengetahui sahabatnya tidak pernah jujur tentang kedekatannya dengan cowok itu.


Hani berfikir bahwa Tita yang mengaku sebagai sahabat baiknya itu tidak menghargai arti persahabatan mereka, itu saja.


"Berhenti lo ... ada yang mau gue bilang sama lo!" Kennan kembali berseru, namun Hani tetap tak peduli tetap beranjak pergi.


"Woy ... krucil!!" Kennan berteriak dengan lebih kencang dan membuntuti Hani.


Hani yang kesal dengan sebutan Kennan pada dirinya segera membalikkan badan dengan wajah yang mengeram menahan kesal.


"Gue punya nama ... dibilangin jangan seenak udel jugak!!" geram Hani.


"Gue gak tau nama lo, karna nama lo gak penting. Dan lagi krucil sesuai dengan tubuh pendek lo." ucap Kennan sarkas.


"Dasar cowok songong! Aneh lo ..." Hani masih mengeram kesal. "Ngapain manggil gue ... ganggu wae."


"Perbaiki hubungan lo sama sahabat lo!" titah Kennan, kali ini terdengar datar dan penuh penekanan.


Hani mengerutkan dahi. Dirinya tahu sahabat yang dimaksud oleh kapten tim basket itu, namun apakah sahabatnya itu mengadu pada cowok berwajah datar nan dingin tersebut? Sedekat itu kah hubungan mereka? Hani bertanya dalam hati.


"Maksud lo?" Hani pura - pura tidak mengerti.


"Lo gak punya banyak sahabat kan ... so gak usah pura - pura bego!" Kennan berucap dingin.


"Sorry gue gak ngerti maksud lo!" Hani


"Tita isteri gue ... gue gak mau lihat dia nangis tiap hari gegara pertengkaran unfaedah kalian."


Hah!!


Isteri!!


Kennan dan Tita??!


Kedua bola mata Hani membola seakan hendak keluar dari cangkangnya saat mendengar ucapan Kennan yang tidak pernah Hani bayangkan.


Hani tidak menyangka jika sahabatnya itu menyembunyikan rahasia yang sangat besar padanya.


"Tiap hari dia gak berhenti nangis, cuma gara - gara memikirkan rasa sakit hati lo karena dia nikah sama gue. Gue minta lo baikan sama dia!" Kennan berucap tegas tanpa takut jika ada orang lain yang mendengar ucapannya.


"El_llo sama Tita?" Hani tergagap masih belum yakin dengan pendengarannya.


"Iya. Gue sama dia udah nikah hampir setahun. Dia gak berani ngomong sama lo karena takut lo benci sama dia, dan elo tahu pasti alesannya apa. Sorry gue gak bermaksud membelanya, tapi dalam pernikahan ini dia gak salah. Gue yang memaksa dia mau nikah sama gue, karena gue gak mau kehilangan dia." Kennan terpaksa berbohong dengan caranya menikahi Tita karena tidak mau jika status pernikahannya karena perjodohan diketahui oleh banyak orang.


Flashback Off ...


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2