
"Gue udah kasih elo peringatan buat gak deketin isteri gue kan Syad?!", Seru Kennan dengan penuh emosi.
π€―π€―π€―π€―
Beruntung mereka berada di belakang gudang sekolah, dan lagi saat ini jam pelajaran masih berlangsung jadi tidak ada yang mendengar ucapan Kennan yang menyebutkan kata isteri dengan berseru.
Irsyad terlihat santai, bahkan memandang malas pada wajah merah padam Kennan yang disertai dengan mata yang memerah tersebut.
"Emang gue kasih jawaban mau nurutin kemauan elo?!! Enggak kan...", Irsyad berucap datar dengan kedua tangan berada di dalam saku celana seragamnya, seolah tidak takut kalau kapten tim basket yang sudah sah menjadi suami dari gadis incarannya itu akan menyerangnya dengan buas karena sudah membuatnya emosi.
"Elo pikir gue main - main sama ucapan gue, Hah"
Irsyad bergeming.
Dan itu membuat Kennan semakin bertambah emosi, lalu menarik kerah seragam Irsyad dengan kedua tangannya.
"Sekalipun elo temen gue, gue gak bakalan lepasin lo karena berani ngedeketin milik gue!", ucap Kennan tepat di depan wajah Irsyad.
"Milik lo....!! Heh.... kalau lo sadar Tita itu milik lo, harusnya elo jagain dia dengan benar bukannya berlaku seenak jidat lo....", Irsyad berucap sinis.
"Gak usah ikut campur urusan rumah tangga gue, justru apa yang lo lakuin di kantin tadi bikin gue tambah benci sama lo", Kennan mengarahkan telunjuk tangan kanannya pada wajah Irsyad.
"Kenapa cuma sama gue lo kek gini.... Apa kabar si ketos Andra??", Irsyad berucap santai, namun berhasil membuat Kennan melonggarkan cengkeraman tangannya dari kerah seragam Irsyad. Bahkan tangan kanannya yang sempat mengambang di depan wajah Irsyad luruh begitu saja.
"Bukane dia yang bikin lo cemburu, terus diemin isteri lo yang lagi sakit. Harusnya elo kek gini ke Andra juga bukan ke gue doang Kenn!!" Lagi Irsyad berusaha memprovokasi Kennan agar menyadari kesalahannya.
"Gak usah ngeles lo.... Andra itu urusan gue, gak ada hubungan sama lo", kembali Kennan mencengkeram kerah seragam Irsyad.
"Elo kalau cemburu bilang sama Tita bukan ngancem gue, bini lo gak bakalan ngerti sama maksud hati lo kalau lo cuma bisa marah - marah gak jelas kek gini. Lagian ngapain seh lo kek gini ke gue, yang ada gue makin semangat buat ngrebut Tita dari cowok egois, gak peka kek elo!", Irsyad menarik ujung bibirnya.
Bugh
Kennan memukul perut Irsyad.
Irsyad mendorong tubuh Kennan dengan kuat hingga berhasil memundurkan tubuh tegap kapten tim basketnya tersebut menjauhinya.
Bugh
Irsyad membalas pukulan dari Kennan.
"Elo pikir cara lo kek gini bikin Tita bertahan sama lo... hah....", Irsyad berucap di depan wajah Kennan dengan memberikan pukulan pada perut Kennan sekali lagi.
"Yang ada bini lo bakalan pergi ninggalin elo, dan gue siap sedia kapan aja menampung dia", Irsyad berucap penuh dengan senyum miring.
"Anj*ng.... sialan lo Syad, elo gak tahu rasanya saat tangan Tita dipegang sama itu ketos, elo gak tahu nj*ng.....!! Dan lagi elo malah seenak jidat pakek gandengan tangan sama Tita. Padahal elo tau dia isteri gue!", umpat Kennan pada Irsyad dengan meringis menahan sakit pada perut bagian kirinya akibat pukulan Irsyad.
"Kenapa.... elo marah elo sakit hati sama gue....?! Denger ya gue gak pegang tangan Tita, gue cuma pegang baju seragamnya. Elo pikir Tita mau seenak wae dipegang - pegang cowok....?! Gue emang sengaja gandeng dia biar lo tau rasanya sakit hati, seperti yang Tita rasain!", Irsyad berkata penuh penekanan di depan wajah Kennan.
Kennan menatap Irsyad dengan sinis, "Apa lo bilang.... Gue bikin Tita sakit hati?! Heh.... Gue gak pernah deketin cewek apalagi pegangan kek gitu. Gue tau diri kalau gue udah punya isteri, yang ada Tita yang selalu bikin gue marah karena selalu saja ada cowok yang deketin dia....!!"
"Kenn...."
Irsyad mengacak rambutnya frustasi. Ngomong sama orang gak peka emang susah, batin Irsyad menggumam.
"Sakit hati Tita gak melulu karena elo deketin cewek, tapi sikap elo yang gak peka, sifat lo yang egois, itu yang bikin dia sedih.... Tau lo!!!!", Irsyad berteriak di depan wajah sahabatnya yang berotak Einstein tapi tidak peka soal hati dan perasaan.
Dan itu berhasil membuat Kennan terdiam.
__ADS_1
...ππππ...
"Shiitt....sial.....dia bener - bener pulang duluan", Kennan mengumpat kemudian mencengkeram kemudi kuda besinya dengan kuat.
Kennan mengambil nafas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. Kemudian menjalankan Honda HRV hitamnya meninggalkan pelataran minimarket tempat biasa Tita menunggunya pulang dari sekolah.
Kennan melajukan kuda besinya untuk membelai kepadatan jalan raya Jogjakarta dengan kecepatan tinggi, dirinya ingin segera bertemu dengan Tita isterinya setelah mendengarkan ucapan dari Irsyad.
Irsyad, teman sekaligus sahabatnya itu ternyata bersikap di luar pemikiran Kennan. Selama ini Kennan berfikir bahwa Irsyad benar - benar ingin merebut Tita darinya, akan tetapi ternyata justru Irsyad membantu hubungannya dengan Tita tetap terjaga.
Tin...tin...tin...
Kennan membunyikan klakson berkali - kali dengan tidak sabar saat lampu lalu lintas sudah kembali berwarna hijau sedangkan mobil di depannya belum juga bergerak maju.
Kennan pun berkali - kali mengumpat, apalagi saat sebentar lagi bisa lolos dari lampu lalu lintas ternyata lampunya berubah kembali menjadi merah. Alhasil Kennan hanya mampu mengeram sambil menunggu mampu lalu lintas kembali hijau.
Entah mengapa Kennan merasa hari ini berjalan sangat lambat menurutnya, bahkan 60 detik lampu merah itu berasa seabad rasanya karena tak kunjung berakhir dan berubah kembali menghijau.
Set...set...
Kennan melajukan kuda besinya dengan menyalip beberapa mobil di depannya tidak sabaran setelah lampu lalu lintas menyala hijau.
Cit....set....
"Akhirnya sampai juga", gumam Kennan dengan lega saat Honda HRV hitamnya berhasil parkir pada basement apartemen tempatnya dan Tita tinggal.
Brakk
Suara pintu mobil Kennan yang ditutup dengan keras setelah empunya keluar dari mobil dengan tergesa.
Kennan terlihat tidak sabar untuk segera bertemu isteri yang telah didiamkannya sejak kemarin itu.
Ada rasa bersalah yang telah bersarang di batinnya.
Karena telah membuat Tita, gadis yang telah menjadi wanitanya itu yang seharusnya mendapatkan perhatian darinya tersebut malah dibuat sedih olehnya.
Sekilas bayangan wajah Tita yang berurai air mata, saat dirinya pergi meninggalkan isterinya itu kemarin saat dia menagih janji darinya untuk menikmati nasi gandul khas Pati yang terlihat sangat diinginkan olehnya.
"Ta.... Tita....", seru Kennan memanggil isterinya saat telah memasuki unit apartemen.
Hening.... Tidak ada sahutan suara merdu Tita.
Kennan pun segera melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya dengan tidak sabar.
Ceklek
Pintu kamar dibuka dengan sempurna oleh Kennan, kedua bola matanya memindai seluruh kamar namun tidak menemukan sosok isterinya di sana.
Kennan pun menoleh pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat, kemudian melangkah mendekati pintu dan mengetuknya.
Tok....tok...tok....
"Dek...sayaang...", seru Kennan dengan daun telinga ditempelkan pada pintu kamar mandi.
Lagi - lagi hening tidak ada suara.
Kennan pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi dengan hati -hati dan jantung yang sedikit berdebar, takut jika Tita berada di dalam sana dengan kondisi yang membuatnya tidak bisa menahan diri.
__ADS_1
Namun ternyata, tidak ada sosok Tita di sana, Kennan melangkah masuk ke dalam lalu membuka tirai yang menutupi bathup. Lagi - lagi dirinya tidak menemukan sosok yang sedang dicarinya.
Rasa takut menyelinap dalam benaknya, takut jika Tita menghilang dan meninggalkannya.
Kennan pun kembali memasuki kamar tidurnya, menuju meja belajar yang biasa Tita gunakan untuk menaruh tas punggung sekolahnya. Dirinya tidak menemukan tas biasa Tita pakai untuk pergi ke sekolah.
"Apa dia belum pulang.... atau dia sengaja tidak pulang ke apartemen...??", Tanya Kennan pada dirinya sendiri dengan lirih kemudian duduk di tepi ranjang untuk berfikir tentang di mana keberadaan isterinya saat ini.
Jam menunjukkan pukul 05.00 sore, otomatis tidak mungkin Tita berada di sekolah saat ini.
"Dia pasti sudah pulang, tapi kemana.....", Tanya Kennan dalam hati.
"Apa dia pergi ke panti asuhan lagi...?", tanya Kennan lagi pada dirinya sendiri. "Kemana lagi tujuannya selain ke sana....", Kennan bergelut dengan pikirannya sendiri.
Kennan pun kembali berdiri lalu menuju almari pakaian untuk mengambil jaket dan menjemput Tita ke panti asuhan, menurutnya hanya tempat itu yang menjadi tempat tujuan gadis itu.
Namun sesaat setelahnya Kennan menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu kenapa gak coba telfon dulu seh, dasar beg*k....", umpatnya pada diri sendiri dengan memukul berulang keningnya.
Kennan pun merogoh ponsel pada saku celana seragam sekolahnya dan segera mendial kontak Tita.
Beberapa saat menunggu tidak ada jawaban dari empunya nomor, hingga suara operator terdengar pada gendang telinga Kennan.
Kennan pun memutus sambungan dan mencobanya berulang dengan tidak sabaran, hatinya masih diselimuti rasa takut tentang kemungkinan bahwa Tita akan meninggalkannya.
Setelah beberapa kali mengulang panggilan telfon nya pada nomor Tita, akhirnya....
"Assalamualaikum". Suara Tita dari seberang telefon terdengar merdu di gendang telinga Kennan.
"Waalaikumsalam....", Kennan menyahut cepat dengan perasaan lega karena gadis itu mau menerima panggilan darinya.
"Lo di mana... sama siapa, kenapa gak pulang?!", tanya Kennan beruntun.
"Tanyanya satu - satu Abang, Tita bingung jawabnya...", lagi sura merdu itu menyahut.
"Tinggal jawab aja Dek... dimana...?!", Kennan tidak sabar.
"Tita lagi kerja Bang... di kafe. Mau pulang males... palingan di rumah juga cuma dicuekin sama Abang...", suara Tita terdengar kesal.
"Tunggu di sana... jangan kemana - mana, gue jemput...!!", Kennan segera menutup panggilannya sepihak bahkan mengabaikan ucapan Tita serta tanpa menutupnya dengan salam.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1