
Mohon maaf bila masih banyak typo π π.
Selamat membaca π€π€π€.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Tuhan.... aku takut, bisakah kau hilangkan suara itu. Setiap kali guruh berbunyi dengan nyaringnya, aku selalu menutup mata karena takut. Dan setiap itu terjadi, selalu ada ibu atau ayah yang menenangkan dan menjaga ku. Tapi kali ini ? Aku sendiri. Rasanya aku ingin menangis. Pintu terdengar terbuka, dengan perasaan takut perlahan ku turunkan selimut untuk melihat siapa yang datang.
Alvin, datang kearah ku. Duduk di sampingku, lalu membawa tubuhku masuk kedalam dekapannya. Aku terdiam. Rasanya rasa takut itu mulai sirna, yang ku rasakan sebuah ketenangan. Secara tiba-tiba guruh datang lagi, sontak aku memeluk Alvin. Aku merasa Alvin mempererat pelukannya, dan itu membuat ku tambah tenang. Rasanya, jauh lebih baik dari sebelumnya. Ku kira aku akan sendiri melewati hujan dengan guruh yang menakutkan ini, tapi ternyata Tuhan mengirimkan malaikat tak bersayap untuk membuat ku lupa akan rasa takut ini. π£π£π£
Biarkan Alvin bersikap layaknya seorang suami yang menjaga istrinya. Aku bersyukur jika Alvin bisa bersikap seperti ini. Tak apa malam ini, aku harus tertidur dipelukan Alvin. Aku hanya ingin merasakan kehangatan dan ketenangan ini yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Perlahan ku buka mata ini. Entah kenapa rasanya pagi ini lebih berbeda dari pagi pagi biasanya. Mungkin karena Alvin, Alvin ? Aku baru tersadar tentang momen semalam. Aku menoleh kearah samping, seketika aku tertegun.
Deg...Deg...Deg...
Alvin benar-benar menjaga ku. Lihatlah dirinya yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Mungkin dia lelah karena semalam menjaga ku. Aku tersenyum, melihat wajah tampannya yang terlihat begitu jelas. Aku tidak pernah membayangkan jika hari ini akan terjadi. Layaknya seperti suami, istri. Ketika membuka mata melihat pasangan hidupnya tertidur disebelah nya. Katanya rasanya begitu bahagia.
"Jangan terus memandangiku." Ujarnya yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
Deg...deg...deg...
"Siapa juga yang memandangi mu, Vin." Sembari bangun untuk duduk.
Dari mana ia tau ? Perasaan sedari tadi aku perhatikan matanya masih terpejam. Entah kenapa rasanya seperti orang yang ketahuan mencuri. Entahlah, mungkin ia cenayang. Hahaha. Ketika aku hendak beringsut dari kasur, tiba-tiba tangan ku ditarik sehingga badanku jatuh ke kasur dalam keadaan miring kearah Alvin. Alvin memiringkan tubuhnya, hingga mata kami bertemu bahkan saling mengunci.
"Kalau kamu takut, kamu bisa memanggil ku."
"Kamu kan sibuk, Vin. Aku tidak ingin menganggu mu."
"Kamu itu istri ku. Tak apa kamu mengganggu ku."
Tunggu. Apa kalimat itu keluar tanpa sadar ? Bisa jadi. Tak biasanya dan mungkin ini pertama kalinya ia berkata seperti itu. Tapi untung saja aku tidak terlalu larut dalam kata katanya. Bahaya kalau sampai aku terbawa perasaan.
Ia terduduk di sampingku. "Biarkan aku bersikap seperti suami pada umumnya."
"Cukup dengan kamu bersikap baik, itu sudah menjadi seorang suami bagiku." Lalu tersenyum tipis.
Aku bukannya ingin menyakiti mu, Vin. Hanya saja aku terlalu takut jika pada akhirnya kamu menyakitiku karena aku yang mencintaimu. Sebaiknya kita bersikap seperti biasa saja, sampai akhirnya berpisah. Jadi tidak perlu ada yang tersakiti. Kamu tau, Vin. Aku sudah mengubur dalam-dalam impian ku mempertahankan rumah tangga ini. Kerena setelah ku pikirkan lagi, aku mungkin tidak akan pernah bisa merubah hatimu.
Jika mempertahankan lebih menyakitkan dari pada melepaskan, aku akan berusaha untuk melepasnya. Tunggu 1 tahun lagi, semua ini akan selesai. Aku harus bertahan dari rasa yang ku takutkan ini akan benar-benar bahagia, hingga aku bisa merelakan kebahagiaan itu pergi. Alvin bukan takdirku, aku harus sadar akan hal itu. Aku harus bersikap biasa, dan biarkan ia bersila semaunya.
__ADS_1
Ketika hendak membuka pintu kamar mandi, lagi lagi Alvin menarik tangan ku. Dengan sabar, aku menoleh. "Aku tau kamu tidak mencintai ku, apa kamu tidak bisa belajar mencintai diri ku ?."
Aku melepaskan tangannya lembut. "Untuk apa aku belajar untuk mencintai mu, jika kamu saja tidak mencintaiku ? Apa mau mu, aku merasakan cinta sendiri ?."
"Tidak, maksud ku bukan seperti itu"
"Alvin. Sebaiknya kamu segera mandi, nanti kamu telat ke kantor." Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi.
Terkadang pertanyaan mu membuat ku bingung, mas. Aku bukan seseorang yang pandai menerka nerka. Jadi, aku berdoa semoga kamu tidak lagi bersikap seperti ini karena ini sangat membingungkan.
πΊπΊπΊ
Yeyyy akhirnya bisa sampai 200 like πππ.
Terimakasih atas dukungannya π€π€.
Terus dukung author dengan kalian like dan komen.
Karena kami para author sangat membutuhkan like dan komen dari kalian para pembaca.
Salam hangat dari ΰ€ΰ€Ήΰ€¨ΰ€Ύ .
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊ