Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
154. Kejutan


__ADS_3

"Dek ... sampai kapan lo nangis terus kek gini?!" Kennan menggoyangkan bahu Tita yang bergelung di dalam selimut.


Tidak ada sahutan dari empunya tubuh yang bergetar itu.


Sudah seminggu semenjak kejadian Hani mengabaikan Tita, dan gadis yang bergelar sebagai isteri Kennan Atmadja tersebut tidak berhenti menangisi kesalahannya.


Kesalahan karena menyembunyikan statusnya dengan Kennan dari sahabat baiknya. Dan akhirnya membuat tali persahabatan mereka putus begitu saja.


Berulang kali Tita menangis dan menyalahkan dirinya karena tidak berani berkata jujur pada Hani, sahabatnya.


Kennan memandang Tita dengan getir, berkali - kali menghela nafas sesak saat melihat wajah sendu Tita yang basah oleh deraian air mata. Kennan tau jika isterinya itu merasa sangat putus asa, apalagi gadis yang dipangggil incess oleh isterinya tersebut adalah sahabat satu - satunya yang dimiliki oleh Tita.


Bagaikan putus dari kekasih tambatan hatinya, beberapa hari ini pun tidak ada senyum ceria dari pemilik bibir tipis nan manis itu.


Kennan pun membaringkan tubuhnya di sisi Tita, lalu merengkuh wajah sembab yang masih terisak itu ke dalam dada bidangnya.


Tangan kanan disusupkan pada leher Tita untuk menopang tempurung kepala isterinya. Sedangkan tangan kekar Kennan satunya mengusap lembut punggung Tita. Tak lama kemudian bibirnya mencium pucuk kepala yang tertutupi surai hitam itu dengan lembut. Menetapkan bibir di sana dengan lama, seolah memberikan kekuatan dan kenyamanan pada gadis yang tengah dilanda kesedihan itu.


Tidak ada kata dari mulut Kennan, dirinya memilih bungkam. Membiarkan tubuh ramping Tita tetap bergetar akibat isak tangisnya.


Lo pasti sedih banget Dek, ucap Kennan dalam hati dengan bibir masih bertumpu pada pucuk kepala Tita.


Beberapa saat setelahnya terdengar bunyi bell pada apartemen mereka.


Kennan pun merenggangkan pelukannya dari tubuh Tita, beringsut mencium lembut kening isterinya.


"Gue buka pintu bentar, mungkin temen - temen gue yang dateng." pamit Kennan pada Tita.


Setelah melihat Tita mengangguk mengiyakan Kennan


baru keluar dari kamar.


Pasca kejadian geng basketnya datang dengan menyerobot masuk tanpa permisi dan memergokinya sedang berciuman dengan Tita di kamar waktu itu, Kennan mengganti kata sandi pintu apartemennya.


Kennan tidak mau aktivitas dalam rumah tangganya terganggu bahkan dari anggota keluarganya sekalipun.


Bahkan Naura sang adik, yang merengek meminta kata sandi apartemennya pun Kennan tolak dengan tegas.


Dengan dalih Kennan tidak mau adik bungsunya itu mengacak - acak apartemennya karena kasihan pada Tita yang sendirian untuk membersihkan apartemen.


Kennan tidak ingin membuat Tita kelelahan, ucapnya saat itu.


Ceklek.


Kennan membuka pintu apartemennya.


Senyum tipis terbit pada bibirnya saat melihat siapa yang datang.


"Masuklah ..." ucap Kennan sembari meminggirkan tubuh jangkungnya dari pintu masuk apartemen.


Sesaat gadis di depannya terlihat ragu. Tubuhnya masih mematung di depan pintu dengan kedua tangan yang memegang erat tali tas selempangnya.


Dirinya terpaku, kedua matanya terpana karena tidak menyangka akan mendapatkan senyuman dari makhluk tampan yang terkenal datar nan dingin, cold bear tersebut.


Meski hanya senyum tipis yang diberikan, namun hal itu membuat tubuhnya kaku dan sulit untuk digerakkan.


Kennan yang melihat reaksi terkejut pada gadis itu, menggoyangkan salah satu telapak tangannya di depan wajah sang gadis.


"Hello ..." ucap Kennan santai.


"Udah masuk wae, santai ... gak usah takut. Gue gak gigit kok." lanjut Kennan mempersilahkan gadis itu untuk memasuki apartemennya dengan sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang canggung diantara keduanya.

__ADS_1


Gadis itu sedikit gelagapan lalu menganggukkan kepala dengan perlahan, kemudian terlihat membuka sneakers putih yang dipakainya dan menempatkannya pada rak sepatu yang berada tak jauh dari pintu apartemen.


Dengan pelan dan berusaha santai menapakkan kaki kecilnya ke dalam apartemen Kennan dengan perlahan.


Kepala gadis itu celingak celinguk memindai sekeliling apartemen sembari mengikuti langkah lebar Kennan yang berjalan di depannya dengan kedua tangan yang dimasukkan pada kantong celana pendeknnya.


Meski Kennan hanya memakai celana pendek rumahan serta kaos oblong tipis namun hal itu tidak mengurangi kadar ketampanan sang kapten tim basket sekolahnya terebut.


Benar saja jika banyak siswi di sekolahnya yang memuja ketampanannya serta sangat menginginkan untuk menaklukkan hati pemilik wajah datar nan dingin itu.


"Lo duduk dulu di situ." Kennan menunjukkan sofa yang berada di ruang tivi dengan dagu pada gadis itu.


"Gue tinggal ke kamar bentar." ucap Kennan santai. Lalu setelahnya berbalik badan untuk menuju kamar tanpa menunggu gadis yang masih terlihat bingung dan ragu itu duduk di sofa.


Kennan dengan wajah berbinar memasuki kamarnya.


"Dek ... bangun ..." Kennan menggoyangkan tubuh isterinya dengan hati - hati.


"Enggak Bang ..." sahut Tita serak dengan masih bergelung di bawah selimut.


"Bentar wae."


"Gak mau, temen abang kasih minuman dingin di kulkas wae." sahut Tita tanpa mau membuka matanya yang masih sembab bekas menangis.


"Bukan temen gue yang dateng."


Tita menyibak selimut yang sedikit menutupi wajahnya. Perlahan mengerjapkan kedua kelopak matanya yang terasa sulit untuk dibuka efek isak tangisnya yang tiada henti.


"Siapa yang dateng Bang?" Tanyanya dengan mata yang menyipit, terasa susah untuk dibuka dengan lebar.


"Bangun dulu." titah Kennan lembut sembari mendudukan diri di tepi ranjang.


Tita pun menyibak selimut dengan lebar serta berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih terasa berat.


Kennan menyibakkan helaian anak rambut yang tergerai pada wajah Tita.


"Pusing Dek?" tanya Kennan mengabaikan pertanyaan isterinya.


Tita mengangguk sedikit karena memang rasa pening terasa saat dirinya menggerakkan kepalanya. Mungkin hal itu disebabkan oleh isak tangisnya yang tiada henti beberapa saat lalu.


"Abang kebiasaan, ditanya malah tanya balik." gerutu Tita terdengar seperti gumaman.


"Makanya udah nangisnya, kek gue tinggalin wae nangis gak ada hentinya." goda Kennan dengan senyum kecil pada bibirnya.


Tita memukul pelan bahu suaminya. "Abang mau ninggalin Tita?"


"Enggak ... elo yang bakal ninggalin gue."


Tita menautkan kedua alisnya bingung. "Kok bisa?! Tita gak ke mana - mana."


"Bisa ... karena ada temen lo dateng nyariin. Dia nungguin lo di ruang tamu."


"Terus maksud abang Tita ninggalin gimana?" tanya Tita dengan dahi berkerut.


"Elo ninggalin gue di kamar sendirian, buat nemuin temen lo ... Ck lemot banget seh, kebanyakan nangis tuh. Dah cepet, kasihan temen lo nungguin." Kennan menyentil pelan kening Tita.


Tita pun mengerucutkan bibir sembari mengusap keningnya.


"Siapa sih Bang yang dateng?" tanya Tita bingung, apalagi dirinya merasa jika tidak pernah memberitahu siapapun alamat apartemen milik suaminya.


"Liat dewe sono ... ntar juga tau." Kennan mendorong pelan tubuh Tita agar beranjak dari ranjang tidur.

__ADS_1


Namun Tita tetap memaku tubuhnya pada ranjang. "Beneran temen Tita Bang?"


Kennan menganggukkan kepala dengan tersenyum. "Beneran."


"Abang gak ngeprank kan?!" Tita menatap curiga pada suaminya.


"Enggak sayang ... gue gak ngeprank. Gak ada gunanya gue bohong sama isteri cantik gue." Kennan mencubit kecil kedua pipi cubby Tita yang semakin menggembung akibat bengkak mata sembabnya.


Tita meringis menahan sedikit sakit atas cubitan tangan Kennan. Kemudian menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri agar suami tampannya itu melepaskan cubitannya.


"Cuci muka dulu, baru keluar." titah Kennan sembari melepaskan cubitannya.


Tita belum beranjak dari ranjang, terlihat mengerak - gerakan pipinya yang terasa kebas.


Aaaa ... seru Tita sesaat, kemudian membekap mulutnya.


Karena tanpa diduga oleh Tita, Kennan membopong tubuh rampingnya memasuki kamar mandi.


"Abang ... bikin Tita jantungan wae, kalau pingsan gimana?" lirihnya dengan memukul pelan dada suaminya.


"Entar gue yang kasih nafas buatan, biar lo cepet siuman."


"Ck ... dasar mesum." Tita pun akhirnya mengalungkan lengan tangannya pada leher Kennan sembari menatap pahatan sempurna di depannya.


"Udah gak usah liatin wajah gue, gue emang tampan."


"Ihh ... kepedean ..." Tita memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


"Cepet cuci muka gih." Kennan mendudukkan Tita di atas closet kamar mandi kemudian berlalu menuju kamar kembali.


Sepeninggal Kennan, Tita pun membersihkan wajahnya, namun tetap saja ia tidak bisa menghilangkan jejak sembab bekas tangisnya. Hanya sedikit terlihat segar pada wajah mulusnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Tita keluar dari kamar mandi.


"Bang ... temen Tita cewek ato cowok?" tanya Tita saat melihat Kennan duduk di ranjang sembari memainkan ponsel pintarnya.


"Cewek ... gak usah pakek kerudung gak papa." sahut Kennan seakan mengerti arah pertanyaan isterinya.


"Ya udah Tita keluar dulu ya?!"


"Hem" sahut Kennan mengangguk dengan deheman.


Titapun keluar dari kamar dengan tak berhenti bertanya - tanya dalam hati tentang siapa yang datang menemuinya.


Setelah Tita sampai di ruang tamu yang tidak berapa besar itu, dirinya terkejut mendapati sosok sahabatnya yang duduk menghadap televisi.


"Incess!"


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2