
Manik mata Tita bergerak turun ke bawah, memindai tonjolan leher yang naik turun saat sang suami berucap kata. Kemudian turun lagi hingga mendapati dada bidang suaminya yang juga putih bersih dengan beberapa titik merah menghiasinya.
Tita tersenyum kikuk dengan semburat merah yang mewarnai pipinya, mengingat aktivitas panasnya beberapa saat lalu. Bagaimana bisa dirinya berlaku seperti itu.
Memberikan tanda jejak pada dada bidang tersebut, sepertinya suami mesumnya tersebut sangat pandai dalam hal menularkan aksi mesum tersebut kepadanya.
Sungguh Tita baru sekali ini melakukannya.
Kedua matanya sedikit melebar saat menemukan ada satu tanda jejak merah yang cukup besar di leher sang suami. Tanda jejak itu nampak jelas dan lagi berada di tempat yang tidak dapat ditutupi meskipun Kennan memakai baju berkerah tinggi.
Bagaimana jika suaminya nanti menyadari, akankah dia marah atau mungkin senang... entahlah, Tita tidak berani membayangkan sikap suaminya nanti. Karena jika itu terjadi padanya dan dalam kesehariannya tidak memakai kerudung, pasti dirinya akan sangat marah pada pembuatnya. Meskipun itu adalah suami sahnya.
"Dek... ditanya kok diem wae seh. Malah bengong gak jelas..." Kennan menghentikan kegiatan menyeka bulir keringat sang isteri dan berganti menaikkan dagu sang isteri untuk memandang ke arahnya.
"Eh maaf... abang tanya apaan tadi..." Tita dengan sedikit tersentak.
"Mikirin apa hemm..." Kennan menelisik.
"Enggak mikir apa apa kok. Abang tadi nanya apaan?" Tita dengan kembali bertanya tentang pertanyaan sang suami, agar Kennan menghentikan keingintahuannya.
"Kenapa keringetan banyak kek gini...?" Kennan kembali menyeka wajah Tita, lembut. Entah mengapa buliran keringat itu masih saja muncul.
"Mungkin karena habis minum susu hangat tadi bang..."
"Hem... iya kali ya." Kennan setelah berfikir beberapa saat.
"Pasti iya."
"Terus yang bikin lo bengong tadi apaan?" Kennan kembali mengingat raut wajah isterinya beberapa saat lalu yang terlihat menatap lurus pada dada telanjangnya.
Tita menyurutkan alis matanya.
"Enggak... Tita enggak bengong kok." Tita dengan sedikit gugup dan Kennan menyadarinya.
"Gak usah bohong... Elo pengen nambah lagi?" Kennan dengan mendekatkan wajah pada sang isteri, hingga membuat gadis itu pun ikut memundurkan wajahnya.
"Enggak!! Abang apaan sih, mikirnya jorok mulu." Tita dengan mengalihkan pandangannya dari sang suami.
Kennan kembali meraih dagu sang isteri dengan tangan kekar nya.
"Terus ngapain lo gak berhenti memandangi dada telanjang gue?" Kennan dengan tersenyum menggoda.
"Enggak... Tita enggak kok..." Tita memilih menutup mulutnya, takut jika akan membuat Kennan marah nantinya.
"Heleh... masih ngeles wae. Lo pikir gue gak tau dek..." Masih dengan senyum menggodanya, hingga membuat Tita semakin gugup.
"Bebbenerrann... Tita gak bohong kok bang..." Tita tergagap.
"Kalau lo pengen lagi, gue gak bakalan nolak kok dek..."
Kennan semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak keduanya hanya tinggal satu senti saja. Sedikit saja Tita menggerakkan kepalanya, hidung mancung keduanya pasti bakal bertabrakan.
"Abang apaan sih. Tita enggak ya..." Tita dengan mendorong kuat bahu Kennan untuk mundur.
Namun sayang kedua tangan Kennan yang menumpu kuat pada sofa, tak mampu Tita geser sedikitpun.
Tubuh atletis itu seakan mengunci kedua tangannya pada sofa.
__ADS_1
"Yakin enggak pengen lagi?! Gue masih kuat lo... satu ronde atau gak usah berhenti sekalian sampai pagi, biar kita puas. Lagian besok kita libur kan..." Kennan dengan senyum menggodanya.
"Enggak!" Tita menolak keras.
Sungguh tubuh Tita terasa remuk redam saat ini. Mungkin karena seharian membantu kafe terus dilanjut dengan perform duetnya dengan sang suami di atas panggung hingga kafe tutup. Ditambah duet panasnya dengan sang suami beberapa saat lalu membuat tubuh Tita seakan kehabisan tenaga.
"Yakin dek gak pengen nambah..." Kennan masih saja menggoda sang isteri.
"Enggak abang... rasanya capek, sakit jugak." Tita terdengar manja.
"Mana yang sakit?" Kennan terlihat sangat perhatian.
"Semua." Tita dengan nada lirih seolah menunjukkan rasa tubuhnya melalui ucapan bibirnya, mengeluh.
"Sini juga?" Kennan dengan tiba tiba mengusap inti tubuh Tita di bawah sana. Entah sejak kapan tangan kekar itu menyusup di balik selimutnya.
Gelenyer aneh itu kembali menjalari tubuhnya, seluruh tubuh itu menjadi tegang bagaikan tersengat listrik.
"Sini juga sakitkah?" Kembali Kennan dengan mengusap bagian inti Tita.
"Abang hentikan." Tita dengan menahan lengan tangan sang suami.
Sungguh Tita takut tidak dapat menahannya.
"Biar sakitnya berkurang dek." Kennan kembali ingin mengusapnya, hal itu dapat Tita rasakan melalui pergerakan tangan sang suami.
"Bang... jangan lagi." Tita menahan dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Bikin tambah sakit atau tambah pengen..." Kennan tetap saja menggoda seakan mengabaikan keluhan isterinya.
"Abang..." entah Tita harus kesal atau menikmati sentuhan itu karena nyatanya Kennan kembali menggerakkan tangan kekarnya pada inti tubuh Tita.
"Nikmati aja, gak usah tegang." Kennan dengan menyusupkan wajahnya pada telinga Tita. Sedangkan tangan yang berada di bawah sana tetap saja bergerak dengan sesekali menyusup ke dalam.
Lenguhan lirih lolos dari bibir Tita. Kennan pun tersenyum penuh kemenangan.
Sungguh kapten tim basket yang datar nan dingin bak kulkas dua pintu tersebut sangat pandai dalam memberikan bujuk rayu serta sentuhan hangat untuk isteri polosnya.
"Bang... Tita gak nyaman." bisik lirih Tita di sela lenguhannya.
Kennan menghentikan pergerakan tangannya lalu menariknya dari dalam sana.
"Kenapa... apa yang bikin gak nyaman, sakit kah?" Kennan dengan mengusap kening Tita yang mulai mengucurkan bulir bulir keringat.
"Badan Tita sakit semua, tempatnya sempit." jujur Tita karena memang itu lah yang dirasakannya.
Tubuhnya yang cukup lelah karena pekerjaan di kafe seharian ditambah dengan ditindih suaminya di sofa sempit beberapa saat lalu, dan kini tubuh itu harus dihimpit lagi membuatnya merasa remuk redam.
Kennan memundurkan tubuhnya, memberikan sedikit jarak lalu menoleh ke sekeliling.
Ternyata memang sofa itu sangat sempit, tubuh sang isteri seakan terjepit di sela punggung sofa dan dudukan sofa. Ditambah lagi tubuh kekarnya yang memakan setengah dudukan kursi membuat tubuh ramping itu terlihat semakin terjepit.
Kennan beranjak berdiri lalu melangkah menuju belakang tubuh Tita. Sedikit membungkukan badan kemudahan kembali berjalan menuju sisi yang lain. Lebih tepatnya menuju sisi di seberang Tita, dimana kaki jenjang nya terjulur di sana. Kemudian melakukan gerakan yang sama yaitu menunduk dan entah apa yang dilakukannya olehnya.
Beberapa saat kemudian, Kennan kembali berjalan ke sisi tubuh sang isteri, membungkuk lalu menggesar tubuh ramping tersebut ke tepi sofa.
Tita yang tidak mengerti maksud sang suami,hanya bisa menurut.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian Kennan mendorong punggung sofa hingga membuat sofa yang diduduki oleh Tita menjadi lebih lebar. Ternyata sofa tersebut adalah sofabed.
"Nah... udah gak sempit lagi kan..." Kennan dengan senyum lebar, kembali mendudukkan diri di samping istrinya.
"Kenapa gak dari tadi sih bang..." Tita mengerucutkan bibir.
"Gue kan sukanya yang sempit sempit, apalagi kalau di jepit." Kennan ambigu.
"Bikin sakit lah, abang gimana sih." Tita terlihat sewot.
"Kalau buat gue tambah enak dek..." Kennan terkekeh kecil.
"Maksud abang piye seh. Dijepit kok enak, Tita gak ngerti deh..."
"Makanya otaknya dipakek buat belajar teori juga, jangan cuma bisa praktek doang." Kennan menyentil pelan kening isterinya.
"Abang ngomongin apaan seh, Tita tambah nggak ngerti." Tita dengan mengusap kening bekas sentilan Kennan.
"Biar ngerti langsung praktek wae deh..." Kennan dengan segera menarik tubuh Tita yang setengah terduduk, lalu menindihnya segera.
"Abang...."
"Kenapa lagi... sofanya udah lebar kan...?" Kennan dengan menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Tita bosan kalau abang kek gini mulu."
Kennan mengernyit.
"Maksud lo bosan karena gayanya gitu gitu wae..." Kennan mencoba menerka ucapan sang isteri.
"Gaya apaan maksud abang..." Tita malah tidak mengerti akan pertanyaan sang suami.
"Okey... kita pakek gaya baru." Kennan dengan segera membalik posisi tubuh keduanya sehingga tubuhnya berada di bawah sedangkan tubuh sang isteri berada di atas.
"Abang kita mau ngapain?"
"Latihan naek kuda."
Buk...
Tita memukul pelan dada bidang suaminya dengan terkekeh kecil.
"Abang apaan seh, orang kita nggak lagi di pacuan kuda kok. Lagian kudanya gak ada."
"Kudanya ada...."
"Mana ada... abang ngawur." Tita masih saja polos, tidak memahami arti kata sang suami.
"Ini kudanya." Kennan menepuk dadanya dengan senyuman nakal.
"Jiaahhh... abang ada ada aja."
"Mau kan belajar naek kuda..." Kennan.
"Ihh... masih wae ngeyel, gimana kita bisa coba..."
"Bisa... sini gue ajarin..." Kennan langsung menyambar bibir pink isterinya seraya mendorong kepala Tita.
__ADS_1
Like, vote yak... biar ntar othor semangat nulis lanjutannya...πππ
Tengyu so much..... love you all My Beloved Readersπππ