
Maaf jika masih banyak typo ππ.
Selamat membaca π€ π€π€.
πΊπΊπΊ
Seperti biasa jika sudah membersihkan diri, aku langsung menuju meja makan untuk sarapan. Baru saja keluar dan menutup pintu kamar, langkah ku tercekat. Aku mematung, melihat objek yang tak biasa. Alvin, sedang berjalan tanpa menggunakan baju dengan sebuah handuk yang terlilit dileher nya. Entah apa yang terjadi padaku, degup ini berdetak lebih kencang. Bukankah aku sudah biasa melihat badan yang seperti roti sobek itu, di TV. Tapi kenapa rasanya seperti ini melihat Alvin seperti itu. Ahhh, tidak tau. Apa ini yang dinamakan hasrat ? Entahlah, yang pasti aku merinding mendapatkan situasi seperti ini.
"Vi."
Aku tersadar, lalu menoleh kearah lain.
"Sedang apa kamu disitu ?."
"Tidak ada." Lalu masuk kembali ke dalam kamar. Saking salah tingkah nya aku sampai seperti itu.
Beberapa saat kemudian, perlahan aku melangkah keluar lagi. Ku lihat sekeliling tak nampak Alvin, mungkin ia sudah dimeja makan. Sampainya di meja makan tak ada Alvin. Aku menghela nafas, mungkin ia sudah berangkat. Ku tarik kursi, lalu duduk. Aku tersenyum mengingat akan tingkah ku. Jika ada disia-siakan, pas ngak ada dicari. π
Baru saja aku memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut, Alvin datang. Ku kira ia sudah pergi. Biasa aja, Vi.
__ADS_1
"Aku kira kamu sudah berangkat, mas."
"Tidak mungkin saya berangkat, sedangkan saya belum breakfast bareng kamu." Yang sudah duduk di kursi depan ku.
Aku menggelengkan kepala. Aku tau perkataan itu tak benar ada nya. Kamu hanya ingin menggodaku, membuat ku terbang lalu menjatuhkan ku. Lakukanlah sesukamu, mas. Aku akan mencoba bertahan dengan rasa yang sekarang.
πΊπΊπΊ
Aku sedang berada didalam supermarket bersama bibi, sedang berbelanja kebutuhan dapur. Walau Alvin sejak awal tidak mencintaiku, tapi sejak awal pula ia memberiku kartu atm-nya, karena katanya bagaimana pun juga aku ini tanggung jawabnya. Ahhh, terhura ehhh maksud nya terharu π€£π€£. Ketika aku sedang memilih beberapa bahan masakan, handphone yang berada di tas selempang ku berdering. Ku ambil, ternyata panggilan masuk dari Alvin.
"Hallo, mas."
"Sekalian belikan saya minuman bersoda."
Perasaan aku tidak memberitahunya kalau saat ini aku sedang berasa di supermarket, darimana ia tau ? Lama lama alvin mengerikan juga karena serba tau. Jangan jangan ia tau isi hatiku lagi. Jangan sampai.ππ
Beberapa detik kemudian aku menjawab iya, dan panggilan berakhir. Ia hanya menelpon ku hanya untuk mengatakan itu, ku kira ada hak penting yang ingin disampaikan.
Semua yang diperlukan sudah dapat, aku dan bibi menuju kasir. Ketika aku dan bibi sudah keluar dari supermarket, ku lihat sepasang suami istri terlihat begitu bahagia. Istrinya yang menggandeng tangan suaminya, dan suaminya sesekali memegang perut istrinya yang sudah besar. Aku tersenyum, miris. Aku sudah menikah, aku memiliki seorang suami tapi aku tidak bisa merasakan semua itu. Hidupku seperti bukan seseorang yang sudah berumah tangga. Entah apa yang salah dariku, sampai Tuhan menghukum ku seperti ini. Tapi kembali lagi, ini semua telah terjadi tak ada yang perlu ku sesali.
__ADS_1
Sampainya dirumah, aku langsung menuju ruang keluarga. Merebahkan tubuh ini di sofa. Bibi datang dengan membawakan es lemon tea untuk ku. Ditaruh es lemon tea diatas meja, lalu bibi terduduk di sampingku.
"Jika non lelah, menyerah saja."
Aku menoleh. Kenapa bibi tiba-tiba berkata seperti itu.
"Hidup seperti ini tidak mudah. Tak apa non mundur sebelum waktunya, karena bagaimanapun non Vira berhak bahagia."
Aku terdiam. Bibi benar. Kenapa aku tidak menyerah saja ? Aku lelah dengan semua ini. Ku pertahankan sampai 2 tahun lagi pun hasilnya tetap sama dengan jika ku mundur sekarang. Kalau aku mundur sekarang, aku tidak perlu takut jatuh cinta yang membuat ku takut kehilangan Alvin. Bukankah menyudahinya lebih awal itu bagus ? Itu bukan ide yang terlalu buruk. Tapi.... bagaimana perasaan ibu dan ayah ? Ia pasti kecewa. Atau malah ibu dan ayah akan menyalakan dirinya jika apa yang terjadi dengan ku adalah salahnya.
Tapi aku tidak bisa seperti ini. Aku harus cepat mengambil keputusan. Alvin bukan jodohku, ia tidak mencintaiku, ia mempunyai seseorang yang ia cinta lalu apalagi yang kuragukan untuk meninggalkan Alvin ? Alvin akan tetap menjadi Alvin yang tidak mencintaiku sampai sisa waktu yang tinggal 1 tahun lagi. Kalau aku bertahan, ku takut keadaan malah tidak bisa terkontrol.
πΊπΊπΊπΊ
terimakasih atas dukungannya πππ.
Terus dukung author dengan kalian like dan komen ya.
Dan terimakasih atas 200 like nya. Padahal pas malam jam 12.00, sebelum author tidur masih kurang 8 like. Ehhh pas bangun udah lebih. Dan sesuai janji author, akan update lebih banyak episode untuk hari ini, kalau author ngak sanggup, ya lanjut besok.
__ADS_1
π€£π€£π€£π€£
#Authosayangtangan