Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Bonus Gamon 4


__ADS_3

Pintu ruang operasi dibuka.


Seorang dokter yang menanganinTita keluar dari sana. Bunyi derap langkah sepatunya membuat Kennan dan keluarganya seketika mendongak, memandang pada asal suara.


Kennan segera melepas pelukan dari sang ayah. Mengusap wajah pada lengan kemejanya untuk menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Lalu segera mengayunkan langkah kaki mendekat pada dokter yang juga berjalan ke arahnya.


"Dok bagaimana keadaan isteri saya?" tanya Kennan dengan tak sabar.


Sang dokter yang masih mengenakan pakaian khusus operasi lengkap tersebut membuka masker penutup wajahnya. Sesaat menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya pelan.


Hal itu membuat Kennan dan keluarganya menunjukkan raut wajah sangat khawatir.


"Dokter... isteri saya...." Kennan lagi bertanya. Entah mengapa rasa di hatinya mendadak tidak nyaman saat ini.


Apalagi melihat raut wajah lelah dokter yang telah keluar dari ruang operasi itu, membuat firasat jelek menghampiri benaknya.


"Maaf." Dokter tersebut berucap lirih dengan sedikit menunduk. Kembali menarik nafas kuat lalu membuangnya perlahan yang membuat Kennan semakin panik.


"Istri saya tidak papa kan dok?" Kennan dengan parau. Rasanya sungguh tak sabar mendengarkan kelanjutan ucapan sang dokter.


Bunda Vida yang berada di sisi Kennan segera menggenggam jemari Kennan kuat. Seolah memberikan kekuatan akan hasil yang akan disampaikan oleh dokter tersebut.


Bunda Vida seolah dapat membaca jika kondisi sang menantu tidak baik baik saja saat ini. Sebagai seorang dokter bunda Vida sudah sering mendapati hal seperti ini. Dan beliau yakin bahwa dokter tersebut akan memberikan kabar yang pastinya bukan kabar yang membuat mereka bahagia.


"Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Beliau sudah melewati masa krisisnya, akan tetapi..."


Belum selesai sang dokter berucap kata Kennan segera memotongnya.


"Isteri saya baik baik saja kan dok?" potong Kennan dengan kedua mata yang kembali memerah menahan tangis.


Kennan sungguh tak ingin mendengar berita buruk mengenai Tita. Kennan tak mau jika Tuhan mengambil sang isteri secepat ini.


Naura yang melihat kerapuhan Kennan segera mengeratkan pegangan tangannya pada Aldi.


Hatinya sungguh miris mendapati kakak lelakinya yang biasanya selalu terlihat angkuh, gagah perkasa dengan bahu yang selalu tegap itu kini nampak lemah.


Aldi pun mengikis jaraknya dengan Naura, salah satu tangan meraih pinggang Naura untuk mendekat padanya dengan tangan satunya mengenggam erat tangan sang isteri.


Aldi tak ingin sang isteri ikut lemah mengingat saat ini wanita pujaan hatinya itu sedang berbadan dua. Tangan satunya pun mengusap lembut punggung Naura, guna menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Nyonya Tita saat ini sedang koma."


Deg.


Jantung Kennan berdegub kencang. Dunianya seakan runtuh mendengar ucapkan sang dokter.


"Entah alasan apa yang membuat nyonya Tita tidak mau membuka kedua matanya. Padahal saat operasi semuanya berjalan dengan lancar." terang dokter tersebut.


Namun Kennan seakan telah tuli. Tubuh tegapnya tiba tiba limbung.


"Abang." Ayah mendekat dan menyangga tubuh Kennan dibantu oleh Aldi.


Dengan tanpa suara Kennan berpegangan pada dinding rumah sakit seraya berjalan duduk pada kursi tunggu yang tersedia di sana.


"Apakah Tuhan masih marah dengan abang bun?" ucapan Kennan tersebut terdengar seperti gumaman. Namun masih terdengar jelas oleh orang orang di sekitarnya.


Bunda Vida semakin terenyuh memandang betapa lemahnya putra semata wayangnya itu. Mendapati pandangam kosong pada Kennan saat ini, tanpa dapat dicegah bulir bening lolos membasahi wajah bunda Vida yang mulai terdapat kerutan di sudut tertentu.


"Abang istighfar bang... " Bunda Vida mengusap lembut bahu Kennan yang mulai bergetar.


"Allah pasti masih marah sama abang. Kesalahan abang nggak bisa dimaafkan ya bun..." Kennan dengan terisak.


Sedangkan ayah Danu telah pergi guna mengikuti dokter yang telah melakukan operasi pada menantunya. Dokter ingin membicarakan tentang penanganan Tita selanjutnya.


Bunda Vida mendekat pada Kennan. Merengkuh anak lelakinya sehingga wajah Kennan pun menyusup perut sang bunda karena posisi bunda Vida berdiri sedangkan Kennan duduk.


"Allah menghukum abang bun." Kennan dengan sesenggukan. Mengeratkan kedua tangan, memeluk sang bunda.


Bunda Vida pun tak kuasa lagi menahan tangisnya.


Telapak tangannya memberikan usapan lembut pada punggung Kennan yang bergetar hebat. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut bunda Vida. Beliau sungguh tak mampu berucap kata untuk menenangkan Kennan.


Sesekali menahan nafas kuat untuk tidak menunjukan kesedihannya. Bagaimanapun Tita adalah menantu kesayangannya yang merupakan anak dari sahabatnya. Bunda Vida tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan cobaan seperti ini untuk keluarganya.


Hingga beberapa saat setelahnya.


"Bang... Abang sholat dulu, mengadulah padaNya. Minta sebanyak yang abang mau PadaNya." Ucap bunda Vida lembut saat merasakan getaran tubuh Kennan tidak sekuat lalu.


Kennan tak bergeming. Seolah masih nyaman dalam dekapan sang bunda.

__ADS_1


"Si kembar masih butuh abang." Bunda Vida tanpa menghentikan usapan tangannya pada punggung Kennan.


Kennan pun sontak menjauhkan wajah dari perut sang bunda.


Mengingat kedua malaikat kecilnya itu sontak membuat Kennan berdiri dari duduknya. Dengan segera mengusap wajah dari sisa air matanya.


"Abang mau kemana?" tanya bunda Vida.


"Abang pulang bentar bun, lihat kembar." Kennan dengan melajukan langkah kakinya.


"Biar aku antar Kenn." Aldi menahan Kennan dengan menepuk bahu sang sahabat.


"Naura pulang sekalian saja." Bunda mengarahkan pandangan pada anak bungsunya yang tengah duduk tak jauh darinya.


"Rara di sini aja bun, nemenin bunda." tolak Naura halus.


"Pulanglah ndok. Kamu nanti kelelahan, kamu butuh istirahat."


"Tapi bun..."


"Pulanglah. Ajak istrimu sekalian Al." perintah bunda beralih pada sang menantu.


"Bunda banyak teman di sini." lagi bunda Vida berucap kata saat mendapati Naura masih enggan beranjak dari duduknya.


"Ayo sayang, kita pulang." Aldi mendekat pada Naura seraya membantunya bangun daru tempat duduknya.


"Tapi al..."


"Kasihan anak kita. Bunda bisa jaga diri. Iya kan Bun?"


Bunda Vida mengangguk mengiyakan.


Mau tak mau Naura pun beranjak dari duduknya.


"Sapa dedek bayinya bang." peringat bunda pada Kennan.


Kennan pun mengangguk sebelum akhirnya beranjak dari sana diikuti oleh Aldi dan Naura.


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2