Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
End


__ADS_3

"Apa masih ada persyaratan yang kurang Den?" tanya Pak Udin.


Persyaratan??


Persyaratan apa yang dimaksud oleh pengampu panti asuhan itu.


"Maksud Pak Udin apa?" Kennan dengan dahi mengerut. Sungguh dirinya tidak tahu maksud pertanyaan yang diajukan Pak Udin kepadanya.


"Persyaratan neng Tita buat kuliah di luar negeri den." Pak Udin dengan berjalan melewati Kennan untuk membukakan pintu asuhan.


Sontak kalimat Pak Udin membuat kedua bola mata Kennan melebar.


"Bukankah Aden mau kuliah ke luar negeri sama neng Tita?" Pak Udin sembari membuka pintu.


Ceklek.


"Masuk dulu den." Pak Udin mempersilahkan Kennan masuk.


Kennan yang sesungguhnya tidak tahu menahu tentang rencana sekolah Tita keluar negeri, bingung.


"Den..."


"Eh iya pak."


"Mari masuk dulu."


🍭🍭🍭


Braakk


Kennan menutup pintu mobilnya dengan keras setelah sampai di parkiran apartemennya. Segera berlari ke unit miliknya, untuk menemui Tita. Kennan berharap gadis itu kembali ke apartemen mereka setelah Kennan sedikit berbicara dengan Pak Udin.


Tita mengatakan pada Pak Udin Bik Marsih bahwa dia akan pergi ke luar negeri bersama dengannya.


Dan pagi tadi Tita mengambil beberapa surat surat penting untuk mencukupi persyaratan yang dibutuhkan sekalian berpamitan kepada kedua pengurus panti yang telah mengasuhnya beberapa tahun terakhir tersebut.


Padahal yang sebenarnya Tita dan dirinya tidak pernah sekalipun membahas tentang kepergian mereka ke luar negeri, apalagi dengan tujuan untuk belajar di sana.


Cerita Pak Udin dan Bik Marsih masih terngiang ngiang di telinga Kennan.


Bagaimanapun Kennan mencoba menerka tetap saja hanya jalan buntu yang ditemui oleh otak Kennan.


"Mas Kennan!"


Seruan tiba tiba itu membuat Kennan menghentikan langkah kakinya seraya menoleh ke belakang.


"Ada apa pak?" tanya Kennan pada satpam apartemen yang berjalan tergopoh gopoh menuju ke arahnya dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat di tangannya. Serta sebuah kantong kresek yang setahu Kennan itu adalah kantung kresek laundry langganannya dulu.


"Ini ada paket buat isterinya." bapak satpam tersebut sambil menyerahkan amplop coklat kepada Kennan.


Status Kennan dan Tita yang suami isteri


memang susah diketahui oleh hampir seluruh penghuni apartemen.


"Buat Tita?!" Kennan menerima dengan kening mengerut.


Bapak satpam mengangguk.


"Iya. Dan ini cucian kepunyaan mbak Tita juga. Kemarin dititipkan di pos satpam sewaktu ada temannya datang. Mungkin mbak Tita lupa mengambilnya kembali. Soalnya mereka berdua buru buru pergi lagi." terang pak satpam pada Kennan.


"Tita kemarin pergi sama temannya?" Kennan heran kenapa Tita tidak bercerita kepadanya. Karena selama ini hal sekecil apapun Tita selalu bercerita kepadanya.


"Iya mas." sahut bapak satpam.


"Sama siapa pak? Hani?"


Karena Hani sangat sering mengunjungi apartemen mereka, pak satpam apartemen tempat Kennan pun sudah hafal dengan wajah sahabat perempuan isteri Kennan tersebut.

__ADS_1


"Cewek sih mas tapi bukan mbak Hani mas."


Kening Kennan mengerut. "Siapa pak? Pernah ke sini sebelumnya?"


"Sepertinya tidak, bapak baru ketemu kemarin. Tapi sepertinya mbak Tita mengenalnya kok." jelas pak satpam.


"Oh gitu. Baiklah, makasih ya pak."


Meski dalam hati Kennan masih bertanya tanya tentang sosok teman Tita tersebut, namun Kennan tidak mau ambil pusing. Merasa hal itu tidak penting. Menemukan keberadaan Tita lebih penting saat ini.


Kennan memilih segera beranjak dari sana dengan membawa amplop serta kantung kresek dari bapak satpam.


"Dek..."


Kennan berseru saat memasuki apartemen. Berharap sang istri berada di dalam apartemen.


Hingga Kennan menutup pintu apartemen tidak ada suara sahutan dari Tita.


Huh...


Kennan membuang nafas kasar seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Melempar begitu saja barang bawaannya ke atas meja.


"Kemana lagi gue harus cari lo dek?" gumam Kennan dengan pikiran melayang entah kemana.


Otaknya sudah berfikir sangat keras untuk mencoba menerka tempat tempat yang mungkin didatangi oleh Tita. Namun tetap saja dirinya tidak bisa menemukan jawaban.


Beberapa saat Kennan hanya termenung menengadah ke langit langit ruangan tanpa bisa berfikir, hingga tanpa sadar matanya perlahan tertutup rapat akibat kelelahan.


🍭🍭🍭


Eugh...


Kedua mata Kennan mengerjap, perlahan membuka sepenuhnya saat mendengar notif pada ponsel Tita yang berada di atas meja.


Dengan segera menegakkan tubuh, tangannya terulur meraih benda pipih tersebut dari atas meja.


Harap cemas menyertai hati dan perasaannya saat ini.


Kening Kennan mengerut diikuti oleh kedua alis mata yang bertaut saat melihat pesan dari nomor tanpa nama pada ponsel sang isteri.


Dalam hati Kennan merasa tidak asing dengan nomor tersebut.


Sekali klik, pesan dari nomor tak dikenal namun tidak asing menurutnya itu terbuka.


Bukti omongan gue udah gue titipin di pos satpam


Lo bisa liat dengan puas kalau gue sama Kennan masih baik baik aja...


Kennan tersentak kaget setelah membaca pesan singkat dari nomor asing tersebut. Tubuhnya pun menegang saking kagetnya.


Buru buru mengeluarkan ponsel pintar miliknya seraya mencari kontak yang telah terekam di memori otaknya saat ini.


Meski merasa curiga, namun Kennan masih berfikir positif dan berharap bahwa kecurigaannya tidaklah benar.


"Ternyata benar Yuna..." desis Kennan lirih dengan disertai bahu yang meluruh.


Pada saat itu juga, kedua manik hitam Kennan menangkap amplop berwarna coklat yang berasal dari satpam apartemennya beberapa saat lalu.


Dengan disertai degub jantung yang berdetak lebih cepat, tangan Kennan segera meraih amplop berwarna coklat yang dirinya letakkan di atas meja.


Buru buru membuka amplop coklat yang berukuran besar itu dengan terlihat tidak sabar.


Sekali lagi Kennan berusaha melepas kecurigaannya. Namun nyatanya...


Deg...


Rasa curiga yang menggerogoti hatinya tersebut benar adanya.

__ADS_1


Amplop tersebut berisi foto foto dirinya yang sedang terlihat asyik bercengkerama berdua dengan Yuna. Bahkan foto foto yang diambil secara candid itu diambil baru baru ini.


"Kenapa gue nggak pernah menyadarinya..." gumam Kennan dengan menatap lembar demi lembar foto yang lumayan banyak tersebut.


"Yuna sialan...."


Kennan meremas kuat lembaran foto tersebut dengan gigi gemelatuk.


Ternyata Yuna telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan olehnya.


Dengan masih mengeram tanpa sengaja ekor mata Kennan melihat kantung loundry langganannya dahulu.


"Tita kan pernah kerja di sana." desis Kennan dengan segera beranjak dari duduknya. Segera menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu buru buru keluari dari apartemen.


Beberapa waktu setelahnya.


"Permisi mbak..." Kennan dengan berseru tidak sabar.


Beberapa karyawan di sana segera menoleh ke arah Kennan.


"Iya, ada yang bisa di bantu mas?" salah seorang karyawan bertanya seraya berjalan mendekat.


"Karyawan di sini ada yang namanya Tita kan?!" tanya Kennan dengan nada semakin tidak sabar.


"Tita?" ulang karyawan tersebut dengan dahi mengerut. "Setau saya nggak ada deh mas."


"Nggak mungkin mbak, orang saya pernah dilayani sama dia kok. Embaknya orang baru ya?" Kennan tidak percaya.


"Enggak kok mas, saya udah lama. Saya juga sering layanin mas. Memang nggak pernah ada yang namanya Tita di sini."


"Enggak mungkin. Titaa!" Kennan berseru seakan membuat keributan.


"Loh...loh... mas... masnya ndak boleh masuk." karyawan tersebut menghadang Kennan yang berusaha menerobos masuk ke dalan area karyawan.


Namun Kennan tetap ngeyel, berteriak memanggil nama sang isteri dengan berusaha keras masuk ke dalam. Keributan pun terjadi.


"Ada apa ini?" Seorang wanita berseru keluar dengan tegas.


"Ini mbak ada yang ngeyel mau masuk, katanya nyari karyawan yang bernama Tita." ucap karyawan tersebut pada manajer cah atu laundry.


"Tita..." Ulang sang manajer, lalu menoleh ke atau Kennan dengan tatapan yang sedikit terkejut.


"Loh mas, bukane mas pelanggan di sini?"


"Iya mbak." sahut Kennan segera lalu mengutarakan maksud kedatangannya.


"Ini fotonya mbak." Kennan dengan menunjukkan foto Tita di dalam ponsel kepada manajer cah ayu laundry.


"Oh... Kalau ini bukan karyawan di sini mas, tapi yang punya. Namanya mbak Yana, Tita Andriana nama lengkapnya."


Klotak.


Jawaban sang manager membuat Kennan kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel pintarnya.


"Yana." Desis Kennan dengan masih dalam kondisi terkejut.


"Iya mas, kita semua biasa panggil mbak Yana." Jelas sang manajer yang merupakan orang kepercayaan Tita sembari meraih ponsel Kennan yang terjatuh.


"Sayang masnya telat. Mbak Yana pasti sudah berangkat ke luar negeri bersama suaminya sekarang."


"Keluar negeri bersama suaminya?" Kennan mengulang kalimat itu dengan rasa tidak percaya.


Baru saja Kennan mendapati kenyataan bahwa Tita adalah gadis kecil yang dicintainya sejak kecil, sekarang ditambah lagi kenyataan bahwa gadis itu telah pergi meninggalkannya.


Apalah daya nasi telah menjadi bubur. Ketidakjujuran serta kurang terbuka dirinya pada Tita membuat kesalah pahaman yang akhirnya membuat gadis itu memilih meninggalkannya.


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2