
"Haloha kakak ipar!"
Sebuah suara bariton yang masih Kennan hafal betul serta diiringi derap langkah kaki bersepatu memasuki rumahnya tanpa permisi.
Kennan acuh tanpa menyahut, menatap layar besar di depannya dengan menyumpal mulutnya menggunakan potongan kue yang baru saja dia ambil dari atas meja.
"Njir... sombong banget sih lo." Aldi dengan santai mendaratkan bokongnya. Duduk di sebelah Kennan tanpa dosa. Dengan sengaja mengangkat kaki kanan dan menumpu kaki kirinya. Bahkan Aldi dengan sengaja menyenggol kaki Kennan dengan ujung sepatu pantofelnya yang hitam mengkilat.
Aldi memang baru pulang dari kantor tempatnya bekerja. Untuk itu Aldi masih dengan penampilan jas lengkap beserta sepatu kerjanya.
Kennan melirik kaki kanan Aldi yang sengaja digoyangkan oleh empunya.
"Lo nyenggol gue sekali lagi pakek sepatu jelek lo itu, gue tendang lo keluar sampek nyebrang jalan." Kennan dengan tatapan mengancam.
Aldi hanya terkekeh santai.
"Sepatu yang lo bilang jelek ini selera adek lo. Gue bilangin dia tau rasa lo." ganti Aldi mengancam sahabatnya.
Kennan mencebik malas, memasukkan kembali potongan kue ke dalam mulutnya. Entah mengapa Kennan merasa tidak asing dengan rasa cake yang lumer dimulutnya tersebut.
Ini adalah potongan keempat yang diambilnya, padahal hampir sebulan ini Kennan menghindari semua jenis roti.
Bosan rasanya. Karena saat tinggal di negeri orang roti adalah asupan makannya sehari hari.
Kennan lebih memilih nasi setelah kembali ke Indonesia. Tapi entah mengapa saat ini rasanya tidak ingin berhenti mengambil potongan cake yang dibeli oleh Naura tadi.
"Kenn li gak nawarin gue?"
"Nggak." sahut Kennan singkat.
Aldi pun berdecak kesal.
"Makin judes aja ini dudes." Aldi kemudian.
"Siapa bilang gue duda?!" sahut Kennan sedikit tidak jelas karena sambil mengunyah potongan kue di dalam mulutnya. Kedua matanya membulat sempurna seolah ingin menelan Aldi hidup hidup.
"Telen dulu baru ngomong." Aldi dengan mencomot potongan kue yang terletak di atas meja tanpa permisi. Kue itu masih terdapat dalam kardus pembungkus toko tempat Naura membeli tadi, bahkan masih dengan kantung kresek pembungkusnya.
Meski Aldi tahu kalimat yang keluar dari mulut Kennan, namun Aldi pura pura bego.
"Siapa yang bilang gue duda?" Kali ini Kennan dengan nada tidak terima serta pandangan mata yang belum berubah. Meski sesungguhnya tidak sungguh sungguh dengan kekesalannya, Kennan tetap saja tidak merubah mimik wajahnya.
"Gue." Aldi dengan santai lalu menggigit potongan kue dan mengunyahnya.
Meski Kennan menatapnya geram, Aldi tetap saja cuek seolah tidak merasa bersalah dengan ucapannya. Lagian Aldi cukup tahu jika sahabatnya itu tidak sungguh sungguh marah kepadanya.
"Apa namanya jika laki laki dengan status menikah tanpa isteri? Duda kan?"
"Aldi!! Jangan bikin singa jantan yang lagi horny ngamuk." Teriakan Naura dari ruang belakang rumah Kennan membuat Aldi hampir tersedak.
"Hadeh mak lampir kalau teriak nggak kira kira." Aldi dengan menelan sisa kue di mulutnya kesusahan.
"Mak lampir itu adek gue, cewek lo." Kennan memukul tengkuk leher Aldi dengan sengaja untuk membuatnya semakin tidak nyaman.
__ADS_1
"Uhuk uhuk... Tega lo Kenn." Aldi semakin kesusahan menelan kuenya. Rasanya tidak sedikitpun kue itu mampu di dorong kerongkongannya turun.
Kennan terkekeh senang melihat kondisi sahabatnya.
"Malah ketawa lagi." Aldi mengeram kesal.
"Yang! Bawain minum dong, gue keselek nih." Aldi dengan teriakan.
"Iya bentar." Naura balas dengan teriakan juga.
Naura dan Aldi sekarang memang berstatus pacaran, bahkan dari cerita Naura ke Kennan mereka berdua telah melalui proses lamaran. Hanya tinggal menunggu Naura selesai kuliah, Aldi bakal mempersunting gadis bawel tersebut.
Entah bagaimana perjuangan Aldi menaklukkan Naura yang sok tomboy, judes bin bawel tersebut. Kennan tidak mengetahuinya.
"Kalian pikir rumah gue hutan, teriak kenceng tanpa sungkan sama yang punya rumah." ucap Kennan saat Naura memasuki ruang keluarga dengan membawa nampan berisi dua gelas teh di atasnya.
Sepulang dari berbelanja dan mampir toko kue Kenita's cake and bakery tadi Kennan dan Naura memang sengaja menuju rumah baru Kennan. Naura beralasan ingin menjadi pemuda dapur sebelum empunya ketemu.
Rumah itu sengaja Kennan bangun untuk Tita dan keluarga kecilnya kelak. Kennan merancang sendiri arsitektur bangunan rumahnya dengan detil seperti yang Tita impikan di masa lalu. Tak sedikitpun Kennan mengubah desain dari gambar yang dibuat oleh Tita.
Dan Aldilah yang membantu Kennan mewujudkannya, karena Kennan berada di luar negeri saat proses pembuatan rumah tersebut.
Untuk itulah setelah memutuskan pulang Kennan bisa menempati rumah barunya yang sudah siap huni.
"Akh... kok panas sih yang." Aldi dengan mengibas lidahnya yang terasa terbakar.
"Dasar bego, uap ngepul kek cerobong kereta gitu main embat aja. Rasain lo." Kennan lagi lagi mengejek Aldi dengan terkekeh senang.
"Sorry. Gue pikir pulang kerja enaknya teh panas kek gini. Biar bisa ngobrol dari hati ke hati kek iklan teh sariwangi di tipi tipi itu." Naura dengan mengerjap sok imut.
"Teh hangat itu yang bukan teh panas." Aldi masih merasakan lidahnya kebas.
"Hehehe... maap." Naura dengan wajah tanpa dosa mendekat pada Aldi. "Sini gue bantu sembuhin." lanjut Naura seraya mendekatkan wajah tepat di depan Aldi. Salah satu tangannya meraih dagu sang kekasih.
"Woi... woi... mau ngapain lo Nou? Ini rumah gue bukan hostel..." Kennan menginterupsi aksi Naura dengan melotot. Dalam benak Kennan dia menebak adiknya hendak memberi ciuman bibir pada Aldi.
Dengan masih pada posisinya. "Gue tau ini rumah lo, emang gue ngomong ini hostel." Naura memalingkan wajah, memandang Kennan santai.
Aldi hanya diam saja, cuek bebek. Aldi tau betul sifat Naura. Gadis manis yang telah menjerat hatinya itu gak mungkin melakukan hal hal mesum. Apalagi di depan kakak lelakinya. Selama pacaran saja, mentok mentoknya mereka berdua hanya berpelukan erat dan sesekali mencium kening jika lama tak bersua.
"Kirain lo mau aneh aneh." Kennan mengusap tengkuk lehernya kikuk.
"Otak lo yang mesum bang."
"Bener yang lo bilang yang." Aldi membenarkan.
Buk...
"Temen laknat lo." Kennan seraya melempar Aldi dengan bantal sofa. Tak ayal Kennan mendapat pelototan dari adik perempuannya.
"Belain aja terus itu kadal gurun." Kennan dengan mengejek seraya meraih ponselnya dan beranjak dari duduknya.
"Mo kemana Kenn?" tanya Aldi.
__ADS_1
"Tidur. Enek gue liat anak kecil pacaran." Kennan dengan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Slompret lo, kita seumuran nj*ng." seru Aldi.
Kennan hanya melambaikan tangan kanannya tanpa menoleh ke belakang.
"Didatengin malah kabur, dasar ******." umpat Aldi.
"Udah biarin aja. Harusnya eli makasih sama abang karena udah kasih kesempatan buat kita berduaan." Naura merapatkan tubuhnya mendekap sang kekasih.
"Heleh... sok peluk peluk kenceng, diajakin mesum nggak mau." Aldi menyentil pucuk hidung Naura.
Gadis itu terkekeh seraya mengeratkan pelukan tangannya serta merebahkan kepala pada dada bidang sang kekasih.
"Biarin... elo kan yang bilang disimpen sampek ntar sah."
Aldi pun berdecak, tak urung membalas mendekap tubuh gadisnya.
"Eh yang..." Aldi.
"Apa?"
"Gue kemarin ketemu kakak ipar."
"Lo ke semarang?" Naura.
"Enggak."
"Terus?"
"Gue ketemu Tita."
Sontak jawaban Aldi membuat Naura menegakkan tubuhnya segera. "Yang bener??"
Aldi mengangguk cepat.
"Dimana? Kenapa lo nggak bilang sama abang? Kenapa lo nggak ajakin dia balik ke rumah?" Naura dengan antusias.
"Tenang dulu." Aldi mengusap lembut lengan Naura.
"Gue liat dia dari jauh, gue nggak bisa deketin dia karena gue lagi meeting sama klien di restoran XX."
"Oh..." Naura dengan menghembuskan nafas pendek. Seketika wajahnya berubah lesu.
"Nggak usah sedih. Gue udah suruh orang buat nyari mereka berdua kok. Bentar lagi pasti ketemu."
"Mereka berdua?" Naura dengan kening mengerut.
Aldi tersenyum penuh arti.
"Iya. Gue lihat Tita sama anak laki laki umur 4 atau 5 tahun. Anak itu panggil Tita bunda. Wajahnya tiruan Tita, tapi masih kentara kalau itu anak Kennan. Gue yakin."
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1