
"Abaaaaanggggg ... ini apaan??!!" Teriakan Tita menggema di pagi hari memenuhi kamar mandi.
Kennan yang sedang berdiri di depan cermin mengepas baju seragam sekolahnya, tersenyum senang seolah merasa puas bisa mengerjai isterinya.
Beberapa saat setelah Tita berteriak, dirinya keluar dari kamar mandi dengan membalut tubuhnya yang polos dengan handuk lebar.
Emosi jiwanya yang memucuk melenyapkan rasa malu, meski dirinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk mandi yang menutupi hingga dadanya.
"Bang ...." Tita menatap tajam suaminya.
"Apa?" Kennan menyahut datar tanpa menoleh ke arah Tita yang sedang menunjukkan raut wajah kesal, melainkan memilih menatap cermin di depannya sembari merapikan surai hitamnya dengan jemari tangan.
"Maksud abang apaan ini?!" Tita bertanya dengan menunjuk deretan jejak semut merah yang mewarnai dada, leher jenjang serta sekitar gunung kembarnya yang memiliki tanda jejak merah yang merayap di sana. Kalau dilihat dengan benar seperti barisan semut api yang berjejer menunggu pembagian sembako di depan kelurahan.ππ
"Siapa suruh tidur minta dipeluk sama raja semut api." Kennan berucap sekenanya.
"Tita tidur dipeluk abang, bukan raja semut api."
"Ck ... dasar polos." Kennan berdecak. "Ini nih raja semut apinya lagi di depan lo ...."
"Abang ... bercanda mulu deh. Mana ada semut segede gaban gini." Tita tetep saja polos.
"Buktinya ada, tuh jejak gigitannya belum ilang." pandangan mata Kennan mengarah pada dada Tita yang terdapat banyak tanda merah.
"Hehehe ... ini mah abang yang bikin semalem iya kan?! Gimana bisa abang melakukannya, rapet gini?" kepala Tita sedikit menunduk mengikuti arah pandangan mata suaminya yang melihat deretan tanda merah pada dadanya.
"Bisalah ...." Kennan cuek.
"Kok semalem Tita gak ngerasa keganggu ya?!" bisa - bisanya Tita lupa dengan tujuan awalnya hendak memarahi sang raja semut api yang sudah membuat jejak merah tersebut.
"Elo sih kalau tidur kek kebo, gue ucel - ucel pun gak bangun. Malah keenakan ...."
Tita melotot mendengar ucapan suaminya yang mengatakan dirinya keenakan. Lagi - lagi Tita merasa jika suaminya itu suka menyimpulkan sendiri tentang dirinya, seolah senang dan menikmati saat mendapatkan perlakuan mesum dari Kennan.
"Abang ... mulutnya kalau ngomong seenaknya aja. Mana ada Tita keenakan, orang Tita aja gak ngerasain apa - apa semalem. Malah tidur nyenyak kok." ucapnya sedikit ketus namun tetap saja bingung memikirkan polah suaminya saat memberikan tanda jejak merah yang hampir memenuhi kulit luarnya.
"Elo tidur nyenyak itu bukti kalau elo keenakan pas gue ngukir tanda jejak petanya." Kennan tersenyum nakal.
"Ck ... abang mesti suka ngarang! Bikin Tita kesel wae ...." ucap Tita dengan bibir mengerucut.
Kennan terkekeh kecil.
"Gue gak ngarang ... itu nyata sayang. Elo harus terima kenyataan, tuh buktinya jelas kan?!" Kennan berucap kata sembari memberikan lirikan nakal pada Tita.
Tita makin mengerucutkan bibir, pun raut wajahnya semakin tertekuk kesal.
"Gimana ini cara ngilanginnya ...." Tita seolah bergumam pada dirinya sendiri sembari mengusap jejak merah dengan salah satu telapak tangannya.
"Kenapa musti diilangin ... biarin aja, lama - lama juga ilang sendiri." ucap Kennan datar.
"Kan keliatan ... malu abang ...." Tita masih berusaha menghilangkan jejak itu dengan mengusapnya berulang.
Kennan kembali tersenyum nakal. Lagi - lagi dirinya mendapatkan ide untuk mengerjai isteri polosnya.
"Elo beneran pengen tanda jejak itu ilang?" Kennan bertanya.
__ADS_1
Tita mengangguk. "Iya"
"Gue bantuin mau?" tawar Kennan dengan sudut bibir sedikit terangkat. Sepertinya Kennan bakal melakukan kelicikan pada isteri polosnya.
"Abang bisa ngilangin tandanya?" Tita bertanya dengan mata berbinar.
"Bisalah." Kennan mengangguk pasti.
"Iya ... Tita mau Bang." jawab Tita dengan antusias. Tanpa sedikitpun menyadari kelicikan suaminya.
Kennan mendudukkan dirinya pada kursi meja rias.
"Sini ... deket gue." titah Kennan pada isterinya.
Tita mengambil satu langkah maju untuk mendekati suaminya.
"Gimana bisa kalau elo berdiri kek gitu, sini duduk ...." Kennan menepuk salah satu pahanya yang terbuka saat duduk.
Dengan menepis rasa malunya Tita mengambil duduk pada paha kiri Kennan yang dekat dengan sisi meja rias, hingga Tita dapat sedikit bersandar pada tepi meja rias. Yang ada di dalam pikirnya saat ini hanya ingin membuat kulitnya bersih tanpa tanda merah seperti semula.
"Matanya merem." titah Kennan yang aneh menurut Tita, membuatnya mengernyit heran.
"Kok merem seh Bang?" tanya Tita bingung.
"Iya ... nurut aja. Bengkel ketok magic emang kek gini, gak mau orang lain tahu cara nyembuhin pasien." ucap Kennan datar dengan wajah berusaha menahan senyum.
"Heh ... ketok magic, emang Tita mobil apa ...." ucapan Tita terdengar tidak terima.
Kennan terkekeh.
Tita mengangguk. "Mau Bang."
"Cepetan merem gih."
"Tita pun langsung menutup kedua bola matanya, tanpa tahu bahaya raja semut api mengancam di depan mata. π
Kennan tersenyum penuh kemenangan saat melihat Tita menuruti keinginannya. Kedua bola mata Kennan bergerak gerak memandangi leher putih jenjang yang kontras dengan warna merah jejak semut api yang menyembur dari mulutnya semalam.
Kennan menaikkan sedikit dagu Tita yang duduk pada paha kirinya.
"Dasar polos ... mau - maunya nuruti permintaan gue."
Setelah pandangannya puas menyusuri leher jenjang Tita yang putih mulus, namun terdapat pola batik abstrak berwarna merah tersebut. Bibir Kennan mendarat pada ceruk leher Tita, dan kembali mencetak pola jejak semut merah di sana.
Perlahan bibir itu turun ke bawah, tangan kirinya menahan tubuh isterinya. Sedangkan tangan kanannya meraih ujung handuk berwarna putih yang terselip diantara dua benda kenyal mirip squisy milik isterinya.
Kennan tersenyum nakal saat mendapati dua benda kenyal itu terpampang sempurna di depan wajahnya. Sekilas Kennan memandang wajah Tita yang masih memejamkan kedua bola matanya. Kemudian dirinya kembali mendaratkan bibir kenyalnya pada lembah gunung kembar isterinya.
Perlahan bibir Kennan menyusurinya dengan menaiki dan menuruni gunung kembar itu seakan bibirnya adalah kaki para pencinta alam yang meninggalkan jejak tanda di sana.
Tangan kanan Kennan berusaha merapatkan pucuk gunung kembar kenyal yang mirip squisy tersebut untuk memudahkan dirinya menghisap pucuknya silih berganti.
Merasa apa yang dilakukan oleh suaminya membuat Tita meremang bahkan menimbulkan desahan yang tidak dapat ditahan oleh bibir mungilnya, Tita membuka matanya.
Berkali - kali mengerjap kemudian menundukkan wajahnya, Tita mendapati surat hitam Kennan menempel pada ceruk lehernya. Dan terasa gigitan - gigitan kecil di bawahnya.
__ADS_1
Tita mengernyit heran, saat merasa apa yang dilakukan suaminya seperti rutinitas mereka saat bermain mesum.
"Bang ...."
Hem ... Kennan masih saja meneruskan aktivitas mesumnya.
"Abang kok kek cium - cium Tita sih?!" ucapnya heran.
Mendengar itu mulut Kennan menghentikan aksi dari menjelajah dua gunung kembar milik Tita dan mendongak memandang wajah isterinya.
"Masak ...." Kennan tersenyum nakal dengan jemari tangan kanan yang menggantikan mengusap dan memilin pucuk squisy milik isterinya.
Tita pun menunduk sambil mendesis lirih karena efek travelingnya jemari Kennan.
"Abaangg, tu kan ... Abang bohongin Tita." ucapnya berseru sembari menegakkan kepalanya dan menatap suaminya tajam. Kedua tangannya pun menarik handuk putih yang sudah sedikit melorot dari tempatnya.
Tita mengerucutkan bibir, matanya memindai kulit dadanya yang semakin dipenuhi oleh tanda merah jejak raja semut api. Bahkan kini terlihat bagaikan jejeran pulau kecil di kepulauan seribu.
Detik berikutnya Tita mengeram. "Abang tega!! Kalau gini kan makin kelihatan ... gimana nutupinnya coba?!"
"Biarin aja gak usah ditutupin." Kennan cuek.
"Di sekolah gimana dong?" Tita kebingungan.
"Emang kenapa di sekolah?"
"Kan kelihatan Bang ... gimana kalau banyak yang lihat terus tanya macem - macem sama Tita."
Kennan terkekeh sambil menyentil kening Tita pelan.
"Dasar lemot ... ogeb dipelihara, elo kan pakek kerudung sayang. Ngapain susah - susah nyari cara buat nutupin seh."
Tita membuka mulutnya, kedua matanya pun membola.
"Astagfirullahaladzim ... kenapa Tita lupa gini sih?!" ucapnya sembari menepuk keningnya pelan.
Kennan makin terkekeh.
"Berarti dari tadi ... saran abang ... Abang bohongin Tita!!" ucapnya berseru sembari memukul - mukul dada bidang suaminya setelah menyadari kebodohannya.
"Makanya otaknya diasah biar pinter, bukan buat nonton drakor sama baca novel wae." ucap Kennan santai dan tersenyum senang tanpa berusaha menghindar dari pukulan kedua tangan ramping isterinya yang hanya terasa seperti usapan lembut.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ