Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
201. Tangan Nakal


__ADS_3

"Bang..."


"Bolehkan dek." Kennan dengan mengikis jarak keduanya saat melihat Tita tidak menyahut melainkan menunjukkan wajah malunya.


Kennan pun menautkan bibir keduanya. Melesakkan lidah menyusuri rongga mulut sang isteri yang sudah beberapa hari ini sangat dirindukannya.


Tita yang sejatinya juga sangat rindu akan sentuhan suaminya pun perlahan mengalungkan kedua tangannya pada leher Kennan. Membuat posisi nyaman untuk keduanya melepaskan rindu yang telah beberapa hari ini dibendung oleh keduanya.


Kedua wajah itu tidak berhenti bergerak saling mencari posisi nyaman keduanya saat bertautan bibir.


Perlahan satu tangan kekar Kennan menyusup punggung Tita. Mengusap lembut sembari merasakan halusnya setiap inci punggung sang istri. Tita yang merasakan usapan lembut pada punggungnya membuat kulit tubuhnya meremang. Sungguh sentuhan itu seperti sengatan listrik hingga tanpa menyadari jika tangan kekar di balik punggungnya tersebut telah membuka pengait rumah gunung kembarnya.


Erangan kecil lolos begitu saja dari bibir mungilnya, meski masih dalam kondisi saling bertautan.


"Abang geli." Tita dengan memaksa melepaskan bibirnya dari sang suami karena kembali merasakan sentuhan listrik dari salah satu tangan sang suami yang meraba bahkan meremas pucuk gunung kembarnya.


Sungguh Tita tidak dapat menahan sensasi gelenyer aneh yang selalu saja muncul saat permukaan kulitnya mendapatkan sentuhan sang suami.


"Tangannya nakal, susah dibilangin" Kennan tersenyum santai sembari melirik pada gunung kembar Tita.


Dimana tangan nakalnya itu masih saja tidak berhenti memilin dan meremas dua benda squisi di balik baju atas isterinya, membuat tubuh sang pemilik bergerak menggeliat.


Bahkan sampai saat ini tangan nakal itu masih saja bergerilya sesuka hati tanpa mau mengerti jika hal itu membuat sang pemilik hamparan gunung kembar itu meremang pada seluruh tubuhnya, hingga membuat bulu romanya berdiri.


"Abang jangan ah... lagi sakit jugak." Tita mengambil satu tangannya yang mengalung pada leher Kennan untuk menghentikan aksi tangan sang suami yang bermain pada dua gunung kembarnya.


"Gue nggak lagi sakit dek..." Kennan dengan memandang gadis di pangkuannya seolah melayangkan protes.


"Jelas jelas wajah abang lebam kek gini, masih aja ngelak." Tita dengan memandang wajah lebam itu sendu, tanpa melepaskan cengkeraman pada tangan nakal Kennan yang masih saja setia di balik baju Tita.


"Ini gak seberapa sakit, dibanding dengan elo mendiamkan gue." Kennan masih saja menggombali isteri dalam pangkuannya.


"Abang ih... bisa gak sih serius dikit."


"Gue serius kok."


"Itu ngegombal bang."


"Pyek... gak percaya." Kennan dengan menghembuskan nafas dalam seolah kecewa dengan ucapan Tita yang tidak mempercayai ucapannya, sembari mengeluarkan tangannya dari dalam baju atas sang isteri. Kennan mengeluarkannya karena merasa jika sudah tidak dapat bergerilya dengan leluasa.


"Percaya kok.... Tita percaya sama abang ganteng ini." Tita dengan mencubit kecil pipi Kennan.


Aww....


"Kok nyubit sih dek... sakit tau." Kennan mengusap pelan pipi bekas cubitan sang isteri.


"Tu sakitkan... makanya Tita obatin dulu yah... yah..." Tita membujuk Kennan.


"Gak usah, biarin aja... ntar sembuh sendiri." Kennan tetap saja menolak.


"Kalau abang mau diobatin, ntar Tita kasih hadiah deh..." Tita tidak berhenti membujuk suaminya.


"Heh... mau kasih hadiah apa... palingan juga permen doang." Kennan seakan tidak tertarik.


"Enggak lah... abang pilih sendiri deh hadiahnya."

__ADS_1


"Boleh pilih sendiri nih...?"


Tita mengangguk.


"Boleh... asal jangan yang mahal mahal." Tita dengan syarat.


"Emmm... apa ya..." Kennan pura pura berfikir, padahal apa yang diinginkannya sudah mengendap dalam otaknya, tinggal menyerukan saja.


"Apa aja deh bang... abang jangan kelamaan mikir."


"Beneran boleh apa aja...?" Kennan dengan menarik sudut bibirnya. Pasti Kennan menginginkan sesuatu yang berhubungan dengan kemesumannya.


"Iya boleh. Apa aja. Selagi Tita bisa ngasih bakalan Tita kasih bang..." Tanpa Tita sadari jika ucapannya tersebut akan menjadi bumerang bagi dirinya nanti.


"Okey... baiklah, kalau gitu elo obatin luka gue." Kennan akhirnya.


"Abang minta apa?"


"Ntar gue kasih tau kalau lo udah selesai ngobatin luka gue dek..."


"Tita ke bawah ambil kotak obatnya ya bang..." Tita dengan beranjak dari pangkat Kennan.


"Gak usah ke bawah di laci meja kerja gue ada kok." Kennan menahan pergelangan tangan isterinya.


Tita pun membalik badannya menuju meja kerja sang suami. "Kenapa gak bilang dari tadi wae seh." Tita dengan mendumel.


Kennan pun terkekeh kecil saat melihat reaksi kesal sang isteri, mengabaikan rasa perih pada sudut bibirnya yang sedikit tertarik karena kekehannya.


"Laci paling bawah dek..." Kennan saat melihat istrinya dengan sedikit menunduk hendak membuka laci paling atas.


Tita segera meraih kotak persegi berwarna putih dengan tulisan P3K disertai tanda plus merah tersebut lalu membawanya menuju sofa tempat Kennan duduk.


"Kepala abang rebahin aja di sini." Tita menepuk punggung sofa.


"Enggak di sini aja..." Kennan dengan menunjuk pangkuan Tita.


Tita mencebik.


"Lebih mudah kan dek..."


"Mudah apanya?" Tita puta pura tidak mengerti maksud sang suami.


"Mudah buat lo mengobati luka gue." Kennan datar mengalihkan jawaban saat merasa isteri cantiknya itu mengetahui akal bulusnya.


"Ck... abang pinter ngelesnya."


Hehehehe....


"Ya sudah sini kepalanya." Tita dengan menepuk pahanya. Tita memilih memenuhi keinginan sang suami, karena merasa ucapannya tidak ada salahnya.


Tita meraih kapas dari kotak P3K lalu memberi cairan kuning revanol untuk mengompres lebam pada wajah suaminya.


Usapan lembut kapas bercampur revanol tersebut membuat Kennan berkali kali menggerakkan wajahnya.


"Abang jangan gerak mulu." salah satu tangan Tita menahan kepala Kennan agar tidak bergerak.

__ADS_1


"Dingin dek..." Kennan kembali menggerakkan wajahnya, namun saat ini sedikit susah karena tangan Tita menahan kepalanya.


"Dikit lagi bang." Tita mengusapkan kapas pada sudut bibir sang suami, membuat cowok tampan itu sedikit berjengit.


"Katanya nggak sakit." Tita dengan pandangan mengejek.


"Obatnya salah." Kennan.


"Salah apanya, ini bener kok. Revanol itu membuat luka abang gak membekas nantinya. Abang mau wajah abang ada tato bekas luka..."


"Nggak."


"Makanya nurut." Tita kembali mengusap lembut sudut bibir Kennan yang lain.


"Kalau nurut gini kan cepet..." Tita dengan tersenyum puas.


"Gak kasih cium nih sama gue?" Kennan ngarep sambil menepuk pipinya dengan jari telunjuk.


"Enggak. Abang bau revanol."


"Di sini kalau gitu..." Kennan beralih menepuk bibirnya.


"Sama situ juga." Tita kekeh menolak.


"Yaudah kalau gitu gue aja yang cium." Kennan dengan segera menegakkan setengah tubuhnya hingga membuat kedua wajah itu saling berhadapan.


Tita terkesiap.


Padahal posisi seperti ini sudah berulangkali mereka lakukan, tapi tetap saja. Degub jantung Tita seolah berdetak cepat tanpa mampu dicegah olehnya.


Sedang Kennan dengan santainya menggerakkan kedua bola mata memindai wajah cantik isterinya.


"Gue lebih suka kek gini kalau berdua." Entah bagaimanana caranya Kennan telah menanggalkan pasmina milik isterinya.


Tita hanya mematung dengan detakan jantung yang seakan berlomba mengikuti lari marathon.


Tangan kekar Kennan bergerak menyisihkan anak rambut yang terurai akibat gerakan pasmina yang lepas dari kepala sang isteri.


"Kalau lo gak mau nyium gue... berarti gue aja yang nyium... iyakan dek..." Kennan dengan senyum samar.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2